Kanal24, Malang – Program Studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya mulai menyiapkan perubahan nomenklatur program studi sebagai bagian dari penyesuaian terhadap perkembangan ilmu informasi, kebutuhan pasar kerja, serta transformasi pendidikan tinggi di era digital. Langkah tersebut dibahas dalam Forum Group Discussion (FGD) Program Studi Ilmu Perpustakaan FIA UB – Perubahan Nomenklatur dari Program Studi yang digelar di Operational Room Departemen Administrasi Publik, Gedung B Lantai 5 FIA UB, Kamis (18/6/2026).
Ketua Program Studi Ilmu Perpustakaan FIA UB, Dr. Farida Nurani, S.Sos., M.Si., menjelaskan bahwa rencana perubahan nomenklatur bukan keputusan yang muncul secara tiba-tiba. Prodi telah melakukan serangkaian studi banding dan kajian untuk memastikan arah perubahan tetap relevan dengan perkembangan ilmu dan kebutuhan dunia kerja.
“Perubahan nomenklatur itu kami akan lakukan. Kami sudah melakukan studi banding, studi tiru ke beberapa universitas seperti di UNPAD, UPI yang juga merubah nomenklaturnya, dan juga ke UI dan juga ke BKN,” ujar Farida.
Dorongan Perubahan Datang dari Perkembangan Information Science
Farida menilai cara pandang masyarakat terhadap perpustakaan saat ini perlu diperbarui. Menurutnya, perpustakaan tidak lagi identik dengan ruang penyimpanan buku semata, tetapi berkembang menjadi bagian dari ekosistem pengelolaan informasi yang semakin luas.

Dr. Farida Nurani, S.Sos., M.Si. – Ketua Program Studi (Kaprodi) Ilmu Perpustakaan (Gerald/Kanal24)
“Saat ini kebutuhan untuk perpustakaan itu tidak hanya sekedar perpustakaan yang orang melihat ada gedung, buku, dan juga rak-rak yang kemudian berdebu dan ada penjaga. Tidak. Tapi perpustakaan saat ini adalah perpustakaan yang sudah banyak berubah dengan adanya perkembangan information science,” katanya.
Selain perkembangan disiplin ilmu, perubahan nomenklatur juga dipengaruhi rekomendasi hasil evaluasi akademik dan akreditasi. Salah satu masukan penting datang dari proses akreditasi internasional yang mendorong penyesuaian konten pembelajaran.
Baca Juga :
Mengapa Lulusan Tidak Dipilih Industri? Profesor University of Maryland Tantang Kampus Berani Evaluasi Diri
“Saran dari asesor akreditasi dari AquAS di Jerman waktu itu sangat menyarankan pada kami bahwa ada banyak perubahan terkait dengan mata kuliah, konten mata kuliah yang kita sajikan itu agar lebih kepada perkembangan ilmu informasi,” jelasnya.
Kurikulum dan Kompetensi Lulusan Ikut Disesuaikan
Perubahan nomenklatur, lanjut Farida, akan diikuti pembaruan capaian pembelajaran lulusan (CPL), kurikulum, dan kompetensi mahasiswa. Menurutnya, identitas program studi harus selaras dengan kemampuan yang dibawa lulusan ke dunia kerja.
“Enggak mungkin dong nomenklaturnya berubah tetapi CPL-nya atau luarannya sama. Jadi ini lebih mengikuti perkembangan ilmu information science yang semuanya saya kira terdampak terkait dengan perkembangan ilmu informasi yang sangat luar biasa,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa lulusan Ilmu Perpustakaan FIA UB saat ini telah bekerja di berbagai sektor, mulai dari arsiparis, perpustakaan, manajemen record, manajemen data hingga analisis data pada instansi pemerintah maupun swasta. Untuk memperkuat daya saing, mahasiswa juga dibekali uji kompetensi serta sertifikasi pendamping ijazah melalui Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI).
Farida menyebut proses perubahan nomenklatur kini memasuki tahap penyampaian naskah akademik dan konsultasi internal sebelum diajukan ke tingkat fakultas, universitas, hingga Majelis Wali Amanat (MWA).
“Setelah itu baru kami mendapatkan keputusan disetujui atau tidak dari MWA untuk nomenklatur yang baru,” pungkasnya. (ger)














