Kanal24, Malang – Gelombang transformasi digital, kecerdasan buatan (AI), dan perubahan kebutuhan industri berlangsung jauh lebih cepat dibanding siklus pembaruan kurikulum di banyak perguruan tinggi. Di tengah kondisi tersebut, kampus menghadapi tantangan besar: memastikan lulusan tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah. Jika terlambat beradaptasi, bukan tidak mungkin lulusan kehilangan daya saing, sementara dunia industri mencari kompetensi yang tidak lagi diajarkan di ruang kuliah.
Peringatan tersebut disampaikan Prof. Mega Subramaniam, Ph.D., Professor College of Information University of Maryland, saat menghadiri kegiatan Review Kurikulum Program Studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB) di Aula Raden Wijaya, Lantai 11 Gedung E FIA UB, Rabu (17/6/2026).
Menurutnya, evaluasi kurikulum tidak lagi cukup dilakukan lima hingga sepuluh tahun sekali. Perguruan tinggi perlu membangun mekanisme evaluasi yang lebih rutin agar mampu membaca perubahan kebutuhan industri secara lebih cepat.
Evaluasi Kurikulum Tidak Bisa Menunggu Lima Tahun
Prof. Mega menilai model evaluasi kurikulum yang dilakukan dalam rentang waktu panjang berisiko membuat kampus tertinggal dari perkembangan dunia profesional.
“Menurut saya, review kurikulum tidak seharusnya dilakukan setiap lima tahun atau sepuluh tahun sekali. Kita perlu melakukannya setiap tahun dengan berbicara kepada pemberi kerja, alumni, dan lulusan yang baru menyelesaikan program,” ujarnya.
Menurutnya, masukan dari berbagai pemangku kepentingan menjadi sumber informasi penting untuk mengetahui apakah kompetensi yang diajarkan masih sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja.
Perubahan teknologi yang cepat membuat perguruan tinggi tidak cukup hanya mengandalkan evaluasi internal. Kampus perlu terus mendengarkan suara industri, alumni, serta lulusan baru yang merasakan langsung transisi dari dunia pendidikan ke dunia kerja.
Kampus Perlu Bertanya Mengapa Lulusannya Tidak Dipilih
Bagi Prof. Mega, proses evaluasi tidak hanya dilakukan dengan mengukur keberhasilan penyerapan lulusan. Perguruan tinggi juga perlu berani melihat sisi yang jarang dibahas, yakni alasan mengapa sebagian lulusan tidak menjadi pilihan utama pemberi kerja.
“Kita perlu bertanya mengapa ada pihak yang memilih merekrut lulusan dari program lain dan bukan lulusan kita. Jangan hanya melihat keberhasilan, tetapi juga memahami alasan lulusan kita belum dipilih,” katanya.
Baca Juga :
Pelatihan Kewirausahaan Kuliner Bantu Penerima Bansos Lebih Mandiri
Ia menilai pendekatan tersebut dapat membantu kampus mengidentifikasi kesenjangan antara kompetensi yang diajarkan dengan kebutuhan nyata industri. Informasi dari pihak yang tidak memilih lulusan suatu program studi justru dapat menjadi bahan evaluasi yang berharga untuk penyempurnaan kurikulum.
Menurutnya, kurikulum yang adaptif harus dibangun berdasarkan data dan umpan balik yang jujur, bukan hanya berdasarkan asumsi atau capaian akademik semata.

Terlalu Sibuk Merayakan Keberhasilan
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Mega juga menyoroti kecenderungan institusi pendidikan yang lebih sering menampilkan keberhasilan dibanding mendiskusikan tantangan yang masih perlu diperbaiki.
“Kita harus berani mendiskusikan kegagalan yang kita hadapi dalam kurikulum, bukan hanya terus merayakan keberhasilan,” tegasnya.
Berbekal pengalaman lebih dari 25 tahun berkecimpung di dunia pendidikan tinggi Amerika Serikat, ia mendorong kampus untuk secara rutin mempertemukan pemberi kerja, alumni, pemerintah, dan lulusan dalam forum evaluasi terbuka.
Menurutnya, budaya refleksi dan evaluasi yang sehat menjadi kunci agar kurikulum dapat berkembang mengikuti perubahan kebutuhan profesi dan perkembangan teknologi.
Mendengar Mahasiswa Sebelum Mereka Lulus
Selain melibatkan industri dan alumni, Prof. Mega juga merekomendasikan penerapan exit interview yang dilakukan oleh pihak independen sebelum mahasiswa menyelesaikan studinya.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memperoleh masukan yang lebih objektif mengenai pengalaman belajar mahasiswa, kualitas pembelajaran, hingga kesiapan mereka menghadapi dunia kerja.
Dengan pendekatan tersebut, kampus dapat memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai kekuatan maupun kelemahan program pendidikan yang dijalankan.
Kegiatan Review Kurikulum Program Studi Ilmu Perpustakaan FIA UB ini menjadi bagian dari upaya fakultas untuk memastikan kurikulum tetap relevan di tengah transformasi dunia informasi yang berlangsung semakin cepat. Melalui evaluasi yang berkelanjutan dan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, FIA UB berupaya menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang. (ger/din)














