Kanal24, Malang – Segelas minuman manis, sepotong kue, atau secangkir kopi kekinian mungkin sudah menjadi bagian dari keseharian banyak orang. Di balik rasanya yang nikmat, para ahli mengingatkan adanya ancaman yang kerap luput dari perhatian. Konsumsi gula tambahan secara berlebihan dapat mengganggu kesehatan usus dengan mengubah keseimbangan mikrobioma, yakni kumpulan bakteri, virus, jamur, dan mikroorganisme lain yang hidup di saluran pencernaan.
Dampaknya pun tidak hanya berkaitan dengan obesitas atau diabetes. Ketika keseimbangan bakteri baik di dalam usus terganggu, fungsi pencernaan, sistem kekebalan tubuh, hingga metabolisme ikut terpengaruh. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko peradangan serta berbagai penyakit kronis apabila konsumsi gula tambahan tidak dikendalikan.
Baca Juga:
Hepatitis Dijuluki Silent Disease, Ini Gejala, Penyebab, dan Cara Mencegahnya
Saat Gula Mengganggu Bakteri Baik
Mikrobioma usus memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan tubuh. Selain membantu proses pencernaan, mikroorganisme di dalam usus juga berfungsi menghasilkan vitamin tertentu, memperkuat lapisan pelindung usus, serta mendukung sistem imun agar bekerja secara optimal.

Ahli gizi Kara Hochreiter menjelaskan bahwa konsumsi gula tambahan secara terus-menerus dapat mengganggu keseimbangan mikrobioma usus. Akibatnya, bakteri yang kurang menguntungkan berkembang lebih cepat, sementara jumlah bakteri baik semakin berkurang. Kondisi tersebut dikenal sebagai disbiosis, yakni ketidakseimbangan mikrobioma yang dapat memengaruhi kesehatan tubuh secara menyeluruh.
Gula tambahan berbeda dengan gula alami yang terdapat pada buah, sayuran, maupun susu. Jenis gula ini ditambahkan selama proses pengolahan makanan dan minuman, seperti gula pasir, sirup jagung, sirup beras, madu, atau pemanis lainnya untuk meningkatkan cita rasa.
Tanpa disadari, gula tambahan banyak ditemukan pada minuman berpemanis, minuman bersoda, kopi dan teh kemasan, biskuit, roti manis, sereal, saus siap saji, hingga berbagai makanan ultraolahan. Produk-produk tersebut umumnya juga rendah serat sehingga tidak mampu mendukung pertumbuhan bakteri baik di dalam usus.
Risiko Meluas ke Berbagai Penyakit
Ahli gizi Jessie Wong menyebut pola makan tinggi gula turut mengubah komposisi mikrobioma usus. Bakteri yang memanfaatkan gula sebagai sumber energi berkembang lebih cepat, sedangkan bakteri penghasil asam lemak rantai pendek, seperti butirat, justru mengalami penurunan.
Padahal, butirat berperan penting dalam menjaga kesehatan dinding usus, mengurangi peradangan, dan mendukung sistem kekebalan tubuh. Penurunan produksi senyawa tersebut membuat lapisan pelindung usus menjadi lebih rentan sehingga risiko gangguan kesehatan ikut meningkat.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa gangguan mikrobioma usus berkaitan dengan meningkatnya risiko obesitas, diabetes melitus tipe 2, hipertensi, penyakit jantung, hingga gangguan metabolisme. Kondisi tersebut semakin memperkuat bahwa kesehatan usus memiliki hubungan erat dengan kesehatan organ tubuh lainnya.
Risiko akan semakin besar apabila pola makan sehari-hari didominasi makanan tinggi gula tetapi rendah serat. Kurangnya asupan serat membuat bakteri baik kehilangan sumber nutrisi utamanya sehingga keseimbangan mikrobioma semakin sulit dipertahankan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan konsumsi gula tambahan tidak melebihi 10 persen dari total kebutuhan energi harian. Bahkan, pembatasan hingga sekitar 25 gram atau enam sendok teh per hari dinilai memberikan manfaat kesehatan yang lebih besar. Sementara itu, Kementerian Kesehatan RI juga menganjurkan konsumsi gula maksimal 50 gram atau sekitar empat sendok makan setiap hari sebagai bagian dari penerapan pola hidup sehat.
Mulai dari Kebiasaan Sehari-hari
Para ahli menilai menjaga kesehatan usus tidak selalu memerlukan cara yang rumit. Langkah paling sederhana adalah mengurangi konsumsi makanan dan minuman yang mengandung gula tambahan, kemudian memperbanyak makanan alami yang kaya serat.
Buah-buahan segar dapat menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan rasa manis karena mengandung gula alami, serat, vitamin, dan antioksidan. Selain itu, konsumsi sayuran, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, serta makanan fermentasi juga membantu memberi nutrisi bagi bakteri baik sehingga keseimbangan mikrobioma tetap terjaga.
Kebiasaan membaca informasi nilai gizi pada kemasan sebelum membeli makanan atau minuman juga penting dilakukan. Dengan cara tersebut, masyarakat dapat mengetahui kandungan gula dalam suatu produk dan lebih bijak dalam mengatur asupan gula harian.
Di tengah meningkatnya konsumsi makanan dan minuman manis, menjaga kesehatan usus dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Membatasi gula tambahan, memperbanyak konsumsi makanan berserat, serta memilih makanan segar dinilai menjadi langkah efektif untuk menjaga keseimbangan mikrobioma sekaligus menurunkan risiko berbagai penyakit kronis di masa mendatang. (gal)













