Kanal24, Malang – Di tengah derasnya arus industrialisasi peternakan dan dominasi unggas komersial, keberadaan ayam pelung sebagai salah satu plasma nutfah unggas lokal Indonesia menghadapi tantangan yang tidak ringan. Populasinya bergantung pada komunitas peternak dan penghobi, sementara regenerasi pelaku usaha serta upaya pelestarian masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Jika tidak dijaga secara berkelanjutan, ayam pelung berisiko kehilangan daya tarik ekonomi sekaligus nilai budayanya sebagai warisan genetik unggas nusantara.
Berangkat dari tantangan tersebut, Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan (FAST) Universitas Brawijaya (UB) menjajaki kerja sama dengan Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Peternak Penggemar Ayam Pelung Indonesia (DPD HIPPAPI) Malang melalui penyelenggaraan Kontes Ayam Pelung Dekan Cup. Kegiatan ini menjadi momentum penting karena untuk pertama kalinya FAST UB terlibat sebagai penyelenggara kontes ayam pelung.
Rencana penyelenggaraan kontes dibahas dalam pertemuan yang berlangsung di Ruang Rapat Dekanat FAST UB, Rabu (17/6/2026). Pertemuan tersebut dihadiri Dekan FAST UB Prof. Dr. Ir. Muhammad Halim Natsir, S.Pt., M.P., IPM., ASEAN Eng., Wakil Dekan II FAST UB Dr. Ir. Agus Susilo, S.Pt., M.P., IPM., ASEAN Eng., Prof. Dr. Siti Azizah, S.Pt., M.Sos., M.Commun. selaku Tim Doktor Mengabdi Universitas Brawijaya Tahun 2026 yang diketuai oleh Prof. Dr. Sukarmi, S.H., M.Hum., serta perwakilan DPD HIPPAPI Malang Prayudi dan Jaelani.
Prof. Halim Natsir menilai penyelenggaraan Dekan Cup dapat menjadi langkah strategis untuk memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan komunitas peternak dalam menjaga keberlanjutan ayam pelung.
“Kegiatan ini dapat menjadi titik awal kerja sama yang lebih luas antara FAST UB dan HIPPAPI dalam pengembangan ayam pelung sebagai plasma nutfah unggas lokal yang memiliki nilai budaya dan ekonomi,” ujarnya.
Menurutnya, pelestarian ayam pelung tidak hanya berkaitan dengan menjaga sumber daya genetik lokal, tetapi juga membuka peluang pengembangan ekonomi berbasis peternakan yang memiliki karakteristik dan keunggulan tersendiri.
Senada dengan itu, Dr. Agus Susilo melihat kontes ayam pelung memiliki potensi berkembang menjadi agenda tahunan fakultas. Selain menjadi wadah pelestarian, kegiatan tersebut juga dapat mempertemukan akademisi, peternak, penghobi, dan berbagai pemangku kepentingan dalam satu ekosistem yang saling mendukung.
“Ke depan kegiatan ini berpotensi menjadi agenda berkelanjutan yang tidak hanya memperkuat pelestarian ayam pelung, tetapi juga memperluas jejaring kolaborasi antarstakeholder,” katanya.
Sementara itu, perwakilan DPD HIPPAPI Malang, Prayudi, berharap keterlibatan perguruan tinggi mampu menghadirkan solusi atas berbagai tantangan yang selama ini dihadapi peternak ayam pelung. Mulai dari peningkatan produktivitas, kualitas ternak, hingga penguatan keberlanjutan usaha.
Menurutnya, kolaborasi antara dunia akademik dan komunitas peternak menjadi penting agar pengembangan ayam pelung tidak hanya bertumpu pada tradisi, tetapi juga didukung riset dan inovasi yang aplikatif.
Dekan Cup ini diharapkan menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali potensi ayam pelung kepada masyarakat luas. Dengan nilai ekonomi yang terus berkembang serta daya tarik budaya yang kuat, ayam pelung dinilai memiliki peluang menjadi bagian dari penguatan ekonomi berbasis sumber daya lokal.
Inisiatif ini juga sejalan dengan komitmen Universitas Brawijaya dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pengentasan kemiskinan, penciptaan pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, serta pelestarian ekosistem daratan melalui perlindungan keanekaragaman hayati lokal.
Melalui kolaborasi FAST UB dan HIPPAPI Malang, penyelenggaraan Kontes Ayam Pelung Dekan Cup diharapkan tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga langkah nyata menjaga keberlanjutan plasma nutfah unggas lokal sekaligus memperkuat kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor peternakan rakyat. (din)














