Kanal24, Malang – Di tengah persaingan ribuan perguruan tinggi dunia yang semakin ketat, mempertahankan posisi saja sudah menjadi tantangan. Karena itu, ketika Universitas Brawijaya (UB) melonjak 64 peringkat dalam QS World University Rankings (QS WUR) 2027 dan menempati posisi ke-616 dunia, capaian tersebut bukan sekadar soal angka. Di balik kenaikan itu tersimpan pertanyaan yang lebih besar: apakah UB semakin dekat menuju kelompok universitas kelas dunia, atau justru baru memasuki babak kompetisi yang lebih berat?
QS World University Rankings 2027 mengevaluasi 8.808 institusi dari 106 negara dan wilayah, meningkat dibanding edisi sebelumnya yang melibatkan 8.467 institusi. Dari jumlah tersebut, hanya 1.504 universitas yang masuk dalam daftar pemeringkatan resmi. Dalam lanskap kompetisi global yang semakin padat itulah UB mencatat salah satu lonjakan paling signifikan di antara Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) Indonesia.
Wakil Rektor Bidang Akademik UB, Prof. Imam Santoso, menyebut capaian ini menjadi penting karena tidak seluruh PTNBH mengalami tren positif pada tahun ini.
“Di antara PTNBH, UB mencatatkan kenaikan tertinggi hingga 64 poin. Beberapa PTNBH ada yang naik, namun ada juga yang justru mengalami penurunan posisi,” ujarnya, Kamis (18/6/2026).
Reputasi Akademik Menjadi Mesin Utama Kenaikan
Jika ditelusuri lebih dalam, penggerak terbesar kenaikan peringkat UB berasal dari indikator Academic Reputation, komponen dengan bobot tertinggi dalam metodologi QS.
Pada indikator ini, UB naik dari peringkat 404 dunia menjadi 367 dunia. Skornya meningkat dari 30,1 menjadi 33,4. Dengan kontribusi lebih dari sepertiga total skor universitas, peningkatan reputasi akademik menjadi sinyal bahwa pengakuan komunitas akademik internasional terhadap kualitas pendidikan, penelitian, dan kontribusi keilmuan UB semakin kuat.
Di dunia pemeringkatan global, reputasi akademik bukan sekadar popularitas. Indikator ini dibangun dari persepsi akademisi internasional terhadap kualitas institusi berdasarkan aktivitas riset, publikasi, kolaborasi ilmiah, dan dampak keilmuan yang dihasilkan.
Artinya, kenaikan posisi UB tidak hanya didorong oleh faktor administratif, tetapi juga oleh meningkatnya visibilitas akademik di tingkat internasional.
Lulusan UB Masih Menjadi Kekuatan
Selain reputasi akademik, kekuatan lain yang terus dipertahankan UB adalah Employer Reputation atau reputasi lulusan di mata dunia kerja.
Pada QS WUR 2027, UB berada di peringkat 223 dunia untuk indikator ini dengan skor 53,3. Posisi tersebut menunjukkan bahwa lulusan UB masih memiliki tingkat penerimaan yang tinggi di kalangan industri, dunia usaha, pemerintahan, maupun organisasi profesional.
Secara keseluruhan, Academic Reputation dan Employer Reputation menyumbang lebih dari 60 persen capaian skor UB.
Fakta ini menunjukkan satu hal penting: pengakuan terhadap kualitas lulusan dan reputasi akademik masih menjadi modal terbesar UB dalam membangun daya saing global.
Kampus Semakin Internasional
Perubahan lain yang cukup menonjol terlihat pada indikator International Faculty. UB naik 60 peringkat, dari posisi 531 dunia menjadi 471 dunia. Skornya melonjak dari 35,9 menjadi 49,6.
Peningkatan ini mengindikasikan semakin banyak akademisi internasional yang terlibat dalam kegiatan mengajar, meneliti, dan berkolaborasi di UB. Dalam konteks pendidikan tinggi global, keberadaan dosen internasional tidak hanya meningkatkan reputasi, tetapi juga membuka peluang publikasi bersama, mobilitas akademik, pengembangan kurikulum internasional, dan perluasan jejaring penelitian.
Ketua UPT Global Partnership and Reputation UB, Hendrix Yulis Setyawan, juga mencatat perbaikan pada indikator rasio dosen dan mahasiswa.
“Rasio dosen dan mahasiswa semakin baik,” ujarnya.
Menurut Hendrix, rasio tersebut meningkat dari 11,3 menjadi 13,2 dosen per 100 mahasiswa, lebih tinggi dibanding median global yang berada pada angka 7,7 dosen per 100 mahasiswa.
Kondisi tersebut memberikan peluang lebih besar bagi peningkatan kualitas pembelajaran, pendampingan mahasiswa, serta interaksi akademik yang lebih intensif.
Produktif Meneliti, Tetapi Dampak Sitasi Masih Menjadi PR
Meski banyak indikator mengalami peningkatan, laporan QS juga menunjukkan pekerjaan rumah yang masih harus diselesaikan UB.
Jumlah publikasi yang digunakan dalam perhitungan QS meningkat hampir 10 persen, dari sekitar 8.443 menjadi 9.259 publikasi. Sementara jumlah sitasi meningkat lebih dari 31 persen, dari sekitar 28.941 menjadi 37.981 sitasi.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan produktivitas penelitian UB terus meningkat di berbagai bidang, mulai dari Life Sciences and Medicine, Engineering and Technology, hingga Social Sciences and Management.
Namun indikator Citations per Faculty masih berada pada kelompok peringkat 801+ dunia. Dengan kata lain, tantangan UB saat ini bukan lagi menghasilkan lebih banyak publikasi, tetapi meningkatkan dampak dan pengaruh publikasi tersebut di tingkat internasional.
Dalam dunia akademik global, kualitas riset sering kali diukur dari seberapa sering karya ilmiah dirujuk oleh peneliti lain. Karena itu, peningkatan sitasi, publikasi di jurnal bereputasi tinggi, dan kolaborasi internasional menjadi agenda strategis yang tidak bisa dihindari.
Menuju 500 Besar Dunia, Apa yang Masih Kurang?
Meski berhasil naik ke posisi 616 dunia, UB masih menghadapi sejumlah tantangan untuk menembus kelompok 500 besar dunia.
Indikator mahasiswa internasional masih berada pada kelompok 801+ dunia. Begitu pula indikator International Research Network yang masih berada di bawah median global.
Selain itu, indikator Employment Outcomes mengalami penurunan dari peringkat 567 menjadi 690 dunia. Temuan ini menjadi masukan penting bagi universitas untuk memperkuat tracer study, hubungan dengan dunia kerja, pengembangan kompetensi mahasiswa, serta dokumentasi kontribusi alumni.
Tantangan tersebut menunjukkan bahwa perjalanan menuju universitas kelas dunia tidak cukup hanya dengan meningkatkan jumlah publikasi atau memperbaiki peringkat tahunan. Yang dibutuhkan adalah penguatan ekosistem internasionalisasi secara menyeluruh.
UB Terus Bergerak
Kenaikan 64 peringkat dalam QS WUR 2027 memang menjadi capaian penting bagi Universitas Brawijaya. Namun yang lebih menarik adalah apa yang berada di balik angka tersebut.
Peningkatan reputasi akademik, pengakuan dunia kerja terhadap lulusan, internasionalisasi dosen, hingga pertumbuhan produktivitas penelitian menunjukkan bahwa UB sedang bergerak ke arah yang tepat.
Di saat yang sama, hasil QS juga menjadi cermin yang menunjukkan area-area yang masih perlu diperkuat.
Karena pada akhirnya, pemeringkatan global bukan hanya tentang posisi di tabel dunia. Ia menjadi ukuran sejauh mana sebuah universitas mampu menghasilkan pengetahuan, membangun jejaring internasional, dan memberikan dampak yang diakui oleh komunitas global.
Dan dengan posisi ke-616 dunia saat ini, pertanyaan berikutnya bukan lagi apakah UB mampu naik peringkat, melainkan seberapa cepat universitas ini dapat menembus kelompok 500 besar dunia. (din)














