Kanal24, Malang – Hipertensi, diabetes, hingga berbagai gangguan metabolik yang selama ini identik dengan kelompok usia lanjut kini mulai banyak ditemukan pada kalangan muda. Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS UB, Dr. Aditya Satriya Nugraha, Sp.PD, mengungkapkan fenomena tersebut semakin sering ditemui dalam praktiknya, menunjukkan bahwa penyakit kronis kini tidak lagi menunggu seseorang memasuki usia senja.
Menurutnya, perubahan pola hidup menjadi faktor utama di balik pergeseran tersebut. Kemudahan teknologi yang membuat aktivitas semakin praktis, minimnya aktivitas fisik, hingga kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak menjadi kombinasi yang mempercepat munculnya berbagai penyakit metabolik pada Generasi Z. Kondisi ini, kata dia, menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan perlu dimulai sejak usia muda, bukan ketika penyakit sudah muncul.
Baca juga:
Mahasiswa Prancis Kagum Riset Pertanian UB, Sebut Layak Jadi Inspirasi
Gaya Hidup Modern Ubah Pola Penyakit
Aditya menjelaskan, perubahan pola penyakit yang terjadi saat ini tidak lepas dari perkembangan teknologi yang membuat hampir seluruh aktivitas dapat dilakukan tanpa banyak bergerak. Mulai dari bekerja, belajar, hingga memesan makanan kini cukup dilakukan melalui telepon pintar atau komputer.
“Yang jelas sekarang kita mengalami era di mana kemudahan itu sangat masif. Mudah mendapatkan makanan, mudah memilih moda transportasi, sehingga kita tidak lagi sadar terhadap aktivitas fisik maupun makanan yang kita konsumsi,” ujarnya.

Ia menilai kondisi tersebut membuat masyarakat semakin jarang melakukan aktivitas fisik. Sementara di sisi lain, konsumsi makanan tinggi kalori terus meningkat. Ketidakseimbangan antara energi yang masuk dan yang dibakar tubuh akhirnya memicu penumpukan lemak yang berujung pada obesitas serta berbagai penyakit metabolik.
Menurut Aditya, kebiasaan sederhana seperti berjalan kaki atau rutin berolahraga kini mulai tergeser oleh pola hidup yang serba instan. Padahal, tubuh manusia membutuhkan aktivitas fisik agar metabolisme tetap bekerja dengan baik.
Hipertensi hingga Diabetes Muncul Lebih Dini
Pergeseran gaya hidup tersebut tercermin dari jenis keluhan yang semakin sering ditemui di ruang praktik. Aditya mengaku kini lebih banyak menangani pasien muda yang datang dengan tekanan darah tinggi maupun kadar gula darah yang meningkat.
Meski belum tentu langsung didiagnosis sebagai penyakit kronis, kondisi tersebut merupakan sinyal awal adanya gangguan metabolik yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Selain itu, keluhan nyeri otot dan persendian juga semakin banyak dialami anak muda akibat kurangnya aktivitas fisik.
“Kalau terlalu banyak menumpuk kalori, itu bisa menyebabkan obesitas, tekanan darah tinggi, diabetes atau gula darah tinggi yang akhirnya menimbulkan komplikasi yang lebih berat,” jelasnya.
Tak hanya kesehatan fisik, Aditya juga melihat meningkatnya keluhan kesehatan mental pada kelompok usia muda, seperti kecemasan dan depresi. Karena itu, ia mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan self diagnosis hanya berdasarkan informasi yang diperoleh dari media sosial atau internet.
“Kalau merasa memiliki keluhan, jangan langsung menyimpulkan penyakit sendiri. Periksakan kepada ahlinya supaya diagnosisnya tepat dan terapinya juga sesuai,” katanya.
Mager Jadi Ancaman yang Sering Diabaikan
Di balik meningkatnya kasus penyakit kronis pada Generasi Z, Aditya menilai ada satu kebiasaan yang kerap dianggap sepele, yakni malas bergerak atau mager. Padahal, tubuh manusia pada dasarnya dirancang untuk aktif bergerak setiap hari.
Ketika aktivitas fisik terus menurun sementara asupan makanan tinggi kalori tidak dikendalikan, tubuh akan menyimpan kelebihan energi dalam bentuk lemak. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut menjadi pintu masuk berbagai penyakit kronis, mulai dari obesitas, hipertensi, diabetes, hingga penyakit jantung.
Karena itu, ia mengajak Generasi Z mulai mengubah kebiasaan sehari-hari melalui langkah sederhana, seperti memperbanyak berjalan kaki, rutin berolahraga, menggunakan tangga, serta memilih makanan bergizi seimbang atau real food dibandingkan makanan olahan yang tinggi gula, garam, dan lemak.
“Manusia itu harus bergerak. Perbanyak aktivitas fisik dan pilih makanan yang baik serta bergizi seimbang. Jangan terlalu mudah tergoda makanan tinggi kalori karena itu menjadi awal munculnya berbagai penyakit,” tuturnya.
Aditya berharap generasi muda tidak menunggu sakit untuk mulai menjalani pola hidup sehat. Menurutnya, kesehatan merupakan investasi jangka panjang yang dibangun dari kebiasaan sehari-hari. Di tengah kemajuan teknologi yang menawarkan berbagai kemudahan, kemampuan menjaga keseimbangan antara aktivitas fisik, pola makan sehat, serta kesehatan mental menjadi kunci agar Generasi Z tetap produktif dan terhindar dari penyakit kronis di masa depan.(ffn)













