Kanal24, Malang – Di tengah banjir standar “hidup sempurna” di media sosial yang bikin Gen Z makin mudah merasa kurang, ratusan mahasiswa Universitas Brawijaya justru diajak membongkar rasa insecure mereka sendiri. Lewat Make Over Campus Tour bertema “On Your Frame”, kampus disulap jadi ruang refleksi untuk keluar dari jebakan perbandingan sosial, dan membangun ulang kepercayaan diri dari cara pandang yang lebih sehat, realistis, dan autentik.
Ketua pelaksana acara, Adidharma Dewabrata Kusumaputra, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya agenda kolaborasi brand, tetapi juga ruang edukasi bagi Gen Z.
Ia menjelaskan, “Ini merupakan salah satu event kolaborasi antara ISC Universijaya dengan Make Over,” yang bertujuan mendorong mahasiswa lebih percaya diri dalam mengekspresikan diri.

Ia menambahkan bahwa tema “On Your Frame” berangkat dari gagasan bahwa seseorang perlu memahami dirinya sebelum menghadapi dunia luar. “Before you conquer the world, you have to conquer yourself terlebih dahulu,” ujarnya.
Menurutnya, kesadaran diri menjadi fondasi utama dalam membangun rasa percaya diri yang stabil di tengah tekanan sosial.
Sementara itu, pembicara utama Nabila Zain menyoroti bagaimana tekanan digital memperkuat rasa insecure di kalangan Gen Z. Ia menyampaikan,

“Kalau sekarang kita tuh bisa mengantongi 1 juta kehidupan orang lain hanya dari satu gadget,” yang menurutnya membuat proses perbandingan sosial terjadi secara masif dan tidak terkendali.
Ia juga menekankan pentingnya konsep “own your frame”, yakni cara individu menilai dirinya tanpa terjebak perspektif orang lain. Menurutnya, banyak masalah psikologis bermula dari lapisan yang tidak terlihat sehingga perlu diurai dari akar, bukan hanya gejala di permukaan.
Dari sisi perspektif sosial dan komunikasi, content creator Zenobi menambahkan bahwa kepercayaan diri sangat dipengaruhi lingkungan yang mendukung. Ia menilai, proses menjadi percaya diri tidak terjadi secara instan, melainkan bertahap dan sangat dipengaruhi ruang sekitar.
“Dengan lingkungan yang suportif itu ngebantu nge-boost juga gimana aku bisa PD untuk nge-upload di sosial media,” ujarnya. Zenobi juga menekankan bahwa perbedaan seharusnya tidak dianggap sebagai kekurangan. “Kalau berbeda itu sebenarnya unik,” katanya, menyoroti pentingnya mengubah stigma bahwa berbeda berarti buruk.
Acara ini menghadirkan tiga rangkaian utama, yakni seminar, talk show, dan beauty class. Seminar dan talk show membahas isu kepercayaan diri serta kesehatan mental, sementara sesi beauty class menjadi ruang praktik untuk eksplorasi diri secara lebih personal dan aplikatif.
Tercatat lebih dari 150 mahasiswa mengikuti kegiatan ini, dengan mayoritas berasal dari Universitas Brawijaya. Antusiasme peserta terlihat dari penuhnya kuota beauty class yang hanya dibatasi 30 orang.
Adidharma berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai acara seremonial. “Saya harap mereka menjadi lebih percaya diri di lingkungan mana pun, baik di organisasi, kampus, maupun kelas,” ujarnya. (qrn)














