Kanal24, Malang – Keberadaan ikan sapu-sapu di perairan Indonesia semakin meluas dan tak lagi hanya ditemukan di kawasan perkotaan seperti Jabodetabek. Temuan populasi ikan ini di aliran Sungai Brantas, Jawa Timur, menjadi sinyal bahwa penyebarannya telah menjangkau berbagai wilayah dan berpotensi memengaruhi keseimbangan ekosistem perairan.
Di tengah kekhawatiran tersebut, para peneliti melihat sisi lain yang jarang dibahas. Dengan tingkat reproduksi yang tinggi serta kandungan nutrisi yang cukup baik, ikan sapu-sapu dinilai memiliki peluang untuk dimanfaatkan sebagai sumber pangan alternatif apabila dikelola secara tepat dan berbasis kajian ilmiah.
Baca juga:
Di Tengah Tekanan Ekonomi, Dekan FPIK UB Ingatkan Indonesia Belum Serius Menjaga Potensi Laut
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya, Prof. Sukoso, menilai persoalan utama bukan hanya peningkatan jumlah populasi, melainkan luasnya persebaran ikan sapu-sapu di berbagai perairan.

“Kalau saya melihat pertama bukan lonjakan saja, tetapi sebarannya. Artinya sebarannya sudah sangat luas sekali,” ujarnya.
Menurutnya, ikan sapu-sapu umumnya banyak ditemukan di wilayah perairan dengan tingkat pencemaran yang tinggi, terutama di kawasan sungai. Meski demikian, kondisi tersebut belum dapat dijadikan dasar bahwa ikan sapu-sapu telah mendominasi seluruh ekosistem perairan secara jumlah.
“Kebanyakan pada wilayah dengan polusi yang sangat tinggi,” jelasnya.
Prof. Sukoso mengingatkan bahwa ancaman terbesar dari keberadaan ikan sapu-sapu terletak pada kemampuan reproduksinya yang sangat cepat. Kondisi ini berpotensi memunculkan persaingan dengan ikan-ikan lokal dalam memperebutkan ruang hidup maupun sumber makanan.
“Faktor reproduksinya yang sangat cepat pasti akan berkompetisi dengan jenis ikan-ikan lokal,” tegasnya.
Meski sering dianggap sebagai hama perairan, ia menilai ikan sapu-sapu bukanlah predator yang secara langsung memangsa ikan lain. Secara biologis, spesies ini bukan termasuk ikan karnivora.
“Dia sebenarnya tidak mengonsumsi langsung atau menjadi predator langsung pada ikan-ikan lokal, tetapi bisa jadi kompetitor,” ungkapnya.
Di sisi lain, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu memiliki kandungan nutrisi yang cukup baik. Kandungan asam amino dan asam lemaknya dinilai berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pangan maupun produk olahan lainnya.
Bahkan, kualitas daging ikan tersebut disebut memiliki karakteristik yang cukup menarik.
“Warna dagingnya cenderung mendekati seperti warna daging sapi,” katanya.
Melihat potensi tersebut, Prof. Sukoso mendorong agar ikan sapu-sapu tidak semata-mata dipandang sebagai masalah lingkungan, melainkan juga peluang ekonomi yang dapat dikembangkan secara terukur.
“Kalau memang reproduksinya cepat, kenapa tidak dimuliakan saja, dijadikan produk yang dibudidayakan dan dikontrol dengan baik,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pengembangan pemanfaatan ikan sapu-sapu harus didasarkan pada riset yang memadai. Setiap spesies ikan memiliki karakteristik biologis yang berbeda sehingga memerlukan pendekatan budidaya yang sesuai.
Selain itu, ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan melepaskan ikan peliharaan ke perairan umum karena dapat mempercepat penyebaran spesies invasif.
“Kalau sudah bosan, jangan dibuang di sungai,” tegasnya.
Sebagai langkah pencegahan, ia menyarankan ikan yang tidak lagi dipelihara dimanfaatkan atau dimusnahkan dengan cara yang benar.
“Sebaiknya solusinya jangan dibuang ke perairan umum, tetapi dimatikan kemudian dikubur dengan baik,” pungkasnya.
Fenomena penyebaran ikan sapu-sapu di Sungai Brantas menunjukkan bahwa spesies ini menghadirkan dua sisi sekaligus: tantangan bagi ekosistem perairan dan peluang pemanfaatan ekonomi. Dengan pengelolaan berbasis ilmu pengetahuan, ancaman yang muncul dapat diminimalkan sekaligus membuka potensi baru bagi sektor perikanan.














