Kanal24, Malang – Di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang konsisten berada di kisaran 5 persen dalam beberapa tahun terakhir, muncul pertanyaan yang semakin relevan bagi masyarakat: mengapa kemiskinan dan kerentanan ekonomi masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya teratasi?
Pertanyaan tersebut disampaikan Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) 2026 di Bangkalan, Jawa Timur. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang terus berlangsung seharusnya dapat diikuti oleh peningkatan kesejahteraan masyarakat secara lebih merata.
Prabowo menyoroti fakta bahwa ekonomi Indonesia disebut tumbuh sekitar 5 persen setiap tahun dalam beberapa tahun terakhir. Jika pertumbuhan tersebut diakumulasikan, kapasitas ekonomi nasional seharusnya meningkat secara signifikan. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan masih banyak masyarakat yang menghadapi tekanan ekonomi dan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.
Baca juga:
Kemhan Butuh Rp667 Triliun pada 2027, Anggaran Pertahanan Terancam Jauh dari Kebutuhan
Menurut Prabowo, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari angka pertumbuhan ekonomi semata. Yang lebih penting adalah sejauh mana pertumbuhan tersebut mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan mengurangi jumlah warga yang hidup dalam kondisi rentan.
Pertumbuhan Ekonomi dan Tantangan Pemerataan
Prabowo menilai tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan hanya menciptakan pertumbuhan ekonomi, tetapi memastikan manfaat pertumbuhan tersebut dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Ia menegaskan bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah dan potensi ekonomi yang besar. Karena itu, kekayaan nasional seharusnya dapat diterjemahkan menjadi peningkatan kesejahteraan rakyat, termasuk melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan, serta akses yang lebih luas terhadap pendidikan dan layanan kesehatan.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan kehilangan makna apabila tidak diikuti oleh perbaikan kondisi hidup masyarakat secara nyata.
Kelas Menengah Jadi Perhatian
Selain persoalan kemiskinan, Prabowo juga menyoroti kondisi kelas menengah yang menjadi salah satu motor penggerak perekonomian nasional. Kelompok ini memiliki peran penting dalam menjaga konsumsi domestik, yang selama ini menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Ketika daya beli masyarakat melemah atau jumlah kelas menengah menyusut, dampaknya dapat dirasakan pada berbagai sektor ekonomi. Karena itu, penguatan kelas menengah dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional.
Prabowo menekankan bahwa pembangunan ekonomi harus mampu menciptakan peluang yang lebih luas bagi masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup dan keluar dari kondisi rentan.
Fokus pada Kesejahteraan Rakyat
Pemerintah, lanjut Prabowo, akan terus mendorong berbagai program yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Ia menegaskan bahwa tujuan akhir pembangunan bukan sekadar menghasilkan angka pertumbuhan yang tinggi, melainkan memastikan hasil pembangunan dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat.
Karena itu, pengurangan kemiskinan, perluasan kesempatan kerja, peningkatan produktivitas, dan penguatan kelas menengah menjadi bagian penting dari agenda pembangunan nasional ke depan.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat harus berjalan beriringan. Bagi pemerintah, tantangan berikutnya adalah memastikan setiap capaian ekonomi dapat diterjemahkan menjadi manfaat yang dirasakan langsung oleh rakyat di berbagai daerah. (nid)














