Kanal24, Malang – Di tengah tantangan rendahnya minat baca dan ketimpangan akses pendidikan, kehadiran ruang-ruang belajar alternatif menjadi semakin krusial. Tidak hanya sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan masyarakat yang mampu menjawab kebutuhan literasi di tingkat akar rumput. Ruang Belajar Aqil hadir sebagai salah satu inisiatif nyata yang mengisi celah tersebut melalui pendekatan berbasis komunitas.
Didirikan sejak 2016, lembaga non-profit ini bergerak dalam bidang sosial dan pendidikan dengan fokus utama pada pemberdayaan pemuda dan peningkatan kualitas literasi anak. Dengan melibatkan relawan dari kalangan mahasiswa hingga masyarakat umum, Ruang Belajar Aqil membangun ekosistem belajar yang inklusif dan berkelanjutan.
Head of Library Ruang Belajar Aqil, Ari Setiawan, menjelaskan bahwa lembaga ini memang dirancang sebagai wadah pengabdian sosial.

“Ruang Belajar Aqil itu lembaga not for profit. Jadi memang lembaga yang fokusnya pada sosial, pemberdayaan masyarakat, pemberdayaan pemuda, dan kami punya perpustakaan atau taman baca masyarakat di sini,” ujarnya.
Fokus utama kegiatan mereka adalah intervensi terhadap berbagai persoalan sosial melalui literasi dan edukasi. Ari menambahkan, pihaknya aktif melibatkan generasi muda untuk turun langsung ke masyarakat.
“Fokus kami sebenarnya di pemberdayaan itu ya. Jadi memang menggerakkan, melibatkan teman-teman muda entah itu mahasiswa atau yang lain-lain, kemudian melakukan kegiatan-kegiatan di masyarakat seperti kegiatan literasi dan lokakarya,” jelasnya.
Program yang dijalankan tidak hanya terpusat di satu lokasi. Ruang Belajar Aqil secara rutin mengadakan kegiatan membaca di sekolah-sekolah setiap pekan. Buku-buku dibawa langsung ke siswa untuk menciptakan pengalaman membaca yang lebih dekat dan menyenangkan.
“Kalau kegiatan yang rutin biasanya setiap pekan kami ada kegiatan sesi membaca ke sekolah. Jadi bawa buku ke sekolah, terus mereka baca bersama, sama kami bacakan juga,” kata Ari.
Selain itu, inovasi juga dilakukan dengan menghadirkan pelatihan berbasis teknologi. Salah satunya adalah pelatihan kecerdasan buatan (AI) untuk guru agar dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa literasi yang dibangun tidak hanya sebatas membaca, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan zaman.

Namun, sebagai lembaga non-profit, tantangan utama yang dihadapi adalah keberlanjutan operasional. Ari mengakui bahwa dukungan masyarakat menjadi faktor kunci. “Tantangan yang pertama gimana caranya lembaga ini tetap berjalan ya karena lembaga nonprofit. Jadi kami hidup itu dari dukungan masyarakat, entah dari donasi atau keterlibatan sebagai relawan,” ungkapnya.
Meski demikian, dampak yang dihasilkan sudah mulai terlihat. Anak-anak yang menjadi sasaran utama program menunjukkan perubahan signifikan dalam minat baca dan partisipasi belajar.
“Salah satu dampaknya yang paling utama mereka jadi senang membaca. Bahkan sampai membenahi perpustakaannya,” tambah Ari.
Ke depan, Ruang Belajar Aqil berharap semakin banyak pihak yang terlibat dalam gerakan literasi ini. “Harapannya semoga ada lebih banyak orang yang lebih peduli untuk membantu masyarakat supaya saling berdaya, salah satunya melalui peningkatan kualitas pendidikan,” pungkasnya. (qrn)













