Kanal24, Malang – Di tengah menjamurnya berbagai ajang duta pelajar yang identik dengan penampilan dan kemampuan berbicara di atas panggung, Putra Putri Siswa Jawa Timur (PPSJT) 2026 memilih menghadirkan konsep berbeda. Kompetisi ini menempatkan karakter, nilai diri (value), dan kontribusi nyata kepada masyarakat sebagai tolok ukur utama dalam membentuk generasi muda berprestasi.
Komitmen tersebut disampaikan National Director Putra Putri Siswa Nusantara, Arbain Al-Azhar, usai Grand Final Putra Putri Siswa Jawa Timur 2026 yang berlangsung di Hall UB TV, Gedung Rektorat Universitas Brawijaya, Sabtu (27/6/2026).
Menurut Arbain, ajang yang mengusung kampanye “Muda Berprestasi, Muda Menginspirasi” ini tidak sekadar mencari sosok pelajar yang memiliki penampilan menarik, melainkan mereka yang memiliki potensi untuk berkembang dan memberi dampak positif bagi lingkungan sekitar.
“Prestasi ingin kami jadikan budaya. Yang membedakan kami dengan ajang serupa bukan hanya soal personality, tetapi bagaimana kami mengembangkan value setiap anak. Kami ingin mereka memiliki identitas dan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Baca juga:
Grand Final Putra Putri Siswa Jawa Timur 2026 Sukses Digelar, Ini Daftar Juara SMP dan SMA

Setiap Anak Punya Potensi yang Berbeda
Arbain menjelaskan, setiap peserta memiliki keunggulan yang berbeda sehingga proses pembinaan tidak dilakukan dengan pendekatan yang sama.
Jika seorang peserta memiliki bakat di bidang seni tari, misalnya, panitia akan membantu mengarahkan dan memfasilitasi potensi tersebut melalui berbagai kesempatan pengembangan prestasi. Begitu pula peserta yang memiliki kemampuan di bidang kepemimpinan, komunikasi, akademik, maupun sosial.
Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi pembeda utama Putra Putri Siswa Jawa Timur dibandingkan kompetisi sejenis.
“Saya tidak pernah memaksakan semua peserta harus bisa catwalk. Kalau memang kelebihannya bukan di situ, kami akan membantu mengembangkan potensi terbaik yang mereka miliki. Yang paling penting adalah mereka punya value.”
Pembinaan Tidak Berhenti pada Materi Kelas
Konsep pembinaan dalam Putra Putri Siswa Jawa Timur juga dirancang lebih aplikatif.
Pada tahap prakarantina, para finalis memperoleh materi dasar seperti public speaking, personal branding, dan pengembangan karakter.
Namun saat memasuki masa karantina, seluruh peserta mulai menerapkan ilmu yang diperoleh melalui berbagai simulasi, diskusi, hingga praktik langsung.
“Prakarantina lebih banyak soft material seperti public speaking dan personal branding. Ketika masuk karantina, kami fokus pada praktik sehingga peserta benar-benar mengalami proses pembelajaran,” jelas Arbain.
Youth Assembly, Belajar Menyelesaikan Persoalan Bangsa
Salah satu program unggulan yang diterapkan dalam Putra Putri Siswa Jawa Timur adalah Nusantara Youth Assembly.
Melalui program ini, peserta diajak mempelajari berbagai persoalan yang dihadapi setiap daerah di Indonesia sebelum menawarkan gagasan penyelesaiannya.
Arbain mengatakan pendekatan tersebut bertujuan membangun kepedulian sosial sekaligus melatih peserta berpikir kritis terhadap persoalan bangsa.
“Kalau di Jawa Timur, peserta SMA membawa berbagai isu nasional. Mereka mempelajari persoalan dari Aceh sampai Papua, kemudian mencoba menyampaikan solusi yang bisa dilakukan generasi muda.”
Pada tingkat nasional, konsep tersebut bahkan diperluas hingga membahas isu-isu global melalui perspektif berbagai negara.
Menurut Arbain, langkah tersebut menjadi bagian dari semangat “Local Voice, International Impact”, yaitu mendorong generasi muda mampu membawa persoalan lokal ke tingkat internasional melalui ide dan aksi nyata.
Pendidikan, Sosial, dan Budaya Jadi Pilar Utama
Selain pengembangan kemampuan individu, Putra Putri Siswa Jawa Timur juga mengangkat tiga isu utama sebagai fokus advokasi peserta, yakni pendidikan, sosial, dan budaya.
Ketiga bidang tersebut dinilai memiliki peran penting dalam membentuk karakter pelajar sekaligus memperkuat kontribusi mereka kepada masyarakat.
“Pendidikan tidak hanya didapat dari sekolah, tetapi juga dari kehidupan sehari-hari. Begitu juga budaya harus terus dilestarikan oleh generasi muda, sementara kepedulian sosial menjadi bentuk nyata kontribusi mereka kepada masyarakat,” kata Arbain.
Lebih Penting Value daripada Gelar
Bagi Arbain, keberhasilan seorang finalis bukan ditentukan oleh mahkota atau gelar yang diraih pada malam grand final.
Justru yang lebih penting adalah bagaimana peserta tetap membawa nilai-nilai positif setelah kompetisi berakhir.
Ia berharap para pemenang maupun finalis mampu menjadi teladan di lingkungan sekolah, keluarga, hingga masyarakat melalui berbagai program yang mereka jalankan.
“Bagi saya bukan sekadar soal siapa yang menjadi juara. Yang terpenting adalah mereka memiliki value, kepribadian yang baik, dan mampu memberi manfaat. Kalau itu sudah dimiliki, mereka akan tetap menjadi inspirasi meskipun tidak lagi mengenakan selempang,” pungkasnya. (nid/cay)













