Kanal24, Malang – Perkembangan industri peternakan yang semakin dinamis menuntut perguruan tinggi untuk menyiapkan sumber daya manusia yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memahami kebutuhan dunia kerja. Keterhubungan antara kampus, industri, alumni, dan perguruan tinggi luar negeri menjadi penting agar proses pendidikan mampu mengikuti perkembangan teknologi sekaligus menjawab persoalan nyata di lapangan.
Upaya tersebut menjadi salah satu fokus Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan (FAST) Universitas Brawijaya (UB) dalam menyiapkan mahasiswa menghadapi dunia profesional. Dekan FAST UB, Prof. Dr. Ir. Muhammad Halim Natsir, S.Pt., MP., IPM., ASEAN Eng., menyampaikan hal tersebut di Malang, Jumat (14/8/2026), dalam rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) FAST UB. Ia menjelaskan berbagai strategi fakultas, mulai dari penguatan networking, menghadirkan praktisi dalam pembelajaran, pengembangan laboratorium bersama industri, hingga penyusunan kurikulum bersama mitra.
Baca juga:
FILKOM UB Bangun Kampus Inklusif, dari Disabilitas hingga Mental
Networking Jadi Kunci Pendidikan
Halim menjelaskan bahwa FAST UB menempatkan networking sebagai salah satu prioritas dalam pengembangan pendidikan. Jejaring tersebut dibangun dengan berbagai pihak, terutama industri dan perguruan tinggi luar negeri.
Menurutnya, perkembangan fasilitas dan teknologi di perguruan tinggi perlu berjalan beriringan dengan perkembangan yang terjadi di dunia industri. Karena itu, hubungan antara kampus dan industri tidak cukup hanya dalam bentuk kerja sama formal, tetapi perlu diwujudkan melalui aktivitas yang memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa.
“FAST ini selalu yang diutamakan adalah networking. Networking dengan industri maupun dengan perguruan tinggi luar negeri,” jelas Prof Halim.

Keterlibatan praktisi juga menjadi bagian dari strategi tersebut. Dalam satu tahun terakhir, FAST UB menghadirkan 198 praktisi mengajar untuk memberikan pengalaman dan perspektif dunia profesional kepada mahasiswa.
Kehadiran praktisi diharapkan membuat mahasiswa memiliki pemahaman yang lebih realistis mengenai kebutuhan industri sekaligus mengetahui kompetensi yang perlu mereka siapkan sejak masa perkuliahan.
Kurikulum Terhubung dengan Industri
Kolaborasi dengan industri juga dikembangkan melalui penyusunan kurikulum bersama. Halim menyebut FAST UB mulai menjalankan program bersama Java Group yang memberikan pengalaman belajar sekaligus pelatihan langsung di lingkungan industri.
Program tersebut akan melibatkan 30 mahasiswa. Mereka akan mendapatkan pembelajaran selama satu bulan di kelas sebelum melanjutkan pelatihan selama lima bulan di farm milik mitra.
Dari peserta tersebut, 10 mahasiswa akan mendapatkan kesempatan untuk bergabung sebagai tenaga kerja, 10 lainnya akan disalurkan kepada mitra perusahaan, sedangkan 10 mahasiswa lainnya tetap memiliki kebebasan menentukan jalur karier masing-masing.
Menurut Halim, model tersebut menjadi salah satu bentuk konkret hubungan antara perguruan tinggi dan industri dalam menyiapkan lulusan.
“Bagaimana industri itu memang harus saling berkait dengan perguruan tinggi,” ujarnya.
FAST UB juga terus membuka ruang bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman langsung melalui kegiatan praktik kerja lapangan dan magang. Pengalaman tersebut dinilai penting karena inovasi mahasiswa akan lebih berkembang ketika mereka bersentuhan langsung dengan persoalan di dunia nyata.
Selain itu, fakultas mengembangkan sejumlah collaborative laboratory melalui dukungan mitra industri. Fasilitas tersebut diarahkan untuk memperkuat pembelajaran dan memberikan pengalaman penggunaan teknologi yang relevan dengan perkembangan sektor peternakan.
Dorong Riset Berdampak
Penguatan pendidikan di FAST UB juga berjalan bersama dengan pengembangan riset yang aplikatif. Halim menegaskan bahwa riset merupakan bagian penting dari perkembangan fakultas, tetapi hasil penelitian tidak seharusnya berhenti pada jurnal atau paten.
Menurutnya, riset perlu diarahkan agar memberikan manfaat bagi masyarakat, industri, maupun pemerintah.
“Risetnya dipilih yang memang aplikatif, yang memang ada yang terapan yang bisa digunakan. Tidak usah riset yang muluk-muluk,” tuturnya.
Pendekatan tersebut juga diterapkan kepada mahasiswa. Dalam kegiatan KKN, mahasiswa FAST UB diwajibkan menghasilkan tiga inovasi yang memiliki dampak bagi masyarakat.
Sejumlah inovasi mahasiswa bahkan telah mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah dan berpotensi dikembangkan lebih lanjut melalui pendampingan dosen.
Halim menyebut pendanaan riset FAST UB berasal dari berbagai sumber, mulai dari fakultas, UB, pemerintah, hingga pihak eksternal. Upaya mencari pendanaan eksternal terus dilakukan untuk menjaga keberlanjutan kegiatan penelitian dan pengembangan.
Bagi FAST UB, pendidikan, riset, pengabdian masyarakat, dan kerja sama industri merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam menyiapkan generasi peternakan masa depan.
Sementara itu, kehadiran alumni dan praktisi dalam PKKMB menjadi bagian dari upaya memperkenalkan mahasiswa baru pada dunia peternakan yang lebih luas. Mahasiswa diharapkan tidak hanya mengenal lingkungan kampus, tetapi sejak awal memahami bahwa masa depan profesinya juga ditentukan oleh kemampuan membangun jejaring, beradaptasi dengan perkembangan industri, serta menghasilkan inovasi yang memberikan dampak nyata.(ffn)













