Kanal24, Malang – Nilai tukar mata uang Iran, rial, kembali mengalami pelemahan tajam hingga mencapai level terendah sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut terjadi ketika Iran menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat, mulai dari inflasi tinggi, sanksi internasional hingga ketidakpastian geopolitik.
Pada perdagangan pasar bebas, nilai dolar AS dilaporkan menembus sekitar 2,4 juta rial pada Senin (28/09/2026). Pelemahan tersebut menambah tekanan terhadap perekonomian Iran karena depresiasi mata uang berpotensi membuat harga barang impor semakin mahal dan memperburuk tekanan inflasi.
Baca juga:
Surat Utang Krisis 1998 Lunas, Warisan BLBI Belum Usai
Rial Tembus 2,4 Juta per Dolar AS
Penurunan nilai rial berlangsung dalam beberapa bulan terakhir. Pada awal September, kurs pasar bebas telah berada di kisaran 2,355 juta rial per dolar AS. Angka tersebut kemudian kembali melemah hingga sekitar 2,4 juta rial pada akhir September.
Pelemahan mata uang terjadi di tengah tekanan ekonomi dan politik yang berlangsung secara bersamaan. Laporan terbaru menyebut inflasi tahunan Iran telah mencapai 61,4 persen. Sementara itu, harga pangan mengalami kenaikan hingga 128,1 persen secara tahunan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelemahan rial tidak hanya menjadi persoalan di pasar valuta asing, tetapi juga berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. Ketika nilai mata uang domestik turun terhadap dolar, biaya barang dan bahan baku yang bergantung pada impor dapat meningkat.
Sanksi dan Ketegangan Geopolitik Jadi Tekanan
Sanksi ekonomi Amerika Serikat menjadi salah satu faktor yang terus membatasi akses Iran terhadap sistem keuangan dan perdagangan internasional. Tekanan tersebut turut memengaruhi kemampuan negara memperoleh valuta asing yang dibutuhkan untuk kegiatan impor dan transaksi perdagangan.
Kondisi ekonomi Iran juga diperburuk oleh ketegangan geopolitik dengan Amerika Serikat. Pada saat yang sama, kedua negara masih melakukan komunikasi melalui mediator terkait kemungkinan kesepakatan, meski sejumlah isu penting masih menjadi perdebatan.
Tekanan terhadap perekonomian Iran sebelumnya juga terlihat pada April 2026. Saat itu, rial sempat jatuh hingga sekitar 1,81 juta per dolar AS. Pelemahan terjadi ketika permintaan terhadap mata uang asing meningkat setelah periode konflik dan gangguan perdagangan.
Dampak Pelemahan Rial bagi Masyarakat
Pelemahan mata uang dalam skala besar dapat memberikan tekanan langsung terhadap masyarakat karena harga barang dan kebutuhan sehari-hari berpotensi meningkat. Situasi tersebut semakin berat ketika kenaikan harga tidak diimbangi pertumbuhan pendapatan.
Laporan mengenai kondisi ekonomi Iran dalam beberapa bulan terakhir juga menunjukkan masyarakat harus melakukan penyesuaian terhadap pengeluaran rumah tangga. Harga kebutuhan pokok yang meningkat membuat daya beli masyarakat semakin tertekan.
Bagi perekonomian secara keseluruhan, depresiasi rial juga menciptakan tantangan bagi dunia usaha. Pelaku bisnis menghadapi ketidakpastian harga, terutama bagi sektor yang membutuhkan barang, bahan baku, atau komponen dari luar negeri.
Dengan inflasi yang tinggi dan nilai tukar yang terus tertekan, stabilisasi rial menjadi salah satu tantangan penting bagi perekonomian Iran. Perkembangan hubungan Iran dengan negara-negara lain, kondisi perdagangan, serta kebijakan ekonomi dalam negeri akan menjadi faktor yang menentukan arah mata uang tersebut ke depan.(ffn)














