Kanal24, Malang – Tumpukan cicilan kartu kredit, paylater, hingga utang pribadi dapat membuat pengelolaan keuangan semakin berat jika tidak disertai strategi pelunasan yang terencana. Kondisi tersebut juga berisiko mendorong seseorang mengambil pinjaman baru untuk menutup tagihan lama atau melakukan pola “gali lubang tutup lubang”.
Sejumlah perencana keuangan menyarankan agar pelunasan utang dilakukan secara bertahap dengan memetakan seluruh kewajiban, menentukan prioritas pembayaran, serta menghentikan penambahan utang baru. Strategi tersebut menjadi penting di tengah semakin mudahnya masyarakat mengakses berbagai layanan pembiayaan digital.
Baca juga:
Wajib Halal Oktober 2026 Bukan Larangan Impor
Petakan Utang dan Tentukan Prioritas Pembayaran
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mencatat seluruh utang, mulai dari cicilan bank, kartu kredit, paylater, hingga pinjaman pribadi. Pencatatan tersebut membantu mengetahui total kewajiban, jumlah cicilan, bunga, serta tenggat pembayaran setiap utang.
Setelah seluruh kewajiban terdata, pembayaran perlu diprioritaskan. Salah satu strategi yang dapat digunakan adalah metode snowball, yakni melunasi utang dengan saldo paling kecil terlebih dahulu setelah seluruh pembayaran minimum terpenuhi.
Ketika satu utang berhasil dilunasi, dana yang sebelumnya digunakan untuk membayar cicilan tersebut dapat dialihkan ke utang berikutnya. Cara ini membuat jumlah utang secara bertahap berkurang sekaligus membantu menjaga konsistensi dalam proses pelunasan.
Alternatif lainnya adalah metode avalanche, yaitu memprioritaskan utang dengan bunga paling tinggi. Strategi ini dapat membantu mengurangi beban bunga dalam jangka panjang, meski membutuhkan disiplin karena utang dengan saldo besar bisa membutuhkan waktu lebih lama untuk dilunasi.
Jangan Tutup Utang dengan Utang Baru
Kesalahan yang perlu dihindari adalah mengambil pinjaman baru hanya untuk membayar utang lama tanpa menyelesaikan persoalan arus kas. Pola tersebut dapat membuat kewajiban semakin bertambah dan memperpanjang masa pembayaran.
Karena itu, selama proses pelunasan berlangsung, penggunaan paylater maupun fasilitas kredit baru sebaiknya dihentikan untuk kebutuhan konsumtif. Pengeluaran yang tidak mendesak juga dapat dikurangi sementara agar lebih banyak dana dapat dialokasikan untuk cicilan.
Jika kondisi keuangan sudah terlalu berat, pemilik utang dapat berkomunikasi dengan pihak pemberi pinjaman untuk mengetahui pilihan penyelesaian yang tersedia. Restrukturisasi atau penyesuaian pembayaran dapat menjadi opsi apabila memang ditawarkan oleh penyedia layanan dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Penggunaan pinjaman daring juga perlu dilakukan secara hati-hati. Masyarakat perlu memastikan legalitas penyedia layanan, memahami bunga dan biaya, serta membaca ketentuan sebelum menyetujui pembiayaan.
Perkuat Anggaran agar Utang Tidak Berulang
Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan penggunaan pembiayaan digital masih mengalami pertumbuhan. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya literasi keuangan agar kemudahan memperoleh kredit tidak membuat masyarakat mengambil kewajiban di luar kemampuan membayar.
Setelah mengetahui seluruh utang, langkah berikutnya adalah membuat anggaran bulanan yang realistis. Pendapatan perlu dibagi untuk kebutuhan pokok, cicilan, tabungan atau dana darurat, serta kebutuhan lainnya.
Pembayaran cicilan sebaiknya ditempatkan sebagai salah satu prioritas utama. Sementara itu, pengeluaran yang sifatnya konsumtif dan tidak mendesak dapat ditekan sampai kondisi keuangan lebih stabil.
Utang juga perlu dievaluasi berdasarkan manfaatnya. Pembiayaan yang digunakan untuk kegiatan produktif memiliki karakter berbeda dengan utang konsumtif yang digunakan untuk memenuhi keinginan sesaat.
Dengan perencanaan yang disiplin, tumpukan utang dapat dikurangi tanpa harus kembali mencari pinjaman baru. Kuncinya adalah mengetahui jumlah kewajiban secara menyeluruh, menentukan prioritas pembayaran, mengendalikan pengeluaran, dan menjaga agar utang tidak kembali bertambah.(ffn)














