Kanal24, Malang – Sampah plastik dan limbah organik yang biasanya berakhir di tempat pembuangan justru diubah menjadi media belajar dan bercocok tanam oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya (UB).
Melalui program ASRI (Aksi Siswa Sekolah Dasar Peduli Lingkungan), mahasiswa KKN FBiPK UB mengajak siswa SDN 3 Mulyoarjo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, mengenal pengelolaan sampah sekaligus praktik pertanian ramah lingkungan.
Program yang berlangsung dalam empat pertemuan tersebut menyasar siswa kelas 5 dan 6. Materi yang diberikan mencakup pengelolaan sampah, pemanfaatan limbah, pembuatan Pupuk Organik Cair (POC), hingga budidaya tanaman menggunakan media yang lebih ramah lingkungan.
Baca juga:
PKKMB FIB UB Bekali Mahasiswa Kenali Budaya Kampus

Sampah Plastik Diubah Jadi Pot Tanaman
Pertemuan pertama berlangsung pada 17 Juli 2026 dengan melibatkan 31 siswa kelas 5. Siswa terlebih dahulu mendapatkan pemahaman mengenai perbedaan sampah organik dan anorganik, pentingnya memilah sampah sejak dini, serta dampak sampah terhadap lingkungan.
Setelah itu, pembelajaran dilanjutkan dengan praktik membuat ecobrick dan POC. Siswa dibagi menjadi sembilan kelompok, dengan lima kelompok membuat ecobrick dan empat kelompok mengolah sampah organik menjadi POC.
Dalam praktik ecobrick, siswa memanfaatkan botol plastik bekas dan sampah plastik yang telah dipotong menjadi bagian kecil. Sampah tersebut dimasukkan dan dipadatkan hingga menghasilkan botol yang kokoh.
Ecobrick yang telah dibuat kemudian tidak berhenti sebagai produk daur ulang. Siswa menggunakannya sebagai bahan dasar pembuatan pot tanaman dengan menyusun beberapa ecobrick hingga membentuk struktur pot.
Sementara itu, sampah organik berupa daun kering dimanfaatkan untuk membuat POC menggunakan alat dekomposer sederhana. Proses tersebut menjadi pengalaman langsung bagi siswa untuk memahami bahwa limbah organik masih dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi tanaman.

Belajar Bertanam di Lahan Terbatas
Edukasi lingkungan kemudian berlanjut pada pertemuan kedua melalui pengenalan teknik vertikultur. Siswa belajar bahwa kegiatan bercocok tanam tetap dapat dilakukan meskipun tersedia lahan terbatas.
Pada 18 Juli 2026, sebanyak 31 siswa kelas 5 mempraktikkan pencampuran warna dan menghias botol plastik yang nantinya digunakan sebagai pot vertikultur. Siswa juga menghias alat dekomposer POC agar lebih menarik sekaligus memahami fungsinya dalam mengolah sampah organik menjadi pupuk.
Memasuki pertemuan ketiga pada 24 Juli 2026, giliran 36 siswa kelas 6 yang mendapatkan materi mengenai media tanam dan tahapan budidaya tanaman.
Siswa kemudian mempraktikkan penanaman tanaman hias menggunakan pot ecobrick dengan media cocopeat, yakni media tanam yang berasal dari limbah sabut kelapa.
Mahasiswa KKN juga menyerahkan lima tanaman hias dalam pot ecobrick kepada pihak sekolah sebagai media pembelajaran sekaligus sarana penghijauan lingkungan sekolah.
Kokedama hingga Modul Pembelajaran
Pada pertemuan terakhir, 27 Juli 2026, sebanyak 19 siswa kelas 5 dan 6 diperkenalkan dengan teknik kokedama dan vertikultur.
Kokedama merupakan teknik budidaya tanaman tanpa menggunakan pot plastik dengan memanfaatkan cocofiber sebagai pembungkus media tanam. Sementara vertikultur memungkinkan tanaman dibudidayakan secara vertikal sehingga cocok diterapkan pada lahan terbatas.

Dalam praktiknya, siswa kembali memanfaatkan botol plastik bekas sebagai wadah tanaman dan cocopeat sebagai media tanam. Untuk kokedama, siswa menggunakan cocofiber yang berfungsi menjaga kelembapan sekaligus menjadi alternatif pengganti pot plastik.
Sebagai bagian dari keberlanjutan program, mahasiswa KKN menyerahkan tiga pot vertikultur berisi tanaman hias, tiga kokedama, serta Modul Pembelajaran ASRI kepada SDN 3 Mulyoarjo.
Modul tersebut berisi materi mengenai pengelolaan sampah, ecobrick, POC, vertikultur, media tanam, hingga kokedama sehingga dapat dimanfaatkan sekolah sebagai bahan pembelajaran berbasis praktik.
Secara keseluruhan, program ASRI menghasilkan lima pot ecobrick, empat alat dekomposer POC, tiga pot vertikultur, tiga kokedama, dan 25 Modul Pembelajaran ASRI yang diserahkan kepada sekolah.
Program tersebut sekaligus mendukung SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim melalui pembelajaran berbasis praktik, pemanfaatan kembali limbah, dan penghijauan lingkungan sekolah. (nid)













