Kanal24, Malang – Kesuburan lahan belum tentu berbanding lurus dengan kesejahteraan petani. Di banyak daerah, persoalan utama justru muncul setelah panen usai, mulai dari lemahnya posisi tawar, akses permodalan yang terbatas, hingga sistem pemasaran yang belum berpihak kepada petani. Akibatnya, nilai ekonomi hasil pertanian kerap lebih banyak dinikmati pihak lain dibandingkan para petani sebagai produsen utama.
Tantangan tersebut menjadi perhatian Tim Pengabdian Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) yang kembali melakukan pendampingan di Desa Banjarejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Melalui program pengabdian masyarakat, tim yang dipimpin Prof. Asfi Manzilati, M.E. mendampingi Kelompok Tani Hutan (KTH) Banjarejo membangun koperasi tani sebagai fondasi penguatan ekonomi petani sekaligus meningkatkan kemandirian usaha tani.
Desa Banjarejo yang berada di lereng Gunung Kawi dikenal memiliki potensi pertanian yang besar dengan komoditas unggulan berupa sayuran, buah-buahan, dan berbagai hasil bumi lainnya. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya mampu meningkatkan kesejahteraan petani karena masih dihadapkan pada persoalan tata kelola usaha dan pemasaran hasil pertanian.
Berangkat dari kondisi tersebut, para petani membentuk Kelompok Tani Hutan (KTH) Banjarejo sebagai wadah memperkuat posisi tawar. Salah satu agenda strategis yang kemudian disepakati adalah mendirikan koperasi tani yang mampu menjadi pusat pengelolaan usaha sekaligus mendukung aktivitas ekonomi masyarakat desa.
“Koperasi menjadi instrumen untuk membangun kemandirian ekonomi petani. Melalui kelembagaan yang kuat, petani diharapkan memiliki posisi tawar yang lebih baik, akses pembiayaan yang lebih mudah, serta mampu mengelola pemasaran hasil panennya secara lebih berkelanjutan,” ujar Prof. Asfi Manzilati, dalam keterangan yang diterima Kanal24 (4/6/2026)
Program pendampingan ini merupakan kelanjutan dari kegiatan pengabdian yang telah dimulai sejak tahun 2024. Pada tahap awal, tim FEB UB melakukan identifikasi potensi desa, memetakan kondisi petani, serta menyusun gambaran kelembagaan dan struktur sosial masyarakat Desa Banjarejo sebagai dasar pengembangan koperasi.
Memasuki tahun 2025, fokus pendampingan diarahkan pada asistensi pembentukan embrio koperasi tani agar mampu menjalankan fungsi strategis sebagai lembaga pendukung usaha tani. Keberadaan koperasi diharapkan dapat membantu petani dalam memasarkan hasil pertanian, meningkatkan posisi tawar di pasar, sekaligus menyediakan akses permodalan untuk mendukung kegiatan budidaya.
Dalam proses pendampingan tim pengabdian secara intensif mengunjungi posko KTH Banjarejo dengan membawa rancangan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) sebagai bahan pembelajaran sekaligus panduan bagi kelompok tani dalam menyusun kelembagaan koperasi. Dokumen tersebut menjadi dasar pelaksanaan musyawarah bersama calon pengurus koperasi agar organisasi yang dibentuk memiliki tata kelola yang jelas sejak awal.
Musyawarah tersebut juga didampingi tokoh senior Desa Banjarejo, Kiswandi, yang diproyeksikan menjadi calon pengawas koperasi. Keterlibatan tokoh masyarakat dinilai penting untuk memperkuat legitimasi kelembagaan sekaligus memastikan koperasi tumbuh sesuai kebutuhan petani di desa.
“Kami berharap proses pendampingan ini tidak berhenti pada pembentukan organisasi, tetapi mampu melahirkan koperasi yang benar-benar menjadi sistem pendukung usaha tani, mulai dari pembiayaan, pemasaran, hingga penguatan ekonomi masyarakat desa,” tambah Prof. Asfi.
Tim pengabdian menargetkan, setelah rangkaian pendampingan tahun ini selesai, koperasi tani telah memasuki tahap siap mengurus legalitas sehingga dapat segera beroperasi sebagai penggerak ekonomi petani di Desa Banjarejo. Keberadaan koperasi diharapkan menjadi langkah awal membangun sistem usaha tani yang lebih mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan di kawasan lereng Gunung Kawi. (din)














