Kanal24, Malang – Tidak semua orang memilih jurusan kuliah karena telah menemukan cita-citanya sejak awal. Ada yang justru menemukan panggilan hidup setelah berani menjalani setiap proses pembelajaran. Perjalanan itulah yang dialami Tria Ratna Sari, alumni Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Bioindustri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya, yang kini mengabdi sebagai Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kementerian Pertanian.
Sulit dipercaya, perempuan yang setiap hari mendampingi petani itu justru mengaku tidak memiliki pemahaman mendalam tentang dunia pertanian ketika pertama kali diterima sebagai mahasiswa Universitas Brawijaya. Yang ia tahu saat itu, pertanian merupakan sektor yang penting bagi kehidupan. Berbekal rasa ingin belajar, ia memilih menikmati setiap proses selama kuliah tanpa pernah membayangkan bahwa kelak akan berada di garis depan mendampingi petani.
“Saya menjalani proses belajar dengan sungguh-sungguh dan terbuka terhadap setiap pengalaman selama perkuliahan,” ujarnya.
Baca juga : Dr. Catur Wasonowati Alumni BP UB di Jalur Ketahanan Pangan
Semakin lama belajar, pandangannya terhadap pertanian berubah. Baginya, pertanian bukan sekadar aktivitas menanam atau memanen, melainkan perpaduan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. Dari situlah rasa bangga terhadap profesi di sektor pertanian tumbuh.
Perjalanan itu akhirnya membawanya bergabung sebagai Penyuluh Pertanian Lapangan di Kementerian Pertanian. Menurut Tria, kesempatan tersebut menjadi bukti bahwa proses belajar yang dijalani dengan sungguh-sungguh dapat membuka jalan yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan.
Belajar Bukan untuk Nilai, tetapi untuk Manfaat
Sejak menjadi mahasiswa, Tria tidak pernah menjadikan kelulusan sebagai tujuan akhir. Ia ingin ilmu yang diperoleh benar-benar bermanfaat bagi masyarakat, terutama petani yang setiap hari bergantung pada keberhasilan budidaya tanaman.
Karena itu, ketika kini bekerja sebagai penyuluh, ia tidak merasa sedang menjalankan profesi semata. Ia melihat dirinya sebagai jembatan antara ilmu pengetahuan dengan kebutuhan petani di lapangan.
Baca juga : Produktivitas Tebu Mandek, FP UB Gandeng Australia Kejar Teknologi dan Bibit Unggul
“Keberhasilan seorang penyuluh bukan diukur dari apa yang disampaikan, tetapi dari manfaat yang benar-benar dirasakan oleh petani,” katanya.
Baginya, penyuluh pertanian harus mampu mendengar, membangun komunikasi, sekaligus mencari solusi bersama petani. Kemampuan tersebut justru banyak ditempa selama menjalani praktikum, penelitian, hingga kegiatan lapangan saat kuliah di Departemen Budidaya Pertanian UB.
Praktikum yang Menjadi Bekal Mengabdi
Tria menilai seluruh mata kuliah yang dipelajari selama kuliah saling melengkapi. Mulai dari Dasar Budidaya Tanaman, Fisiologi Tanaman, Genetika Tanaman hingga Nutrisi Tanaman menjadi fondasi ilmiah dalam pekerjaannya saat ini.
Namun, menurutnya, pengalaman yang paling berharga justru hadir ketika mahasiswa turun langsung ke lapangan. Di sanalah ia belajar menganalisis persoalan, berpikir kritis, berkomunikasi dengan berbagai karakter masyarakat, dan mencari solusi yang sesuai dengan kondisi petani. Bekal tersebut menjadi modal utama ketika harus mendampingi petani menghadapi berbagai tantangan budidaya.
Mengajak Anak Muda Kembali Melirik Pertanian
Di tengah semakin sedikitnya generasi muda yang tertarik bekerja di sektor pertanian, Tria ingin membuktikan bahwa dunia pertanian telah berubah. Menurutnya, pertanian saat ini merupakan sektor yang modern, sarat inovasi, dan menawarkan ruang pengabdian yang luas bagi anak muda.
Ia mengajak mahasiswa untuk tidak takut memilih bidang pertanian hanya karena merasa belum mengenalnya.
“Jangan pernah takut jika hari ini belum mengetahui banyak hal, karena setiap orang memiliki kesempatan untuk belajar dan berkembang,” pesannya.
Moto hidup yang selalu dipegang Tria sederhana: terus belajar, terus berinovasi, dan terus mengabdi. Baginya, keberhasilan seorang alumni tidak berhenti pada capaian karier, tetapi ketika ilmu yang dimiliki mampu menghadirkan manfaat, meningkatkan produktivitas petani, dan menjadi bagian dari pembangunan pertanian Indonesia.














