Kanal24, Surabaya – Tidak sedikit program pemberdayaan masyarakat berhenti ketika anggaran habis atau pendamping meninggalkan lokasi. Berbagai bantuan telah digelontorkan, namun perubahan yang diharapkan sering kali tidak bertahan lama. Menurut akademisi Universitas Brawijaya, persoalannya bukan semata pada besarnya dana atau banyaknya program, melainkan bagaimana membangun rasa memiliki masyarakat terhadap perubahan itu sendiri.
Gagasan tersebut disampaikan Dr. Redy Eko Prastyo, S.Psi., M.I.Kom., akademisi Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya sekaligus penggagas Kampung Cempluk, saat menjadi narasumber dalam Pelatihan Keahlian Sosiologi bertajuk Social Analysis & Social Engineering: From Social Diagnosis to Social Intervention yang diselenggarakan Program Magister Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (UNAIR) pada 4–5 Juli 2026.
Baca juga : Dawai Kampung Cempluk ke Milan: Ketika Limbah Kayu Menjadi Diplomasi Budaya
Pelatihan tersebut menjadi ruang diskusi bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana ilmu sosiologi tidak berhenti pada identifikasi persoalan sosial, tetapi mampu diterjemahkan menjadi strategi intervensi yang berdampak nyata di masyarakat.
Bersama Novri Susan, Ph.D. dari UNAIR dan Dr. Dede Syarief dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Redy mengajak peserta melihat bahwa perubahan sosial memerlukan proses yang jauh lebih panjang daripada sekadar menjalankan program.
PSR, Ketika Perubahan Dimulai dari Kesadaran Individu
Dalam paparannya, Dr. Redy membagikan pengalaman mendampingi masyarakat Kampung Cempluk, Desa Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang selama lebih dari 16 tahun.
Menurutnya, keberhasilan membangun perubahan tidak berangkat dari proyek atau instruksi, melainkan dari tumbuhnya Personal Social Responsibility (PSR) atau tanggung jawab sosial individu.
“Rekayasa sosial bukan soal instruksi pemerintah atau proyek instan, melainkan soal menghidupkan PSR (Personal Social Responsibility). Ini adalah proses keterpanggilan individu untuk berkontribusi tanpa ekspektasi materi, yang kemudian berakumulasi menjadi kekuatan kolektif masyarakat,” tegasnya.
Melalui pendekatan tersebut, Kampung Cempluk perlahan mampu mengubah stigma negatif menjadi ruang kreativitas masyarakat. Salah satu inisiatif yang lahir adalah Hari Raya Kebudayaan, sebuah gerakan budaya yang dikelola secara mandiri oleh warga dan berkembang menjadi penggerak ekonomi kreatif berbasis komunitas.
Perubahan Sosial Tidak Dimulai dari Bantuan Dana
Pengalaman Kampung Cempluk turut diperkuat oleh Azzam Dharma Putra, Ketua Karang Taruna Desa Kalisongo yang selama ini terlibat langsung dalam proses pemberdayaan.
Ia menceritakan bagaimana ruang partisipasi yang dibangun bersama masyarakat mampu mengubah perilaku pemuda desa yang sebelumnya dekat dengan berbagai aktivitas negatif.
“Kami belajar bahwa pemberdayaan bukan soal bantuan dana, melainkan soal ruang proses. Melalui wadah Kampung Cempluk, kami menjalankan program Karang Taruna Mengajar untuk menanamkan rasa bangga pada tanah kelahiran. Kini, ibu-ibu rumah tangga juga lebih produktif melalui pemberdayaan ekonomi kreatif berbasis seni budaya,” ujarnya.
Menurut Azzam, perubahan tersebut tidak terjadi secara instan, melainkan tumbuh melalui keterlibatan masyarakat dalam berbagai kegiatan sosial dan budaya yang dilakukan secara konsisten.
Menjadi Fasilitator, Bukan Tokoh Utama
Pada sesi diskusi, peserta juga mempertanyakan bagaimana menjaga konsistensi gerakan sosial ketika menghadapi resistensi masyarakat.
Menjawab hal tersebut, Dr. Redy memperkenalkan strategi Minimax, yakni meminimalkan ekspektasi pribadi dan memaksimalkan dampak kolektif.
“Tugas seorang sosiolog adalah menjadi fasilitator yang membuatkan ‘panggung’ bagi warga. Kita tidak boleh mencari panggung pribadi di masyarakat. Jika ada resistensi, masuklah secara perlahan melalui pendekatan budaya dan komunikasi komplementer di ruang-ruang santai warga seperti pos kamling,” jelasnya.
Menurutnya, pendekatan yang mengedepankan dialog dan budaya lokal jauh lebih efektif dibandingkan intervensi yang bersifat top-down.
Pelatihan yang diinisiasi Program Magister Sosiologi UNAIR tersebut menegaskan pentingnya menjadikan sosiologi sebagai laboratorium hidup. Mahasiswa tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga mampu merancang strategi perubahan sosial yang berkelanjutan dan relevan dengan dinamika masyarakat Indonesia.
Melalui forum tersebut, peserta diajak melihat bahwa keberhasilan seorang sosiolog tidak hanya diukur dari kemampuannya menganalisis persoalan sosial, tetapi juga dari sejauh mana ia mampu menghadirkan perubahan nyata bersama masyarakat. (din)













