Kanal24, Malang – Setelah dikembangkan melalui riset selama lebih dari 14 tahun, DTKO, minuman fungsional berbahan teh hijau dan kopi hijau dekafeinasi karya peneliti Universitas Brawijaya (UB), kini memasuki tahap hilirisasi. Produk yang dikembangkan sebagai minuman fungsional pendamping terapi sindrom metabolik tersebut tengah dipersiapkan untuk memperoleh izin edar dari BPOM sebelum diproduksi secara massal dan dipasarkan kepada masyarakat.
Selama proses pengembangannya, tim peneliti memastikan keamanan dan efektivitas DTKO melalui rangkaian penelitian berjenjang, mulai dari uji laboratorium hingga uji klinis pada manusia. Tahapan tersebut menjadi landasan ilmiah sebelum produk memasuki proses komersialisasi.
Baca juga:
Kurang dari Empat Tahun, Laboratorium FTAB UB Raih Akreditasi KAN ISO 17025
Melalui Riset Berjenjang
Prof. dr. Mohammad Saifur Rohman, Sp.JP (K)., Ph.D., FSCAI., Pengembang DTKO menjelaskan dalam wawancara dengan kanal24 pada Kamis (09/07/2026) bahwa pengembangan DTKO dimulai sejak 2012. Penelitian dilakukan secara bertahap, mulai dari uji laboratorium (in vitro), uji pada tikus model sindrom metabolik, hingga uji pada manusia sehat dan penderita sindrom metabolik.

Dikembangkan Melalui Riset Berjenjang
Pengembang DTKO, Prof. dr. Mohammad Saifur Rohman, Sp.JP(K)., Ph.D., FSCAI, menjelaskan bahwa penelitian DTKO dimulai sejak 2012 dan dilakukan secara bertahap. Pengujian diawali melalui penelitian in vitro, dilanjutkan pada tikus model sindrom metabolik, hingga uji pada manusia sehat maupun individu dengan obesitas dan sindrom metabolik.
“Kami sudah melakukan penelitian mulai dari sel, kemudian pada tikus model sindrom metabolik, lalu dicobakan pada manusia sehat dan manusia yang mempunyai kegemukan serta sindrom metabolik,” ujarnya.
Menurutnya, tahapan penelitian tersebut menjadi dasar penting untuk memastikan DTKO aman dikonsumsi sekaligus memiliki potensi manfaat sebagai minuman fungsional pendamping terapi.
Didukung Puluhan Publikasi Ilmiah
Selain melalui berbagai tahapan pengujian, hasil pengembangan DTKO juga diperkuat dengan publikasi ilmiah di jurnal internasional bereputasi yang terindeks Scopus.
“Penelitian ini dimulai sejak 2012 sampai sekarang. Setiap tahun kami selalu menghasilkan minimal tiga jurnal internasional terakreditasi Scopus Q1 sampai Q3,” katanya.
Selama lebih dari satu dekade penelitian, tim peneliti telah menghasilkan puluhan publikasi ilmiah. Konsistensi tersebut menjadi bukti kuat bahwa pengembangan DTKO dilakukan berdasarkan riset yang berkelanjutan dan memenuhi standar akademik internasional.
Siap Menuju Produksi Massal
Saat ini, tim peneliti tengah menyiapkan proses perizinan BPOM sebagai langkah menuju produksi massal. Mereka juga membuka peluang kerja sama dengan industri teh dan kopi untuk mempercepat hilirisasi sekaligus memperluas pemasaran produk.
Selain dipasarkan secara daring, DTKO juga direncanakan hadir melalui gerai khusus. Tim peneliti berharap proses produksi dapat terus dioptimalkan agar biaya produksi semakin efisien sehingga harga jual produk lebih terjangkau bagi masyarakat.
Saat ini, satu kotak DTKO untuk kebutuhan konsumsi selama satu bulan diperkirakan dibanderol sekitar Rp75 ribu.
“Harapannya nanti proses produksi bisa lebih optimal sehingga ongkos produksinya turun dan produk ini dapat dijual dengan harga yang lebih terjangkau,” pungkasnya.
Melalui proses hilirisasi tersebut, DTKO diharapkan tidak hanya menjadi hasil penelitian di laboratorium, tetapi juga berkembang menjadi inovasi kesehatan berbasis riset yang dapat dimanfaatkan secara lebih luas oleh masyarakat. (ffn)













