Kanal24, Malang – Laboratorium Terpadu Fakultas Teknologi Pertanian dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB) berhasil meraih akreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN) berdasarkan standar ISO/IEC 17025. Capaian ini menjadi prestasi membanggakan karena diraih dalam waktu kurang dari empat tahun sejak laboratorium tersebut berdiri pada 2022.
Keberhasilan tersebut tidak diraih secara instan. Di balik pengakuan itu, Laboratorium Terpadu FTAB UB harus melalui proses panjang, mulai dari membangun sistem manajemen mutu, menyusun standar operasional prosedur (SOP), memastikan kompetensi sumber daya manusia, hingga memenuhi standar kelayakan seluruh peralatan pengujian. Seluruh tahapan itu dijalankan oleh tim yang hanya beranggotakan empat orang.
Baca Juga:
Bukan Sekadar Lomba!, PEKSIMIDA Jatim Jadi Panggung Ekspresi Mahasiswa
Tim Kecil Bangun Sistem dari Nol
Kepala Laboratorium Terpadu FTAB UB, Luluk Mamluhah, mengungkapkan tantangan terbesar dalam proses akreditasi adalah usia laboratorium yang masih tergolong sangat muda. Meski demikian, timnya dituntut mampu memenuhi seluruh persyaratan akreditasi ISO/IEC 17025 dalam waktu yang relatif singkat.

“Laboratorium ini berdiri tahun 2022. Kurang dari empat tahun kami sudah dituntut memperoleh akreditasi ISO 17025. Semua benar-benar dimulai dari awal, mulai penyusunan SOP hingga sistem manajemen mutu, sementara tim kami hanya empat orang,” ujarnya.
Menurut Luluk, selain memastikan kompetensi personel, seluruh peralatan yang digunakan dalam pengujian juga harus melalui proses kalibrasi dan memiliki ketertelusuran (traceability) sesuai standar. Langkah tersebut diperlukan agar setiap hasil analisis memiliki tingkat akurasi dan dapat dipertanggungjawabkan.
Hasil Pengujian Kini Diakui Secara Nasional
Perolehan akreditasi KAN membuat hasil pengujian Laboratorium Terpadu FTAB UB memperoleh pengakuan yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional melalui skema saling pengakuan.
Saat ini, ruang lingkup akreditasi mencakup pengujian kadar kafein pada kopi sangrai menggunakan metode High Performance Liquid Chromatography (HPLC) serta analisis kadar nikotin pada tembakau dengan metode Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS).
Luluk menjelaskan, standar ISO/IEC 17025 memastikan setiap hasil pengujian memiliki tingkat akurasi, presisi, dan konsistensi yang tinggi. Karena itu, setiap proses analisis selalu disertai pengendalian mutu agar hasil yang diberikan kepada pengguna tetap valid dan dapat dipercaya.
Siapkan Pengembangan Layanan Pengujian
Setelah berhasil memperoleh akreditasi, Laboratorium Terpadu FTAB UB berkomitmen terus meningkatkan kualitas layanan. Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah memperluas ruang lingkup akreditasi melalui validasi metode pengujian dan penambahan parameter analisis.
Selain itu, peningkatan fasilitas laboratorium juga menjadi fokus pengembangan untuk mendukung layanan yang semakin optimal.
“Harapannya tentu ada penambahan alat-alat yang lebih mendukung sehingga kualitas pengujian dan kinerja laboratorium bisa terus meningkat,” kata Luluk.
Melalui raihan akreditasi ini, Laboratorium Terpadu FTAB UB semakin memperkuat kepercayaan terhadap layanan pengujian yang dimilikinya. Pengakuan tersebut juga membuka peluang lebih besar untuk mendukung kegiatan pendidikan, penelitian, serta memperluas kerja sama dengan dunia industri melalui layanan laboratorium yang memenuhi standar internasional.(ndr)














