Kanal24, Malang – Kotoran sapi yang selama ini identik dengan limbah peternakan ternyata bisa menjadi solusi bagi penghijauan lingkungan. Melalui inovasi yang dikembangkan Center of Excellence Community-Based and Sustainable Agroindustry (CoE CBSA), limbah tersebut diolah menjadi media tanam ramah lingkungan yang kini dimanfaatkan mahasiswa dan masyarakat di berbagai wilayah.
Inovasi ini merupakan hasil kolaborasi CoE CBSA bersama Program Mahasiswa Membangun Masyarakat (3M) Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya serta Program Kampung Lingkar Kampus (KLK). Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pemanfaatan limbah peternakan sebagai produk bernilai guna sekaligus mendukung pertanian berkelanjutan dan penghijauan lingkungan.
Pengembangan media tanam dilakukan di Kabupaten Bojonegoro bersama Kelompok Tani Ternak (KTT) USTAN Mandiri dengan dukungan pendanaan dari Bank Indonesia. Program ini dirancang untuk memperkuat kapasitas masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya lokal sekaligus mengembangkan agroindustri berbasis komunitas yang berkelanjutan.
Baca juga:
Bukan Sekadar Lomba!, PEKSIMIDA Jatim Jadi Panggung Ekspresi Mahasiswa

Limbah Diolah Lewat Fermentasi
Media tanam dibuat dari kotoran sapi yang difermentasi menggunakan Effective Microorganisms 4 (EM4) dan SERMA. Proses fermentasi tersebut mempercepat penguraian bahan organik, mengurangi bau, serta menghasilkan media tanam yang lebih matang sehingga siap dimanfaatkan untuk berbagai jenis tanaman.
Pendekatan ini juga menjadi bentuk penerapan konsep ekonomi sirkular, yakni mengolah limbah yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan menjadi produk yang memiliki nilai tambah bagi sektor pertanian dan penghijauan.
Media tanam hasil fermentasi kemudian dimanfaatkan mahasiswa peserta Program 3M FTAB dan Program Kampung Lingkar Kampus dalam berbagai kegiatan penghijauan di sejumlah kelurahan di Kota Malang. Mulai dari penanaman di pekarangan rumah, lahan terbatas, fasilitas umum, hingga ruang terbuka hijau di lingkungan sekitar kampus.
Tak hanya melakukan penanaman, mahasiswa juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pengolahan limbah organik, teknik budidaya tanaman, serta pentingnya pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan.
Sinergi Kampus, Peternak, dan Masyarakat
Ketua CoE CBSA, Dr. Dodyk Pranowo, mengatakan keberhasilan program ini tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak yang memiliki visi sama dalam menjaga lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara CoE CBSA, KTT USTAN Mandiri, Bank Indonesia, Program 3M FTAB, dan Program Kampung Lingkar Kampus. Adanya kegiatan ini menunjukkan bahwa inovasi yang dikembangkan melalui sinergi perguruan tinggi, komunitas, masyarakat, dan lembaga pendukung dapat diterapkan secara langsung untuk menjawab kebutuhan lingkungan dan sosial masyarakat,” ujarnya.
Menurut Dodyk, inovasi yang dihasilkan perguruan tinggi akan memberikan dampak lebih besar ketika dapat diterapkan langsung di tengah masyarakat melalui kolaborasi lintas sektor.
Apresiasi juga datang dari Ketua KTT USTAN Mandiri, Kisnadi, yang menilai program tersebut memberikan manfaat nyata bagi kelompok peternak.
“Kegiatan yang diadakan oleh CoE CBSA ini sangat bermanfaat dan meningkatkan pengetahuan serta keterampilan anggota kelompok dalam pemanfaatan kotoran sapi sebagai media tanam,” katanya.
Jadi Sarana Belajar Mahasiswa
Program ini juga menjadi wadah pembelajaran bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Mereka terlibat langsung dalam pendampingan warga, mengenalkan inovasi teknologi, hingga memahami tantangan penerapan ekonomi sirkular di tingkat komunitas.
Ke depan, CoE CBSA bersama FTAB UB berharap inovasi pemanfaatan media tanam berbasis limbah peternakan ini dapat diterapkan di lebih banyak daerah. Selain mendukung penghijauan dan pertumbuhan tanaman, program tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa limbah peternakan dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat dan ramah lingkungan.
Kolaborasi ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), Tujuan 13 (Penanganan Perubahan Iklim), serta Tujuan 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). (nid)














