Kanal24, Malang – Kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mengubah cara banyak orang belajar. Jawaban kini bisa diperoleh hanya dalam hitungan detik. Namun, kemudahan itu juga memunculkan pertanyaan baru: apakah AI akan membuat siswa semakin pintar, atau justru membuat mereka berhenti berpikir?
Menurut Guru Pendidikan SMKN 1 Turen, Masithoh Yessi Rochayati, M.Pd., AI tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman. Sebaliknya, teknologi tersebut dapat menjadi sarana belajar yang efektif selama penggunaannya tetap menempatkan proses berpikir siswa sebagai tujuan utama, bukan sekadar mencari jawaban instan.
Baca juga:
UB Press Hibahkan 1.500 Buku, Perkuat Literasi Desa Lewat MMD UB 2026
AI Bisa Menjadi Teman Belajar, Bukan Pengganti Proses Berpikir
Masithoh menilai perkembangan AI merupakan tantangan sekaligus peluang bagi dunia pendidikan. Ia mengakui teknologi tersebut mampu memberikan jawaban dengan cepat, tetapi manfaatnya akan jauh lebih besar jika dimanfaatkan sebagai teman berdiskusi daripada sebagai mesin pencari jawaban.
Ia mengaku telah menggunakan AI dalam aktivitas akademiknya. Ketika memiliki sebuah gagasan, ia memanfaatkan AI untuk berdiskusi sehingga ide tersebut berkembang menjadi lebih matang.
“Saya sendiri sering menggunakan AI sebagai teman diskusi. Ketika saya mempunyai ide, saya mengajak AI berdiskusi sehingga ide tersebut justru berkembang dengan lebih matang,” ujarnya.
Menurutnya, pola serupa juga dapat diterapkan dalam proses pembelajaran di sekolah.
Guru Perlu Mengubah Cara Memanfaatkan AI di Kelas
Masithoh mencontohkan, siswa mengakses AI menggunakan gawai masing-masing dan meminta AI membuatkan soal tanpa memberi jawaban. Promp yang digunakan harus jelas sehingga AI dapat memberi soal dengan tingkat kesulitan yang sama untuk setiap siswa. Setelah itu siswa diminta mengerjakan soal menggunakan kemampuan sendiri
Langkah berikutnya, siswa baru meminta AI menampilkan jawaban untuk dibandingkan dengan hasil pekerjaan mereka. Dari proses tersebut, siswa dapat mendiskusikan perbedaan jawaban sekaligus mengevaluasi cara berpikir yang digunakan.
“AI tidak menggantikan proses berpikir siswa, tetapi justru mendorong mereka mengamati, menganalisis, mengevaluasi, lalu merefleksikan hasil belajarnya,” katanya.
Ia menambahkan penggunaan AI seperti itu akan menghasilkan pengalaman belajar yang lebih terbuka (open-ended). Meskipun tingkat kesulitannya sama, setiap siswa dapat memperoleh soal yang berbeda sehingga proses berpikir mereka juga berkembang secara beragam.
Pembelajaran Harus Membuat Siswa Aktif Mencari Makna
Selain pemanfaatan AI juga menerapkan model pembelajaran 5E (Engage, Explore, Explain, Elaborate, dan Evaluate). Berdasarkan pengalamannya, pendekatan tersebut mampu meningkatkan kemampuan literasi matematika siswa dibandingkan pembelajaran yang hanya berpusat pada ceramah.
Menurutnya, model 5E memberi ruang bagi peserta didik untuk mengamati fenomena, mengeksplorasi persoalan, berdiskusi, hingga menemukan konsep secara mandiri. Pengalaman tersebut membuat pemahaman siswa bertahan lebih lama karena tersimpan dalam memori jangka panjang.
Ia menilai pendidikan di era digital tidak cukup hanya mengejar jawaban yang benar. Yang jauh lebih penting adalah membiasakan peserta didik bertanya, menguji informasi, serta menyusun alasan yang logis sebelum mengambil keputusan.
“Jangan pernah takut bertanya, mencoba, dan belajar dari kesalahan. Kemampuan berpikir kritis akan menjadi bekal penting menghadapi berbagai tantangan di masa depan,” pungkasnya. (ern)














