Kanal24, Malang – Mendeteksi bakteri penyebab penyakit umumnya memerlukan proses laboratorium yang memakan waktu, biaya, serta peralatan khusus. Berangkat dari tantangan tersebut, mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) mengembangkan teknologi biosensor berbasis deep learning yang ditargetkan mampu mendeteksi bakteri secara lebih cepat, spesifik, dan terjangkau.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh Tim iGEM Brawijaya yang akan membawa nama Universitas Brawijaya dalam ajang International Genetically Engineered Machine (iGEM), kompetisi internasional bergengsi di bidang biologi sintetik yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara untuk menciptakan solusi berbasis riset bagi berbagai persoalan di masyarakat.
Baca Juga:
Doktor UB Temukan Pola Tanam Rumput Gajah yang Bikin Pakan Ternak Lebih Hemat
Berawal dari Kompetisi Dunia, Berorientasi pada Solusi
Tim iGEM Brawijaya terdiri atas Verlin Tio Yunus sebagai Team Leader sekaligus Human Practice Division, Shellvanny Han Wanda sebagai Team Vice Leader sekaligus Wet Lab Division, Vincenzio Jocelino sebagai Coordinator Lab, serta Zaskia Adyarizki Salsabila yang bertugas pada Human Practice Division.
Verlin menjelaskan bahwa iGEM bukan sekadar ajang adu kemampuan di bidang biologi sintetik, melainkan wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan inovasi yang dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
bagi masyarakat.

“Secara sederhananya, iGEM adalah kompetisi internasional di bidang biologi sintetik yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara untuk menghasilkan riset yang bisa menjadi solusi nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Melalui kompetisi tersebut, Tim iGEM Brawijaya mengembangkan teknologi biosensor yang memanfaatkan nanobody dan teknologi deep learning untuk mendeteksi bakteri secara lebih akurat.
Keikutsertaan ini juga menjadi momentum kebangkitan kembali Tim iGEM Brawijaya setelah sempat vakum selama lima tahun. Sebelumnya, Universitas Brawijaya pernah mengikuti kompetisi yang sama pada 2014, 2015, dan 2021.
“Motivasi kami yang kuat untuk meneruskan kiprah tim sebelumnya menjadi alasan terbentuknya iGEM Brawijaya. Kami ingin membawa nama baik Brawijaya di kancah internasional,” kata Verlin.
Kembangkan Kit Deteksi Bakteri Berbasis Biosensor yang Terjangkau

Salah satu fokus utama riset Tim iGEM Brawijaya adalah mengembangkan kit deteksi bakteri yang mampu bekerja secara cepat, spesifik, dan memiliki biaya yang lebih terjangkau dibandingkan metode konvensional.
Shellvanny Han Wanda menjelaskan bahwa teknologi tersebut menggabungkan pendekatan biologi sintetik dengan kecerdasan buatan (deep learning) untuk meningkatkan ketepatan proses deteksi.
“Kalau dari sisi riset sendiri, kami sedang mengembangkan kit deteksi bakteri secara spesifik dan cepat, dan yang terpenting affordable atau terjangkau,” jelas Shellvanny.
Tak hanya berfokus pada pengembangan teknologi, tim juga memperhatikan aspek penerapan inovasi melalui Human Practice Division. Divisi ini bertugas memastikan riset yang dikembangkan dapat diterima masyarakat dan benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan.

Minim Ahli Biologi Sintetik Jadi Tantangan
Di balik pengembangan teknologi tersebut, tim juga menghadapi tantangan yang tidak ringan.
Vincenzio Jocelino mengungkapkan bahwa bidang biologi sintetik dan rekayasa genetika masih memiliki jumlah peneliti yang relatif terbatas di Indonesia. Kondisi tersebut membuat proses diskusi maupun penyelesaian persoalan teknis di laboratorium menjadi lebih menantang.
“Bidang yang kami tekuni sekarang ini memiliki orang-orang yang berkecimpung di bidang tersebut masih sangat sedikit di Indonesia. Ketika kami menghadapi tantangan di laboratorium, orang yang bisa membantu troubleshooting juga masih terbatas,” ujarnya.
Untuk mengatasinya, tim aktif berdiskusi dengan berbagai akademisi, peneliti, hingga diaspora Indonesia yang memiliki pengalaman riset di luar negeri.

Ingin Inovasi Tak Berhenti di Laboratorium
Bagi Tim iGEM Brawijaya, kompetisi internasional bukanlah tujuan akhir. Mereka berharap teknologi yang dikembangkan dapat diterapkan secara nyata sehingga memberi manfaat bagi masyarakat.
“Harapan kami ke depannya, riset ini benar-benar bisa terjun ke masyarakat luas. Karena riset tidak bisa berdiri sendiri hanya dari sisi laboratorium, tetapi juga harus berjalan seiring dengan penerimaan sosial masyarakat,” tutur Verlin.
Selain itu, tim berharap kiprah mereka dapat menginspirasi mahasiswa Universitas Brawijaya lainnya untuk berani terlibat dalam riset dan kompetisi internasional.
Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, Tim iGEM Brawijaya ingin membuktikan bahwa karya mahasiswa Indonesia tidak hanya mampu bersaing di tingkat global, tetapi juga berpotensi menghadirkan solusi nyata bagi berbagai persoalan kesehatan dan kehidupan masyarakat di masa depan. (gal)














