Kanal24, Malang – Semangat melestarikan budaya lokal kembali digaungkan melalui pagelaran Ruwatan Wayang Kulit Gagrak Malangan dengan lakon “Kunjarakarna Ruwat” di Gedung Rakyat Tumpang, Kabupaten Malang. Kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan Bulan Sura Be 1960/Muharam 1448 Hijriah ini tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni tradisi, tetapi juga menghidupkan kembali kisah relief Candi Jago sebagai identitas budaya masyarakat Tumpang.
Diselenggarakan oleh Lembaga Adat Desa (LAD) Tumpang bersama Pemerintah Desa Tumpang, pagelaran tersebut menjadi wujud komitmen menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat posisi Tumpang sebagai Desa Budaya yang kini memasuki tahun ketiga pengembangannya.
Baca juga:
Bukan Sekadar Lomba!, PEKSIMIDA Jatim Jadi Panggung Ekspresi Mahasiswa

Acara dihadiri berbagai unsur pemerintahan, tokoh budaya, seniman, budayawan, tokoh lintas agama, hingga tamu mancanegara dari Amerika Serikat yang datang khusus untuk menyaksikan kekayaan tradisi khas Malang tersebut.
Menghidupkan Kisah Relief Candi Jago Lewat Wayang
Rangkaian acara diawali dengan menyanyikan Indonesia Raya, pembacaan Pancasila, sambutan para tamu, doa lintas agama, hingga prosesi Murwa Bumi yang dipimpin Dalang Ruwat Ki Soleh Adi Pramono sebagai pembuka pagelaran.
Puncaknya adalah pementasan wayang kulit Gagrak Malangan dengan lakon “Kunjarakarna Ruwat”, cerita yang diangkat dari relief Candi Jago, salah satu peninggalan bersejarah di Kecamatan Tumpang.
Lakon tersebut mengandung pesan tentang penyucian diri, kebajikan, pengabdian, dan perjalanan spiritual manusia. Nilai-nilai itu dinilai tetap relevan sebagai pedoman kehidupan masyarakat modern.
Ketua Lembaga Adat Desa (LAD) Tumpang sekaligus Daya Desa Tumpang, Siti Nurvianti, mengatakan pagelaran tersebut merupakan langkah nyata menghidupkan kembali cerita yang selama ini hanya tersimpan dalam relief batu Candi Jago.
“Ruwatan Wayang Kulit dengan lakon Kunjarakarna Ruwat merupakan ikhtiar kami untuk menghidupi kembali cerita relief Candi Jago agar tidak hanya menjadi warisan bebatuan relief, tetapi juga dipahami, dipentaskan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Inilah salah satu bentuk penguatan identitas Desa Budaya Tumpang sebagai desa yang hidup bersama budayanya,” ujarnya.
Menurutnya, pengangkatan kisah Kunjarakarna menjadi lakon wayang merupakan strategi pelestarian budaya berbasis potensi lokal yang mampu menghubungkan sejarah, pendidikan, hingga pembentukan karakter masyarakat.
Tamu Amerika Serikat Ikut Terpukau

Sepanjang pertunjukan, masyarakat memenuhi lokasi acara dan mengikuti setiap rangkaian prosesi dengan antusias. Perpaduan suasana sakral dalam ritual ruwatan dengan kemegahan seni pedalangan khas Malangan menciptakan pengalaman budaya yang sarat makna.
Menariknya, sejumlah tamu dari Amerika Serikat turut menyaksikan seluruh prosesi hingga akhir pertunjukan. Mereka memberikan apresiasi terhadap kekayaan filosofi, nilai spiritual, serta kualitas seni pertunjukan tradisional yang masih terjaga di tengah perkembangan zaman.
Kehadiran tamu internasional tersebut menunjukkan bahwa warisan budaya lokal memiliki daya tarik yang mampu menembus perhatian masyarakat dunia.
Kolaborasi Jadi Kunci Pelestarian Budaya
Kesuksesan penyelenggaraan acara juga didukung berbagai pihak, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai salah satu mitra strategis yang berkontribusi terhadap pelaksanaan kegiatan.
Kolaborasi antara pemerintah desa, lembaga adat, komunitas seni, dunia usaha, hingga masyarakat dinilai menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan kegiatan kebudayaan.
Melalui sinergi tersebut, Desa Budaya Tumpang berharap semakin banyak institusi yang terlibat dalam pelestarian seni dan budaya sebagai investasi sosial yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus memperkuat ekosistem kebudayaan yang berkelanjutan.
Dengan terselenggaranya Ruwatan Wayang Kulit “Kunjarakarna Ruwat”, Desa Tumpang kembali menegaskan komitmennya untuk tidak sekadar menjaga tradisi, tetapi juga menjadikan kebudayaan sebagai sumber pengetahuan, identitas, dan penguatan karakter masyarakat menuju pengakuan yang lebih luas di tingkat nasional maupun internasional. (nid)














