Kanal24, Malang – Indonesia masih mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan daging sapi nasional. Padahal, sekitar 90 persen usaha peternakan sapi potong di Indonesia dijalankan oleh peternak rakyat. Namun, sebagian besar masih dikelola dalam skala kecil sehingga produktivitas dan daya saingnya belum optimal.
Berangkat dari persoalan tersebut, Anie Eka Kusumastuti, S.Pt., M.P., M.Sc., menawarkan strategi penguatan kapasitas kolektif dan kelembagaan peternak melalui Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) dalam Ujian Disertasi bertajuk Analisis Keberlanjutan Peternakan Sapi Potong Rakyat Melalui Penguatan Kapasitas Kolektif dan Kelembagaan Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) di Jawa Timur yang digelar di Auditorium 1 Lantai 5 Gedung 6 Pascasarjana Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan Universitas Brawijaya, Selasa (14/7/2026).
Baca juga:
Doktor UB Temukan Pola Tanam Rumput Gajah yang Bikin Pakan Ternak Lebih Hemat
Peternakan Rakyat Perlu Naik Kelas
Anie menjelaskan penelitian ini berangkat dari kondisi peternakan sapi potong rakyat yang hingga kini masih menjadi tulang punggung penyediaan daging sapi nasional. Meski demikian, mayoritas peternak masih menjalankan usahanya secara individual sehingga sulit berkembang menjadi usaha yang berorientasi bisnis.

Menurutnya, pola tersebut membuat produktivitas peternakan nasional belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sehingga Indonesia masih harus mengandalkan impor untuk menutup kekurangan pasokan daging sapi.
“Peternakan rakyat masih banyak dikelola secara individual. Tujuannya sering kali hanya sebagai tabungan, belum berkembang menjadi usaha yang benar-benar berorientasi pada keuntungan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa keberlanjutan peternakan rakyat tidak cukup diukur dari peningkatan produksi semata. Aspek ekonomi, sosial, kelembagaan, hingga lingkungan harus berjalan secara seimbang agar usaha peternakan mampu bertahan dan berkembang dalam jangka panjang.
SPR dan Koperasi Jadi Kunci Penguatan Peternak
Melalui disertasinya, Anie menawarkan penguatan kapasitas kolektif melalui revitalisasi Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) sebagai wadah pembelajaran sekaligus penguatan kelembagaan peternak.
Menurutnya, kelembagaan yang kuat akan mempermudah peternak memperoleh akses terhadap teknologi, pembiayaan, pemasaran, hingga pendampingan usaha.
Selain itu, ia juga mengusulkan pembentukan koperasi atau korporasi peternak yang terintegrasi agar berbagai kebutuhan dapat dikelola secara bersama, mulai dari penyediaan sarana produksi hingga pemasaran hasil ternak.
“Rumusan yang kami tawarkan salah satunya adalah membentuk konsep koperasi yang lebih terintegrasi sehingga dapat mengakomodasi kebutuhan peternak rakyat,” katanya.
Melalui model tersebut, peternak diharapkan tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, tetapi mampu membangun usaha yang lebih efisien, memiliki posisi tawar yang lebih kuat, dan mampu meningkatkan kesejahteraan.
Hasil Disertasi Berpotensi Jadi Acuan Kebijakan
Promotor, Prof. Ir. Hari Dwi Utami, M.S., M.App.Sc., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., menilai penelitian tersebut memiliki nilai kebaruan karena mampu menggabungkan berbagai pendekatan analisis untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keberlanjutan peternakan sapi potong rakyat.

Menurutnya, penelitian ini tidak hanya memotret kondisi peternakan rakyat saat ini, tetapi juga menghasilkan variabel-variabel strategis yang dapat digunakan untuk memperkuat kapasitas peternak maupun kelembagaan di tingkat lapangan.
“Kami menemukan variabel-variabel kunci yang dapat meningkatkan peran kelembagaan dan kapasitas peternak sehingga mampu mendorong keberlanjutan usaha peternakan sapi potong,” jelasnya.
Prof. Hari menambahkan, hasil penelitian tersebut berpotensi menjadi policy brief bagi Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam menyusun kebijakan pengembangan peternakan sapi potong rakyat.
Ia berharap hasil disertasi tersebut tidak berhenti sebagai karya akademik semata, tetapi terus dikembangkan melalui penelitian lanjutan dan didukung pemanfaatan teknologi digital agar manfaatnya semakin luas bagi masyarakat.
“Studi doktor bukan titik akhir. Justru ini menjadi awal untuk terus mengembangkan ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat, dunia akademik, serta mendukung ketahanan pangan nasional,” pungkasnya.
Melalui penguatan kelembagaan, pengembangan koperasi, dan peningkatan kapasitas peternak, hasil penelitian ini diharapkan mampu mendorong peternakan sapi potong rakyat menjadi lebih produktif, berdaya saing, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. (ern)














