Kanal24, Malang – Memasuki usia satu abad, Stadion Gajayana tak hanya merayakan sejarahnya sebagai stadion tertua di Indonesia, tetapi juga bersiap menjadi pusat kebangkitan ekonomi kreatif Kota Malang. Selama tiga hari, ikon kota itu akan disulap menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan seni, budaya, olahraga, dan pelaku usaha kreatif dalam satu perhelatan besar.
Momentum tersebut diwujudkan melalui Festival Malang Mbois XI yang akan digelar pada 21–23 Agustus 2026. Mengusung 17 subsektor ekonomi kreatif, festival ini didukung Pemerintah Kota Malang bersama lintas kementerian dan komunitas kreatif, serta menghadirkan konser musik, pertunjukan budaya, kompetisi esports, konferensi internasional, business matching, hingga berbagai aktivitas sport tourism yang ditargetkan mampu menggerakkan ekonomi daerah.
Baca juga:
PEKERTI UB Bekali Dosen Muda Hadapi Pembelajaran Era Digital
Stadion Gajayana Jadi Simbol Kebangkitan Ekonomi Kreatif
Mewakili Wali Kota Malang dalam media briefing, perwakilan Pemerintah Kota Malang menjelaskan bahwa pemilihan Stadion Gajayana sebagai lokasi utama festival bukan tanpa alasan. Selain menjadi stadion tertua di Indonesia, tahun ini stadion tersebut genap berusia 100 tahun.

Momentum tersebut ingin dimanfaatkan untuk menghidupkan kembali kawasan stadion sebagai ruang publik yang produktif sekaligus memperkuat identitas Kota Malang sebagai kota kreatif.
Festival Malang Mbois XI mendapat dukungan lintas kementerian, mulai dari Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Ekonomi Kreatif, Kementerian Koperasi, hingga Staf Khusus Presiden. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperkuat program pengembangan ekonomi kreatif melalui sinergi antara pemerintah, komunitas, pelaku usaha, dan masyarakat.
Sebanyak 17 subsektor ekonomi kreatif akan ditampilkan selama festival berlangsung. Mulai dari kuliner, kriya, fesyen, seni pertunjukan, musik, hingga subsektor kreatif lainnya yang selama ini berkembang di Kota Malang.
Pemerintah juga menegaskan bahwa penyelenggaraan festival merupakan bagian dari optimalisasi pemanfaatan sarana olahraga. Stadion tidak lagi dipandang hanya sebagai tempat pertandingan, tetapi juga sebagai ruang yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi melalui konsep sport tourism, aktivitas UMKM, dan penyelenggaraan event berskala nasional.
Tiga Hari Penuh Musik, Budaya, Esports, dan Forum Bisnis
Selama tiga hari pelaksanaan, Festival Malang Mbois XI menghadirkan beragam agenda yang menyasar berbagai kalangan.
Melalui rangkaian Sound of Malang Menyala, hari pertama akan diisi penampilan band-band lokal Kota Malang sebagai bentuk apresiasi terhadap musisi daerah. Hari kedua menghadirkan grup musik Scouter, sementara hari terakhir mengangkat kekayaan budaya melalui pertunjukan dalang, musik etnik, serta berbagai atraksi tradisional.
Selain hiburan, festival juga menghadirkan kompetisi esports, lomba vokal, business matching, hingga international conference yang mempertemukan pelaku usaha, investor, komunitas kreatif, dan akademisi.
Penyelenggara menargetkan lebih dari 500 pelaku ekonomi kreatif terlibat dalam festival tersebut. Jumlah itu diperkirakan masih akan terus bertambah menjelang pelaksanaan acara.
Aktivitas festival tidak hanya berlangsung di dalam Stadion Gajayana. Kawasan luar stadion juga akan dimanfaatkan sebagai area pameran, bazar UMKM, ruang kuliner, hingga berbagai aktivitas kreatif sehingga seluruh kompleks stadion menjadi pusat kegiatan selama tiga hari.
Bidik 20 Ribu Pengunjung dan Perputaran Ekonomi Rp50 Miliar
Penyelenggara optimistis Festival Malang Mbois XI mampu menarik sedikitnya 20 ribu pengunjung selama tiga hari penyelenggaraan.
Target tersebut didukung berbagai agenda olahraga yang digelar bersamaan, seperti Fun Run bersama Dekopin dengan sasaran sekitar 10 ribu peserta. Selain itu, panitia juga tengah mempersiapkan agenda lari lainnya bekerja sama dengan KONI dengan target peserta yang sama. Seluruh kegiatan olahraga tersebut terbuka bagi masyarakat umum.
Untuk memperluas partisipasi masyarakat, panitia juga bekerja sama dengan Dinas Pendidikan agar siswa dapat hadir dan mengenal lebih dekat potensi ekonomi kreatif Kota Malang.
Dari sisi ekonomi, Festival Malang Mbois XI diproyeksikan menghasilkan perputaran uang minimal Rp50 miliar. Nilai tersebut berasal dari penjualan tiket konser, transaksi UMKM, penjualan produk ekonomi kreatif, hingga aktivitas bisnis yang berlangsung selama festival.
Sekitar 300 stan akan meramaikan kawasan festival dengan menghadirkan beragam produk, mulai dari kuliner, fesyen, kriya, produk retro, hingga berbagai karya kreatif lokal lainnya.
Pemerintah Kota Malang berharap Festival Malang Mbois XI tidak sekadar menjadi agenda hiburan tahunan, tetapi juga menjadi momentum memperkuat ekosistem ekonomi kreatif, membuka peluang usaha baru, meningkatkan kunjungan wisata, sekaligus menghidupkan kembali Stadion Gajayana sebagai ikon bersejarah yang tetap relevan bagi generasi masa kini. (ffn)













