Kanal24, Malang – Minyak jelantah masih sering dipandang sebagai limbah rumah tangga yang tak lagi bernilai. Padahal, jika dibuang sembarangan ke saluran air atau tanah, minyak bekas goreng dapat mencemari lingkungan dan mengganggu kualitas ekosistem. Berangkat dari persoalan tersebut, mahasiswa Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB) menghadirkan ECOFILTER 12, sebuah teknologi sederhana yang dirancang untuk membantu proses pemurnian awal minyak jelantah sebelum dikelola lebih lanjut.
Inovasi tersebut diperkenalkan melalui Program Mahasiswa Membangun Mitra (3M) Kelompok 49 yang dilaksanakan di Kelurahan Sumbersari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, pada 22 Juni hingga 3 Juli 2026. Program ini mendapat pendampingan dari Prof. Yusuf Hendrawan, S.TP., M.App.Life.Sc., Ph.D. dan Hendri Cahya Aprilianto, S.TP., M.T., Ph.D., dengan melibatkan pengurus PKK sebagai mitra utama dalam penyebarluasan teknologi kepada masyarakat.
Baca juga:
Dokter Ungkap Cara Cegah Penyakit pada Gen Z 2
ECOFILTER 12 Jadi Solusi Pengolahan Minyak Jelantah
Prof. Yusuf Hendrawan menjelaskan, program tersebut berangkat dari tingginya penggunaan minyak goreng secara berulang di rumah tangga maupun pelaku usaha kecil. Di sisi lain, pengelolaan minyak jelantah masih belum optimal sehingga berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan.

Untuk menjawab tantangan tersebut, tim mahasiswa mengembangkan ECOFILTER 12, alat pre-treatment berbasis pompa yang menggunakan sistem filtrasi bertingkat. Teknologi ini memanfaatkan media spons, serabut kelapa sebagai bioadsorben, zeolit, dan karbon aktif untuk menyaring minyak secara bertahap.
“Kami sengaja mengajak 18 pengurus PKK Sumbersari dengan harapan nantinya mereka dapat meneruskan pengetahuan ini kepada masyarakat hingga pelaku UMKM setempat. Inovasi ini dipilih karena tingginya penggunaan minyak goreng berulang dan belum adanya pengelolaan minyak jelantah yang baik,” ujar Prof. Yusuf.
Ia menambahkan, ECOFILTER 12 mampu membantu mengurangi pengotor, warna, dan bau pada minyak jelantah sehingga proses pengelolaannya menjadi lebih efektif sekaligus mendukung pengurangan limbah rumah tangga.
PKK Jadi Mitra Edukasi Pengelolaan Limbah Rumah Tangga
Program pengabdian ini tidak hanya menyerahkan alat kepada masyarakat, tetapi juga membekali peserta dengan pelatihan penggunaan dan perawatan ECOFILTER 12.

Selama kegiatan, mahasiswa mengenalkan setiap komponen alat, mekanisme kerja sistem filtrasi bertingkat, hingga tata cara pengoperasian yang benar. Peserta juga mendapatkan materi mengenai penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) serta Standard Operating Procedure (SOP) sebagai pedoman penggunaan alat.
Kelurahan Sumbersari mendukung penuh pelaksanaan program melalui penyediaan lokasi kegiatan dan koordinasi peserta bersama Lurah Mitin Kartikasari serta penggerak PKK Jannah.
Keterlibatan PKK dinilai menjadi kunci keberlanjutan program karena para anggotanya diharapkan dapat meneruskan pengetahuan tersebut kepada masyarakat maupun pelaku usaha mikro yang sehari-hari menggunakan minyak goreng dalam jumlah cukup besar.
Selain pelatihan, tim mahasiswa juga menyusun modul Teknologi Tepat Guna (TTG) beserta SOP tertulis agar teknologi tersebut tetap dapat dimanfaatkan setelah program berakhir.
Dorong Budaya Pengelolaan Limbah yang Berkelanjutan
Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan berbagai diskusi mengenai pengelolaan minyak jelantah yang aman di lingkungan rumah tangga maupun UMKM. Peserta memanfaatkan sesi tersebut untuk berkonsultasi mengenai penggunaan alat hingga potensi pemanfaatan minyak jelantah agar tidak langsung menjadi limbah.
Melalui program ini, mahasiswa berharap masyarakat mulai membangun kebiasaan baru dalam mengelola minyak jelantah secara lebih bertanggung jawab. Dengan teknologi yang sederhana, mudah dioperasikan, dan dapat diterapkan di tingkat rumah tangga, pencemaran lingkungan akibat pembuangan minyak bekas diharapkan dapat ditekan.
Program ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) dan SDG 12 (Responsible Consumption and Production). Kolaborasi antara Universitas Brawijaya, pemerintah kelurahan, dan masyarakat diharapkan mampu mendorong terciptanya lingkungan yang lebih bersih sekaligus memperkuat budaya pengelolaan limbah rumah tangga secara berkelanjutan. (ern)














