Kanal24, Malang – Dosen Program Studi Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) membekali siswa SMA Plus Al-Kautsar Malang dengan pemahaman Global Citizenship Education (GCED) atau pendidikan kewargaan global. Melalui program pengabdian kepada masyarakat, para siswa diajak memperkuat sikap toleran, berpikir kritis, serta bijak menyikapi berbagai informasi yang beredar di era digital.
Kegiatan bertajuk “Penguatan Perspektif Global Citizenship Education melalui Pemahaman Moderasi Beragama Intra-Muslim” tersebut digelar pada Rabu (5/8/2026) dan diikuti 30 siswa SMA Plus Al-Kautsar Malang. Program ini merupakan bagian dari pengabdian masyarakat internal FISIP UB Tahun 2026 yang berfokus pada penguatan wawasan global, toleransi, literasi digital, dan kemampuan berpikir kritis generasi muda.
Baca Juga:
FTAB UB Hibahkan Mesin Produksi Kacang Bawang untuk UMKM
Perkuat Wawasan Global Sejak Bangku Sekolah
Kegiatan diawali dengan pre-test untuk memetakan pemahaman awal peserta mengenai pendidikan kewargaan global, toleransi, stereotip, Islam global, dinamika Timur Tengah, moderasi beragama intra-Muslim, dan literasi digital.
Selanjutnya, dosen HI FISIP UB, Abdullah, S.Sos., M.Hub.Int., menyampaikan materi secara interaktif dengan mengaitkan berbagai isu global dengan pengalaman sehari-hari siswa, terutama dalam penggunaan media sosial dan interaksi di lingkungan sekolah.
Dalam pemaparannya, Abdullah menjelaskan bahwa menjadi warga global tidak berarti meninggalkan identitas sebagai pelajar, warga negara Indonesia, maupun seorang Muslim. Sebaliknya, wawasan global dapat memperkuat kemampuan untuk memahami perbedaan secara adil, menghargai keberagaman, serta tetap berpegang pada nilai dan keyakinan tanpa merendahkan kelompok lain.
Ia juga menjelaskan bahwa moderasi beragama bukan berarti mencampuradukkan keyakinan, melainkan kemampuan untuk bersikap teguh pada prinsip, santun, seimbang, mengutamakan dialog, serta menolak segala bentuk kekerasan.
Bekali Siswa Hadapi Tantangan Ruang Digital
Selain membahas keberagaman, tim pengabdian juga mengajak peserta mengenali tantangan di ruang digital. Siswa diperkenalkan pada risiko stereotip, ujaran kebencian, disinformasi, dan polarisasi yang kerap berkembang melalui konten singkat maupun informasi viral.
Untuk membantu peserta lebih berhati-hati dalam menerima informasi, tim memperkenalkan prinsip SARING, yaitu memeriksa sumber, mencari bukti, membaca isi secara utuh, mengidentifikasi konteks, menilai dampak, dan menggunakan sumber pembanding sebelum membagikan informasi.
Abdullah juga menjelaskan bahwa generasi muda perlu dibekali kemampuan membaca isu global secara kontekstual. Informasi mengenai agama, konflik, maupun kawasan tertentu tidak dapat dipahami hanya melalui satu video, satu komentar, atau satu potongan berita. Karena itu, kemampuan berpikir kritis diperlukan agar siswa tidak mudah melakukan generalisasi, memberi label, atau menyimpulkan karakter suatu kelompok berdasarkan informasi yang terbatas.
FGD Dorong Siswa Berpikir Kritis
Setelah sesi materi dan tanya jawab, peserta dibagi ke dalam lima kelompok untuk mengikuti Focus Group Discussion (FGD) dan menyusun mind map. Setiap kelompok membahas topik yang berbeda, mulai dari intoleransi di sekolah, stereotip terhadap agama atau mazhab, informasi viral dan ujaran kebencian, dialog antarbudaya dan antarpendapat, hingga peran pelajar sebagai warga global.
Melalui diskusi tersebut, peserta diminta mengidentifikasi bentuk permasalahan, penyebab, dampak, nilai-nilai pendidikan kewargaan global yang berkaitan, serta solusi yang dapat diterapkan di lingkungan sekolah. Hasil pembahasan kemudian dipresentasikan dan memperoleh masukan dari tim fasilitator.
Pendekatan ini dirancang agar siswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga mampu mengolah informasi, menyampaikan pendapat, mendengarkan perspektif orang lain, serta menyusun solusi terhadap persoalan yang dihadapi di lingkungan sekitar.
Kegiatan ditutup dengan post-test, sesi refleksi, pemberian apresiasi kepada kelompok dengan mind map terbaik, serta dokumentasi bersama. Sebagai tindak lanjut, tim FISIP UB juga menyiapkan bahan edukasi mengenai pendidikan kewargaan global, moderasi beragama, Islam dalam konteks global, toleransi, serta literasi digital yang dapat dimanfaatkan sekolah sebagai materi pembelajaran lanjutan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan siswa SMA Plus Al-Kautsar Malang semakin mampu menjadi warga digital yang bijak, terbuka terhadap keberagaman, dan bertanggung jawab dalam menyampaikan informasi. Sekolah juga diharapkan terus menjadi ruang yang aman untuk berdialog, menghargai perbedaan, dan membangun budaya damai. Program ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dalam membekali generasi muda menghadapi tantangan masyarakat global serta mendorong terciptanya kehidupan sosial yang inklusif dan penuh kepedulian bersama. (gal)














