Kanal24, Malang – Universitas Brawijaya (UB) memperkuat komitmen terhadap penyelenggaraan kegiatan mahasiswa baru yang inklusif melalui penyediaan berbagai fasilitas pendampingan bagi mahasiswa difabel dalam rangkaian Raja Brawijaya Candrasena 64.
Salah satu bentuk dukungan tersebut adalah penyediaan pita pengenal khusus bagi mahasiswa dari Fabel. Identitas tersebut digunakan untuk memudahkan panitia dan peserta lain mengenali mahasiswa yang membutuhkan dukungan selama mengikuti rangkaian kegiatan.
Panitia Raja Brawijaya juga berkolaborasi dengan Pusat Layanan Disabilitas (PLD) UB dalam menyediakan juru bahasa isyarat (JBI), pendamping, serta pembekalan bagi panitia yang bertugas mendampingi mahasiswa difabel.
Baca juga:
Tim Kesehatan Siaga Dampingi Maba Raja Brawijaya 2026

Pita Pengenal untuk Mudahkan Pendampingan
Panitia Divisi Acara Raja Brawijaya 2026, Azriel Firoz Okan R, mengatakan penggunaan pita pengenal ditujukan untuk memudahkan identifikasi mahasiswa dari Fabel selama mengikuti rangkaian kegiatan.
Menurutnya, identitas tersebut diharapkan membuat panitia maupun mahasiswa lain dapat lebih cepat memberikan bantuan ketika dibutuhkan.
“Itu memang ditujukan untuk memudahkan dan juga untuk mengenali mana teman-teman yang mahasiswa di Fabel. Sehingga nantinya dari teman-teman panitia maupun teman-teman yang lain bisa memberikan bantuan,” ujar Okan.
Berdasarkan data yang dihimpun panitia per 8 Agustus 2026, terdapat sekitar 27 mahasiswa Fabel yang tergabung dalam satu klaster. Namun, jumlah tersebut masih memungkinkan bertambah karena terdapat mahasiswa yang belum seluruhnya terdata sebagai bagian dari Fabel.
Kondisi tersebut membuat identifikasi dan pendampingan menjadi bagian penting selama pelaksanaan kegiatan mahasiswa baru.
Panitia Berkolaborasi dengan PLD UB
Untuk memastikan mahasiswa difabel dapat mengikuti rangkaian kegiatan dengan baik, panitia Raja Brawijaya berkolaborasi dengan PLD UB dalam menyiapkan sejumlah dukungan.
Selain menyediakan juru bahasa isyarat, panitia juga menyiapkan pendamping dan supervisor. Mereka mendapatkan pembekalan mengenai cara mendampingi mahasiswa difabel, termasuk pengenalan bahasa isyarat dan penanganan selama kegiatan berlangsung.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya panitia agar mahasiswa difabel dapat mengikuti rangkaian Raja Brawijaya bersama mahasiswa baru lainnya.

JBI Dukung Akses Informasi Mahasiswa Tuli
Salah satu dukungan yang terlihat dalam pelaksanaan Raja Brawijaya 2026 adalah kehadiran Juru Bahasa Isyarat (JBI). Salah satu JBI yang bertugas, Gusti Cahya Rizky Ramadhani, mengatakan dirinya bertugas sebagai JBI layar dalam rangkaian kegiatan tersebut.
Meski tidak secara langsung mendampingi mahasiswa tuli di lokasi, ia menilai kehadiran JBI menjadi bagian penting dalam membangun kegiatan mahasiswa baru yang lebih inklusif.
Menurut Gusti, Raja Brawijaya setiap tahun telah menyediakan pendamping dan JBI melalui kolaborasi dengan PLD untuk membantu mahasiswa difabel.
“Keren banget ya Raja Brawi karena tiap tahun selalu menyediakan pendamping dan JBI, selalu kolaborasi sama PLD untuk membantu teman-teman di Fabel,” ungkap Gusti.
Kehadiran fasilitas tersebut menunjukkan bahwa penyambutan mahasiswa baru tidak hanya berfokus pada kemeriahan kegiatan, tetapi juga memperhatikan kebutuhan mahasiswa dengan beragam kondisi.
Melalui penyediaan identitas khusus, pendamping, hingga JBI, Raja Brawijaya Candrasena 64 menjadi salah satu ruang bagi UB untuk memastikan mahasiswa baru dapat mengikuti proses pengenalan kehidupan kampus secara lebih setara dan nyaman. (nid)














