Kanal24, Malang – Lingkungan perguruan tinggi diisi mahasiswa dengan latar belakang, kemampuan, dan kebutuhan yang beragam. Kondisi tersebut membuat inklusivitas tidak hanya berkaitan dengan akses fasilitas, tetapi juga bagaimana mahasiswa memperoleh dukungan untuk mengikuti proses akademik, membangun relasi, dan merasa aman selama menjalani kehidupan kampus.
Komitmen tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) FILKOM UB 2026 yang dimulai Kamis (13/8/2026) di Auditorium Algoritma FILKOM UB. Selain mengenalkan kehidupan akademik, rangkaian kegiatan tersebut menjadi momentum FILKOM UB memperkenalkan lingkungan kampus yang mendukung mahasiswa dengan kebutuhan beragam, termasuk mahasiswa penyandang disabilitas.
Baca Juga:
Raja Brawijaya 2026 Perkuat Fasilitas Inklusif bagi Maba Difabel
FILKOM Perkuat Akses bagi Mahasiswa Disabilitas
Pada angkatan 2026, terdapat enam mahasiswa baru FILKOM UB yang diterima melalui jalur SPKPD atau Seleksi Penerimaan Kelompok Penyandang Disabilitas. Keenam mahasiswa tersebut tersebar di tiga program studi, yakni dua mahasiswa Sistem Informasi, dua mahasiswa Teknik Informatika, dan dua mahasiswa Teknik Komputer.
Secara akumulasi, FILKOM UB saat ini melayani lebih dari 30 mahasiswa disabilitas. Fakultas menyediakan jalur khusus bagi penyandang disabilitas serta toilet yang dikhususkan bagi kebutuhan mereka.
Dukungan juga diberikan dalam proses akademik melalui pendamping perkuliahan yang dapat berasal dari volunteer tingkat Universitas Brawijaya maupun fakultas. Namun, layanan tersebut masih perlu ditingkatkan karena pendamping terkadang tidak memiliki latar belakang keilmuan yang sesuai dengan materi perkuliahan.
Untuk mengurangi kesenjangan tersebut, FILKOM mulai mempersiapkan perangkat speech-to-text. Mikrofon yang dipasang pada dosen akan terhubung dengan receiver pada perangkat mahasiswa sehingga materi yang disampaikan dapat langsung tertulis di layar laptop.
Selain teknologi, FILKOM juga mengatur penempatan mahasiswa agar tidak tersebar di terlalu banyak kelas. Mahasiswa dengan kebutuhan yang sama dapat ditempatkan dalam satu kelas sehingga memiliki ruang untuk saling berbagi dan mendukung ketika mengikuti mata kuliah.
Keberagaman Maba Jadi Bagian Kampus Inklusif
Inklusivitas FILKOM UB juga tercermin dari jalur penerimaan dan asal daerah mahasiswa baru. Selain enam mahasiswa melalui jalur SPKPD, terdapat 15 mahasiswa baru yang diterima melalui jalur SPI atau Seleksi Program Internasional. Seluruhnya berasal dari Program Studi Informasi S1.
Meski disebut mahasiswa internasional dalam konteks jalur penerimaan, data kewarganegaraan menunjukkan tidak terdapat mahasiswa baru berkewarganegaraan asing pada angkatan 2026. Istilah tersebut merujuk pada mahasiswa yang diterima melalui kelas program internasional, bukan status kewarganegaraan.
Dari sisi asal daerah, mahasiswa baru S1 FILKOM UB 2026 berasal dari 34 provinsi. Jawa Timur menjadi daerah asal terbanyak dengan 390 mahasiswa atau 39,35 persen, disusul Jawa Barat 114 mahasiswa, DKI Jakarta 109 mahasiswa, Jawa Tengah 56 mahasiswa, dan Banten 44 mahasiswa.
Keberagaman tersebut turut mendukung terciptanya lingkungan akademik yang inklusif, adaptif, dan kolaboratif. Upaya tersebut sejalan dengan kontribusi FILKOM UB terhadap SDG 3 tentang kesehatan dan kesejahteraan serta SDG 4 mengenai pendidikan berkualitas.
Cegah Loneliness dan Perploncoan Sejak Awal
Selain aksesibilitas, FILKOM UB memberi perhatian pada kesehatan mental mahasiswa, khususnya loneliness. Fakultas mendorong terbentuknya bonding kuat dalam satu angkatan agar mahasiswa memiliki lingkungan untuk saling bercerita dan memberi dukungan.
Dalam pelaksanaan PKKMB, mahasiswa senior ditempatkan sebagai fasilitator di setiap kelompok. Peran tersebut diarahkan untuk membantu mahasiswa baru mengenali lingkungan kampus dan proses akademik, bukan melakukan tindakan yang merendahkan atau membully.
Sebelum mendampingi mahasiswa baru, para fasilitator mendapat pembekalan dari Unit Layanan Konseling Terpadu. Wakil Dekan III FILKOM UB, Dr. Eng. Budi Darma Setiawan, S.Kom., M.Cs., menegaskan bahwa senior ditempatkan sebagai pendamping bagi mahasiswa baru.

“Senior sifatnya memberikan bantuan, bukan membully atau memojokkan.”
Pendekatan tersebut diperkuat dengan upaya membangun relasi antarmahasiswa sejak awal. Dengan demikian, PKKMB tidak hanya menjadi agenda penyambutan, tetapi juga menjadi langkah awal FILKOM UB membentuk lingkungan pendidikan yang inklusif, aman, dan mendukung mahasiswa berkembang selama masa studi. (ndr)














