Kanal24, Malang – Bagi mahasiswa, pengabdian tidak cukup hanya dilakukan lewat program di atas kertas. Ilmu dan gagasan yang dimiliki perlu dibawa langsung untuk menjawab persoalan di masyarakat. Semangat itu menjadi bagian dari Mega Ekspedisi Brawijaya (MEB) 2026 yang digelar Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya (EM UB).
Pelepasan MEB 2026 berlangsung di Ruang Rapat Balai Senat Lantai 2 Universitas Brawijaya, Jumat (14/8/2026). Ekspedisi ini menyasar Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Timor Leste dengan fokus pada kesehatan, stunting, kearifan lokal, dan ekonomi kreatif. Rangkaian pelepasan tersebut menjadi bagian dari agenda MEB 2026.
Baca Juga:
FILKOM UB Bangun Kampus Inklusif, dari Disabilitas hingga Mental
MEB 2026 Angkat Persoalan Kesehatan dan Ekonomi Kreatif
Wakil Ketua Pelaksana MEB 2026, Sang Ayu Made Vimahalaksmi Yudyawarasinta atau Vimaha, mengatakan kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mahasiswa menerapkan pengetahuan yang dimiliki melalui pengabdian kepada masyarakat.

Menurutnya, MEB tidak ditujukan untuk sekadar membuat kegiatan dalam skala besar. Hal yang lebih penting adalah bagaimana program yang dibawa dapat mengubah pemahaman masyarakat dan mendorong aksi yang bisa dilakukan secara langsung.
“Yang kami pengin adalah bisa merubah mindset masyarakat di sana tentang kearifan lokal, ekonomi kreatif, dan juga kesehatan mereka,” ujar Vimaha.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian utama adalah stunting. Melalui program yang dibawa, mahasiswa ingin membantu masyarakat memahami upaya pencegahan stunting sekaligus mendorong adanya tindakan nyata.
Selain kesehatan, MEB juga memberi perhatian pada ekonomi kreatif. Mahasiswa berupaya mendorong masyarakat melihat potensi yang ada dan mengembangkan inovasi sesuai kondisi di wilayah masing-masing.
Vimaha menilai capaian MEB bukan semata-mata soal seberapa besar kegiatan yang dilaksanakan. Perubahan pemahaman dan manfaat yang bisa dirasakan masyarakat menjadi hal yang lebih penting.
Mahasiswa Hubungkan Kampus dengan Masyarakat
Menteri Sosial Masyarakat Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya 2026, Ahmad Firza Fahreza Sani, mengatakan EM UB turut terlibat dalam pembentukan program kerja MEB yang dilaksanakan di NTT dan Timor Leste.

Ia menyebut MEB merupakan bentuk implementasi tridarma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Program yang dibawa juga disusun dengan melihat kebutuhan masyarakat di wilayah sasaran.
“MEB sangat penting bagi masyarakat karena yang pertama kami selaku mahasiswa itu turut untuk mengimplementasikan tridarma perguruan tinggi. Poin ketiga yakni pengabdian ke masyarakat,” kata Ahmad.
Menurut Ahmad, pendekatan yang digunakan dalam MEB bersifat demand driven. Artinya, program pengabdian disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, bukan hanya berdasarkan program yang telah disiapkan mahasiswa.
Sejumlah isu yang menjadi perhatian meliputi stunting, kesehatan, dan ekonomi sirkular. Mahasiswa juga akan membawa inovasi rekayasa makanan yang mengandung protein tinggi sebagai bagian dari upaya mendukung perbaikan gizi seimbang dan pencegahan stunting.
Antusiasme masyarakat juga menjadi salah satu hal yang dirasakan dalam pelaksanaan program. Ahmad mengatakan masyarakat menyambut kedatangan mahasiswa dan menantikan proses belajar bersama serta inovasi yang dibawa.
“Yang kedua, mereka sangat menunggu kedatangan kami untuk kami bersama-sama belajar, untuk kami bersama-sama membawa inovasi rekayasa makanan yang mengandung protein tinggi untuk upaya perbaikan gizi seimbang dan juga stunting,” ujarnya.
Dalam kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya bertugas sebagai panitia. Mereka juga menjadi penghubung antara Universitas Brawijaya dengan masyarakat di desa binaan di NTT dan Timor Leste.
MEB 2026 Didorong Berlanjut Setiap Tahun
Pelaksanaan ekspedisi lintas negara memiliki tantangan tersendiri. Vimaha menyebut administrasi, urusan lintas negara, serta komunikasi menjadi beberapa hal yang perlu diperhatikan karena MEB melibatkan banyak pihak.
“Yang pertama administrasi, lalu ada urusan lintas negara, terus komunikasinya karena di sini melibatkan banyak sekali subjek-subjek ada rektorat di sana, ada perdana menteri, ada KBRI juga yang masih membuat semakin kompleks,” jelasnya.
Meski demikian, tantangan tersebut tidak mengubah tujuan MEB untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Program kesehatan, pencegahan stunting, serta pengembangan ekonomi kreatif diharapkan dapat menjadi bagian dari pengabdian yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Vimaha berharap program yang dibawa dalam MEB mampu memberikan perubahan pemahaman dan manfaat nyata. Ia juga ingin kegiatan tersebut turut mendukung upaya Universitas Brawijaya menjadi kampus yang berdampak.
Sementara itu, Ahmad berharap MEB tidak berhenti pada pelaksanaan tahun 2026. Program tersebut diharapkan dapat terus berjalan dan dikembangkan pada tahun-tahun berikutnya.
“Harapan kami bersama yakni turut menjalankan secara berkelanjutan program Mega Ekspedisi Brawijaya di tahun-tahun berikutnya,” pungkasnya.(gal)














