Kanal24, Malang – Ribuan tukik bergerak perlahan menuju laut dari Pantai Taman Kili-Kili, Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, Trenggalek. Momen tersebut menjadi bagian dari upaya panjang menjaga keberlangsungan penyu sekaligus ekosistem pesisir yang menjadi habitatnya. Di kawasan ini, konservasi tidak hanya diarahkan pada penyelamatan satwa, tetapi juga melibatkan masyarakat dan pengembangan riset biodiversitas.
Universitas Brawijaya (UB) bersama Pemerintah Kabupaten Trenggalek dan masyarakat lokal melepas sekitar 1.300 tukik ke laut pada Rabu (19/8/2026). Pelepasan tukik menjadi bagian dari rangkaian kegiatan konservasi sekaligus menandai pengembangan Living Laboratory atau laboratorium hidup biodiversitas pesisir. Program tersebut melibatkan perguruan tinggi, pemerintah daerah, kelompok masyarakat, serta berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap kelestarian lingkungan.
Baca Juga:
MMD UB 20 Hidupkan Rumah Belajar Langlang, 39 Anak Terlibat
Living Laboratory Perkuat Riset Biodiversitas Pesisir
Rektor UB Prof. Widodo mengatakan pengembangan Living Laboratory di Taman Kili-Kili diarahkan menjadi ruang terbuka untuk pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus mendukung masyarakat dan pemerintah daerah dalam menjaga ekosistem.
“Ke depan, kegiatan ini terus ditingkatkan melalui pembentukan Living Laboratory, khususnya yang berfokus pada keanekaragaman hayati pesisir,” kata Prof. Widodo.
Taman Kili-Kili dipilih karena menjadi salah satu kawasan pendaratan penyu yang konsisten. Penyu diketahui mendarat untuk bertelur pada periode April hingga September. Karakteristik tersebut membuat kawasan ini memiliki potensi sebagai lokasi penelitian biodiversitas pesisir secara berkelanjutan.
Ketua Pelaksana Dr. Fuad mengatakan pendampingan UB bersama Pemkab Trenggalek dan masyarakat Taman Kili-Kili telah berlangsung sejak 2010. Keterlibatan akademisi dilakukan melalui berbagai kegiatan, mulai dari praktik kerja lapangan, penelitian multidisiplin, hingga penyiapan sarana laboratorium terbuka.
“Tujuan akhirnya melestarikan biodiversitas di sana. Bukan hanya penyu, tetapi juga biodiversitas lainnya,” ujar Fuad.
Pendampingan Ubah Peran Masyarakat
Konservasi di Taman Kili-Kili juga membawa perubahan pada keterlibatan masyarakat. Perwakilan Pusat Studi Pesisir dan Kelautan FPIK UB Zulkisam Pramudia menjelaskan, pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan turut mengubah cara pandang warga terhadap penyu dan telur yang ditemukan di kawasan tersebut.

Sebelum pendampingan konservasi dilakukan, telur dan penyu yang mendarat masih dimanfaatkan sebagian masyarakat untuk konsumsi. Edukasi mengenai status penyu sebagai satwa yang perlu dilindungi kemudian perlahan mendorong perubahan perilaku.
Masyarakat mulai membentuk kelompok yang terlibat dalam kegiatan konservasi. Perannya tidak hanya menjaga kawasan, tetapi juga menyelamatkan dan menetaskan telur penyu hingga tukik siap dilepas ke habitat alaminya.
Menurut Zulkisam, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting karena keberhasilan konservasi tidak cukup hanya mengandalkan penelitian atau kebijakan. Masyarakat yang berada di sekitar kawasan justru memiliki peran langsung dalam menjaga keberlangsungan ekosistem.
Dalam pelepasan sekitar 1.300 tukik tersebut, seluruh tukik telah melalui pemeriksaan fisik dan pergerakan morfologi. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan serta kelengkapan fisik tukik sebelum dilepas ke laut.
Konservasi Perlu Beri Manfaat Ekonomi
Zulkisam menilai keberlanjutan konservasi perlu berjalan beriringan dengan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Karena itu, pengembangan Taman Kili-Kili ke depan dapat diarahkan pada ekowisata, edukasi lingkungan, UMKM, hingga produk kreatif berbasis potensi pesisir.
Pendekatan tersebut membuat konservasi tidak berhenti pada perlindungan satwa. Masyarakat juga memiliki peluang memperoleh manfaat ekonomi dari kawasan tanpa harus mengorbankan keberlanjutan ekosistem.
“Konservasi tidak bisa hanya melihat aspek lingkungan tanpa memperhatikan ekonomi,” ujar Zulkisam.
Pengembangan kawasan riset terbuka tersebut diharapkan mendapat dukungan kebijakan dan anggaran dari Pemkab Trenggalek. Dukungan itu diperlukan agar Taman Kili-Kili dapat berkembang sebagai pusat pembelajaran biodiversitas pesisir yang menghubungkan kepentingan ekologis, sains, dan kesejahteraan masyarakat.
“Pengembangan kawasan riset terbuka ini diharapkan terus mendapat dukungan kebijakan dan anggaran dari Pemkab Trenggalek, sehingga Taman Kili-Kili mampu menjadi pusat pembelajaran biodiversitas pesisir yang memadukan kepentingan ekologis, sains, dan kesejahteraan warga lokal,” kata Zulkisam.
Pelepasan 1.300 tukik menjadi bagian dari perjalanan konservasi yang telah dibangun selama lebih dari satu dekade. Melalui pengembangan Living Laboratory, UB bersama pemerintah daerah dan masyarakat kini mendorong Taman Kili-Kili tidak hanya sebagai kawasan perlindungan penyu, tetapi juga ruang riset dan pembelajaran biodiversitas pesisir yang dapat memberi manfaat bagi lingkungan dan warga sekitar. (ndr/nid)














