Kanal24, Malang – Persaingan ekonomi global menuntut generasi muda tidak hanya mampu menciptakan peluang bisnis, tetapi juga menghadirkan inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat. Gagasan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam 18th Katulistiwa National Seminar bertajuk Impact for the New Economy: Pioneering Sustainable Innovation to Drive Global Competitiveness yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB).
Seminar berlangsung di Aula Gedung F Lantai 7 FEB UB, Senin (24/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian 18th Katulistiwa yang diselenggarakan LSME FEB UB. Selain seminar, rangkaian kegiatan mencakup Business Plan Competition, Scientific Paper Competition, expo, field trip, gala dinner, hingga awarding.
Sebanyak 20 tim finalis dengan total 60 peserta mengikuti dua kompetisi utama dalam kegiatan tersebut. Masing-masing kompetisi diikuti 10 tim, yakni Business Plan Competition dan Scientific Paper Competition.
Baca Juga:
Investasi Beiersdorf Perkuat Ekonomi Kabupaten Malang
Menggeser Orientasi dari Profit ke Dampak
Project Officer 18th Katulistiwa, I Kadek Restu Adi Dwiputra, mengatakan tema tahun ini dipilih untuk mendorong generasi muda melihat potensi Indonesia sebagai ruang untuk melahirkan inovasi yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Menurutnya, kekuatan Indonesia dari sisi sumber daya alam dan sumber daya manusia perlu diikuti kemampuan untuk mengolah potensi tersebut menjadi gagasan yang memberikan manfaat lebih luas.

“Dengan potensi yang ada pada anak muda, khususnya di Indonesia, dengan potensi yang ada di Indonesia baik itu dari SDA, SDM-nya, kita ini harusnya mampu dalam bentuk ekonomi kita juga bisa membuat sesuatu hal yang berkelanjutan yang benar-benar memiliki impact untuk Indonesia nantinya,” ujarnya.
Persoalan yang muncul di masyarakat, lanjut Kadek, tidak selalu harus dipandang sebagai hambatan. Kondisi tersebut juga dapat menjadi titik awal bagi anak muda untuk menemukan kebutuhan baru, merancang solusi, dan mengubahnya menjadi peluang ekonomi.
Pendekatan itu kemudian dibawa ke dua kompetisi utama. Business Plan Competition menjadi ruang bagi peserta mengembangkan gagasan bisnis, sementara Scientific Paper Competition memberikan ruang untuk menguatkan gagasan melalui pendekatan ilmiah.
Katulistiwa Dikembangkan Lebih dari Kompetisi
Penyelenggaraan ke-18 juga membawa perubahan dalam konsep kegiatan. Setelah gelaran sebelumnya lebih banyak dilakukan secara daring, tahun ini Katulistiwa kembali mempertemukan peserta secara langsung di lingkungan FEB UB.
Kehadiran peserta secara luring tidak hanya ditujukan untuk kebutuhan kompetisi. Panitia memperluas rangkaian kegiatan agar peserta memperoleh pengalaman akademik dan nonakademik selama berada di Malang.
“Di tahun ini lebih kompleks agar tidak hanya kompetisi saja. Jadi, peserta itu juga bisa ada expo, ada seminar, ada field trip dan juga nantinya bakal ada gala dinner dan awarding,” jelas Kadek.
Format tersebut membuat peserta tidak hanya berhadapan dengan penilaian kompetisi. Mereka juga mendapatkan kesempatan untuk bertemu peserta lain, mengikuti diskusi, mengenal lingkungan kampus, serta membangun jejaring yang dapat berkembang setelah kegiatan berakhir.
Dengan konsep tersebut, Katulistiwa mencoba menempatkan kompetisi sebagai salah satu bagian dari ekosistem kegiatan, bukan menjadi tujuan akhir seluruh rangkaian.
Menjaga Gagasan Tetap Hidup Setelah Acara
Bagi penyelenggara, keberhasilan 18th Katulistiwa tidak hanya diukur dari terlaksananya seluruh agenda. Keberlanjutan kegiatan dan jangkauan gagasan yang dihasilkan juga menjadi perhatian.
Kadek mengatakan penguatan eksistensi Katulistiwa melalui website dan media sosial menjadi salah satu rencana yang ingin dikembangkan. Media tersebut diharapkan dapat menjadi ruang untuk memperluas informasi mengenai kegiatan sekaligus menjaga komunikasi dengan peserta dan masyarakat setelah acara selesai.
“Karena tentu poin dari kami adalah itu tadi, impact. Jadi impact forever seperti itu,” katanya.
Semangat tersebut menunjukkan bahwa isu keberlanjutan dalam 18th Katulistiwa tidak hanya ditempatkan pada gagasan bisnis yang dibawa peserta. Panitia juga ingin membangun keberlanjutan dari kegiatan itu sendiri melalui jejaring, publikasi, dan ruang kolaborasi.
Melalui 18th Katulistiwa, FEB UB membuka ruang bagi generasi muda untuk melihat ekonomi dari perspektif yang lebih luas. Daya saing tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar nilai ekonomi yang dapat diciptakan, tetapi juga oleh kemampuan sebuah inovasi menjawab persoalan dan mempertahankan manfaatnya dalam jangka panjang. (ndr)














