Kanal24, Malang – Barisan rapi, langkah serempak, dan sikap sempurna menjadi gambaran yang melekat pada Paskibra dan Paskibraka. Namun, kemampuan tampil presisi di lapangan sebenarnya baru sebagian dari cerita. Pertanyaan yang lebih penting justru muncul setelah upacara selesai: apakah kedisiplinan dan rasa cinta tanah air itu tetap terbawa ketika seragam sudah dilepas?
Nasionalisme bagi Paskibra dan Paskibraka tidak cukup dibuktikan melalui hafalan Pancasila ataupun tugas mengibarkan Duplikat Bendera Pusaka. Nilai tersebut perlu terlihat dalam cara mereka memperlakukan orang lain, menjalankan tanggung jawab, menghadapi perbedaan, hingga mengambil peran di lingkungan sekitar. Dengan kata lain, lapangan upacara menjadi tempat latihan, sementara kehidupan sehari-hari menjadi ruang pembuktiannya.
Baca Juga:
HUT ke-81 RI, UB Tegaskan Peran Kampus Majukan Pendidikan
Baris-Berbaris Hanya Salah Satu Bagian
Tugas Paskibraka memang menuntut latihan fisik dan kedisiplinan yang tinggi. Gerakan harus dilakukan secara tepat karena setiap anggota menjadi bagian dari satu kesatuan. Kesalahan satu orang dapat memengaruhi keseluruhan formasi.
Namun, pembinaan Paskibraka tidak berhenti pada kemampuan tersebut. Pancasila, kepemimpinan, etika, nasionalisme, kedisiplinan, dan pembentukan karakter turut menjadi bagian penting dalam proses pembinaan.
Hal ini menunjukkan bahwa Paskibraka tidak semata dipersiapkan untuk tampil dalam seremoni kenegaraan. Ada proses pembentukan karakter yang diharapkan membekas setelah tugas selesai. Sebab, kemampuan berjalan tegap akan kehilangan makna jika tidak diikuti dengan kemampuan bersikap dan bertanggung jawab.
Nasionalisme Mulai Terlihat Saat Seragam Dilepas
Justru setelah upacara selesai, tantangan sebenarnya dimulai. Seorang Paskibra kembali menjadi pelajar, teman, anggota keluarga, sekaligus bagian dari masyarakat. Di ruang-ruang itulah nilai nasionalisme berhadapan dengan situasi yang lebih nyata.
Menghargai teman yang berbeda latar belakang, tidak merendahkan orang lain, menjaga persatuan, menyelesaikan tugas, serta mau membantu lingkungan merupakan bentuk nasionalisme yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Tidak harus selalu berupa tindakan besar. Menjaga kebersihan lingkungan, menghormati pendapat orang lain, hingga tidak membiarkan perbedaan menjadi alasan untuk saling menjauh juga merupakan bentuk kontribusi sederhana.
Karena itu, pengalaman menjadi Paskibra semestinya tidak berhenti sebagai kebanggaan karena pernah mengenakan seragam khusus. Disiplin yang dibentuk selama latihan seharusnya terbawa ke ruang kelas, organisasi, lingkungan tempat tinggal, hingga kehidupan sosial.
Bukan Hanya Berdiri Tegap
Ada kecenderungan melihat keberhasilan Paskibra dari hal yang mudah terlihat: formasi yang sempurna, gerakan yang kompak, dan pelaksanaan upacara yang berjalan lancar. Padahal, ukuran yang lebih sulit justru tidak terlihat di lapangan.
Bagaimana seseorang bersikap ketika tidak sedang diawasi? Bagaimana ia memperlakukan orang yang berbeda dengannya? Dan apakah rasa tanggung jawab tetap ada ketika tidak ada seragam yang dikenakan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting karena nasionalisme bukan sekadar sesuatu yang diucapkan dalam ikrar. Ia terlihat dari kebiasaan dan keputusan kecil yang dilakukan setiap hari.
Pada akhirnya, Paskibra tidak hanya dituntut mampu berdiri tegap di hadapan bendera. Lebih dari itu, mereka perlu memiliki keberanian untuk berdiri bagi bangsanya melalui sikap, tanggung jawab, dan kontribusi nyata.
Sebab, nasionalisme yang sebenarnya bukan hanya terlihat ketika bendera dikibarkan, tetapi ketika seragam telah dilepas dan seseorang tetap memilih melakukan hal yang benar. (ndr)













