Kanal24, Malang – Pemerintah resmi bersiap meningkatkan bauran biodiesel berbasis minyak kelapa sawit menjadi B60 pada 2027. Langkah strategis ini diambil guna memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menekan ketergantungan pada impor bahan bakar minyak (BBM).
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, mengungkapkan bahwa implementasi B60 merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto pascapeluncuran program B50 pada Juli 2026 lalu.
“Persiapan kini fokus pada kesiapan pasokan bahan baku dan kapasitas industri pengolahan,” ujar Yuliot dalam gelaran The 12th Indonesia EBTKE ConEx 2026 di Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Baca juga:
KAI Kembangkan Trem Listrik untuk Atasi Kemacetan Bali
Lompatan Baru: Dari B50 Menuju B60 pada 2027
Saat ini, Indonesia tengah menguji coba penggunaan B50—bahan bakar diesel dengan campuran 50 persen fatty acid methyl ester (FAME) berbasis minyak kelapa sawit. Pemerintah menargetkan porsi bahan bakar hayati tersebut naik menjadi 60 persen melalui program B60 pada 2027 mendatang.
Langkah ini merupakan instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Saat meluncurkan program B50 pada Juli 2026 lalu, Presiden meminta agar pengembangan bahan bakar ramah lingkungan tersebut tak berhenti di angka 50 persen, melainkan terus diakselerasi hingga mencapai B60.

Bagi pemerintah, peningkatan komposisi biodiesel merupakan bagian dari strategi memperkuat kemandirian energi nasional. Program B50 sendiri dirancang untuk mengurangi kebutuhan impor solar sekaligus meningkatkan pemanfaatan sumber daya domestik.
Kementerian ESDM menyebut implementasi B50 diproyeksikan dapat menghentikan impor produk solar tertentu. Pemerintah juga memperkirakan program tersebut memberikan dampak ekonomi melalui penghematan devisa, peningkatan kebutuhan CPO, penyerapan tenaga kerja, serta pengurangan emisi gas rumah kaca.
Dengan target B60, pemerintah ingin melanjutkan capaian tersebut sekaligus memperbesar pemanfaatan bahan bakar nabati dalam sistem energi nasional.
Pasokan CPO dan Kesiapan Industri Jadi Kunci Utama
Implementasi target B60 pada 2027 mendatang masih bergantung pada kesiapan rantai pasok bahan baku. Menurut Wamen ESDM Yuliot Tanjung, pemetaan pasokan minyak sawit mentah (CPO) menjadi pilar utama yang tengah disiapkan pemerintah saat ini.
Kenaikan konsentrasi FAME ke angka 60 persen menuntut ketersediaan CPO secara signifikan. Pemerintah pun mendorong evaluasi pada sektor hulu guna mendongkrak produktivitas perkebunan, sekaligus memastikan kesiapan kapasitas industri pengolahan FAME di hilir.
Sementara itu, Direktur Jenderal EBTKE Eniya Listiani Dewi menjelaskan bahwa formulasi teknis FAME untuk B60 masih dalam tahap kajian, termasuk wacana penggunaan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO). Namun, Eniya memberi catatan bahwa harga HVO yang berkisar 1,5 sampai 2 kali lebih mahal ketimbang FAME menjadi pertimbangan ekonomis yang harus dihitung secara cermat.
Tantangan B60: Dari Pasokan CPO hingga Biaya Produksi
Target penerapan B60 menegaskan ambisi pemerintah dalam menggenjot energi terbarukan berbasis sumber daya lokal. Namun, keberhasilan program ini tak sekadar diukur dari tingginya persentase bauran.
Pembelajaran dari proyek B50 membuktikan bahwa penguatan ketahanan energi dan penekanan impor solar hanya bisa dicapai jika fondasi industrinya kokoh. Sebelum B60 bergulir secara komersial, seluruh rantai pasok—mulai dari ketersediaan CPO, kapasitas industri FAME, spesifikasi BBM, hingga jalur distribusi—wajib dipastikan siap.
Jika kesiapan hulu dan hilir ini dapat terpenuhi, B60 tak cuma memperbesar penyerapan CPO domestik, tetapi juga memperkuat posisi industri biodiesel nasional. Kini, menyongsong tenggat 2027, fokus utama pemerintah adalah menjaga agar kebijakan ambisius ini tetap rasional secara teknis dan berkelanjutan secara ekonomi..(ffn) (adr)












