Kanal24, Malang – Penutupan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang berlangsung berbeda. Alih-alih sekadar seremoni, penutupan KKN-T dikemas melalui festival film dokumenter desa dalam tajuk “Asta Pesona Desanesia 2026”.
Mengusung tema “Merajut Karya, Menghidupkan Potensi, dan Meninggalkan Jejak Bermakna bagi Desa”, kegiatan tersebut menjadi panggung apresiasi bagi mahasiswa yang merekam potensi dan kehidupan desa melalui karya audiovisual.
Kegiatan berlangsung di Hall KH Moch Said Unira Malang, Rabu (2/9/2026). Agenda ini sekaligus menjadi rangkaian akhir KKN-T yang sebelumnya mengusung tema “Penguatan Ekosistem Desa Wisata Berdampak dan Berkelanjutan.”
Baca juga:
Seragam Boleh Dilepas, Tapi Nasionalisme Paskibra Jangan Ikut Hilang

Film Dokumenter Jadi Jejak Pengabdian Mahasiswa
Ketua pelaksana kegiatan, Dr. Alif Achada, M.Pd., mengatakan konsep penutupan tahun ini dirancang tidak hanya untuk menandai berakhirnya masa pengabdian mahasiswa. Festival juga menjadi ruang untuk mengapresiasi kreativitas peserta dalam mendokumentasikan potensi desa.
“Penutupan KKN tahun ini digelar meriah dengan tema Asta Pesona Desanesia. Acara ini menjadi salah satu panggung untuk mengapresiasi hasil karya video sinematik bagi peserta KKN tahun ini,” ujar Alif.
Menurutnya, film dokumenter yang diproduksi mahasiswa merupakan bentuk dokumentasi kreatif selama menjalani proses live-in dan pengabdian di desa.
Karya tersebut tidak hanya menampilkan keindahan alam, tetapi juga mengangkat potensi, kehidupan masyarakat, serta kearifan lokal yang menjadi identitas masing-masing desa.
Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unira Malang, Abdillah, menambahkan bahwa karya mahasiswa turut melibatkan masyarakat dalam proses produksinya.
“Dalam karya ini menyuguhkan keindahan, potensi, dan kearifan lokal desa tempat KKN yang dikolaborasikan dengan warga sekitar,” ujarnya.
Menurut Abdillah, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting karena mahasiswa tidak hanya bertugas membuat dokumentasi. Mereka juga berinteraksi secara langsung dengan warga untuk memahami cerita, potensi, dan kehidupan desa secara lebih dekat.
Karena itu, delapan video sinematik yang dihasilkan diharapkan tidak berhenti sebagai karya perlombaan. Film-film tersebut juga diharapkan dapat menjadi arsip visual yang memperkenalkan potensi desa kepada masyarakat secara lebih luas.
“Dalam karya delapan video sinematik diharapkan akan abadi dan menjadi warisan visual yang menginspirasi dan sarat akan makna,” ungkapnya.

Delapan Desa Jadi Objek Dokumentasi
Rektor Unira Malang, H. Imron Rosyadi Hamid, S.E., M.Si., Ph.D., turut mengapresiasi konsep festival film dokumenter dalam Asta Pesona Desanesia 2026.
Menurutnya, festival tersebut mempertegas orientasi Unira Malang yang menempatkan desa sebagai ruang belajar sekaligus ruang kolaborasi bagi mahasiswa.
Mahasiswa tidak hanya dituntut mengidentifikasi potensi lokal, tetapi juga membangun komunikasi dengan masyarakat dan menerjemahkan pengalaman pengabdian menjadi karya yang memberikan nilai tambah bagi desa.
“Festival Film Dokumenter Desa tersebut mempertegas orientasi Unira Malang yang menempatkan desa sebagai ruang belajar sekaligus ruang kolaborasi,” ujar Imron.
Ia menambahkan, perpaduan antara pengabdian, kreativitas, dokumentasi, dan apresiasi diharapkan membuat pengalaman KKN-T memiliki manfaat yang lebih panjang.
Ketika potensi desa berhasil direkam dan diceritakan melalui karya visual, pengalaman mahasiswa tidak berhenti ketika mereka meninggalkan lokasi KKN.
Setelah sambutan Kepala LPPM dan Rektor Unira Malang, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan doa oleh KH. Dr. Romadhon Chatib, M.H., selaku Ketua Yayasan Pendidikan Tinggi Raden Rahmat.
Agenda kemudian memasuki acara utama berupa pemutaran delapan film secara bertahap berdasarkan hasil undian.
Kedelapan desa yang menjadi lokasi KKN-T sekaligus objek film dokumenter tersebut yakni Srigonco, Senggreng, Sumber Tempur, Bangelan, Ngawonggo, Kidal, Langlang, dan Toyomarto.
Pemutaran film dilakukan dalam empat sesi pasangan, yakni film pertama dan kedua, ketiga dan keempat, kelima dan keenam, serta ketujuh dan kedelapan.
Kidal, Bangelan, dan Sumber Tempur Raih Apresiasi
Dari delapan karya yang ditampilkan, tiga film dokumenter desa ditetapkan sebagai pemenang.
Desa Kidal meraih juara pertama, disusul Desa Bangelan sebagai juara kedua dan Desa Sumber Tempur sebagai juara ketiga.
Acara kemudian ditutup dengan penyerahan apresiasi dan doorprize kepada mahasiswa serta Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN-T Unira Malang.
Melalui Asta Pesona Desanesia 2026, penutupan KKN-T Unira Malang tidak hanya menjadi penanda berakhirnya masa pengabdian mahasiswa.
Festival tersebut menjadi perayaan atas perjalanan mahasiswa selama berada di desa: mahasiswa datang untuk belajar, masyarakat menjadi mitra untuk berkarya, sementara desa meninggalkan cerita yang diabadikan melalui karya visual.













