Kanal24, Malang – Banyaknya persoalan kesehatan mental yang dihadapi mahasiswa, mulai dari tekanan akademik, relasi sosial, keluarga, hingga tuntutan lingkungan, menjadi latar belakang penyusunan Buku Panduan Literasi Kesehatan Mental untuk Mahasiswa. Buku tersebut dihadirkan sebagai upaya meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap kondisi psikologisnya sekaligus mendorong kesejahteraan mental selama menjalani kehidupan perkuliahan.
Hal tersebut disampaikan Ulifa Rahma, S.Psi., M.Psi., Psikolog dan Dr. Unita Werdi Rahajeng, S.Psi., M.Psi., Psikolog selaku penulis buku dalam acara Bedah Buku Panduan Literasi Kesehatan Mental untuk Mahasiswa yang berlangsung di Ruang Pertemuan 2, Gedung UPT Perpustakaan Universitas Brawijaya (UB), Rabu (02/09/2026). Buku ini juga menjadi salah satu bentuk dukungan Subdirektorat Konseling UB terhadap program prioritas Rektor di bidang kesehatan mental UB Tangguh dan Resilien.
Baca juga:
Maulid Nabi di UB Dorong Mahasiswa Bangun Karakter dan Resiliensi
Berangkat dari Persoalan Kesehatan Mental Mahasiswa
Ulifa Rahma menjelaskan, penyusunan buku panduan tersebut dilatarbelakangi oleh banyaknya fenomena persoalan kesehatan mental yang dialami mahasiswa. Persoalan tersebut tidak hanya ditemukan di lingkungan UB, tetapi juga menjadi tantangan yang lebih luas di kalangan mahasiswa di Indonesia.
“Banyak masalah-masalah terkait dengan kesehatan mental sehingga kita ingin memberikan dukungan yang optimal agar mahasiswa bisa meningkatkan literasi kesehatan mental dan juga meningkatkan kesejahteraan psikologis,” ujar Ulifa.

Selain merespons persoalan kesehatan mental mahasiswa, buku tersebut juga menjadi bagian dari dukungan terhadap program prioritas Rektor UB di bidang kesehatan mental melalui konsep UB Tangguh dan Resilien. Subdirektorat Konseling kemudian menyusun buku tersebut sebagai bentuk dukungan bagi mahasiswa UB maupun mahasiswa secara umum.
Dr. Unita Werdi Rahajeng menambahkan, buku tersebut tidak hanya berfokus pada pembahasan kesehatan mental. Mahasiswa juga diajak membangun kesadaran untuk lebih mengenali dirinya sendiri, termasuk memahami berbagai kondisi psikologis, proses mental, serta tantangan yang umum dihadapi selama masa perkuliahan.
Bahas Akademik hingga Relasi Sosial
Buku panduan tersebut membahas berbagai persoalan yang berkaitan dengan kehidupan mahasiswa. Pembahasannya mencakup masalah sosial, akademik, proses belajar, budaya, lingkungan, tren di sekitar, keluarga, hingga relasi dengan orang lain.
Salah satu persoalan yang turut menjadi perhatian adalah social comparison atau kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain. Persoalan tersebut menjadi salah satu konteks yang dapat memengaruhi kondisi psikologis mahasiswa.
Materi dalam buku juga disusun dengan mempertimbangkan pemetaan persoalan yang ditemukan melalui praktik layanan konseling. Berbagai permasalahan yang dihadapi mahasiswa kemudian dikaitkan dengan teori psikologi untuk melihat bentuk kerentanan sekaligus cara menghadapinya.
Menurut Ulifa, literasi kesehatan mental penting agar mahasiswa mampu mengenali kondisi dirinya dan mengetahui langkah yang dapat dilakukan ketika menghadapi persoalan psikologis. Pemahaman tersebut juga diharapkan dapat membantu mengurangi stigma negatif terhadap kesehatan mental.
“Yang kedua adalah untuk mereduksi dan juga menghindari stigma negatif terkait dengan kesehatan mental,” jelasnya.
Literasi kesehatan mental juga membantu mahasiswa memahami kapan persoalan dapat ditangani secara mandiri dan kapan membutuhkan bantuan dari orang lain maupun tenaga profesional.
Dorong Mahasiswa Saling Memberi Dukungan
Buku panduan tersebut juga diarahkan agar mahasiswa memiliki pengetahuan dasar untuk memberikan dukungan kepada teman sebaya yang menghadapi persoalan kesehatan mental. Mahasiswa diharapkan mampu melakukan deteksi dini, mengetahui langkah awal yang dapat dilakukan, serta merujuk kepada bantuan profesional apabila persoalan membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Unita menjelaskan, kesehatan mahasiswa tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik. Kesehatan mental juga menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan kemampuan mahasiswa menjalankan fungsi akademiknya.
Menurutnya, berbagai persoalan psikologis dapat memiliki hubungan dengan keberhasilan mahasiswa dalam menjalani perkuliahan. Karena itu, perhatian terhadap kondisi mental menjadi bagian penting agar mahasiswa dapat menyelesaikan pendidikan dengan baik.
“Tujuan gol akhirnya agar mahasiswa ini bisa menyelesaikan perkuliahan dengan baik dan lulusnya sehat mental. Jadi masuk sehat keluar sehat,” ungkap Unita.
Para penulis berharap mahasiswa tidak hanya membaca buku tersebut, tetapi juga mempraktikkan berbagai tips yang tersedia dalam kehidupan sehari-hari. Informasi di dalamnya juga diharapkan dapat dibagikan kepada teman maupun lingkungan sekitar sehingga semakin banyak mahasiswa yang memiliki pemahaman mengenai kesehatan mental.
Ulifa berharap mahasiswa dapat menjalani kehidupan perkuliahan dengan aman dan nyaman, mengembangkan potensi secara optimal, serta memiliki kemampuan mengelola kesehatan mental dan diri sendiri. Kemampuan tersebut diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa ketika memasuki dunia kerja maupun kehidupan setelah lulus.
Sementara itu, Unita berharap buku yang berisi berbagai tips tersebut dapat menjadi salah satu pilihan bagi mahasiswa yang sedang menghadapi kondisi kurang baik secara psikologis. Buku tersebut juga telah dibagikan secara internal di lingkungan fakultas, khususnya kepada bagian kemahasiswaan, sehingga dapat menjadi bahan pendukung bagi pihak yang memberikan pendampingan kepada mahasiswa.(ffn)













