Kanal24, Malang – Musim kemarau membuat ancaman kebakaran di kawasan hutan semakin sulit diabaikan. Vegetasi yang mengering dapat membuat api lebih cepat menyebar, sementara luas kawasan hutan menjadi tantangan tersendiri bagi petugas dalam melakukan pemantauan dari permukaan.
Menghadapi kondisi tersebut, pengelola UB Forest memanfaatkan drone termal Matrice 30T untuk memperkuat deteksi dini kebakaran. Dipadukan dengan patroli lapangan, teknologi ini membantu petugas menemukan indikasi titik panas dari udara, menentukan lokasi yang perlu diperiksa, hingga mempercepat respons ketika ditemukan titik api.
Baca juga:
Pencarian 5 Jurnalis Selat Sunda Diperluas
Drone Termal Perkuat Deteksi Dini
Koordinator Bidang Perlindungan dan Pengawasan Kawasan Hutan UB Forest, Dr. Muhammad Yusuf, S.Si., M.Si., mengatakan kondisi musim kemarau yang lebih kering meningkatkan risiko kebakaran. Karena itu, pemantauan kawasan dilakukan secara lebih intensif.

Drone termal digunakan untuk memantau titik panas di kawasan UB Forest maupun wilayah yang berbatasan dengan kawasan hutan. Ketika muncul indikasi panas, petugas lapangan segera diarahkan menuju lokasi untuk memastikan kondisi sekaligus melakukan penanganan apabila ditemukan api.
“Kalau ada titik panas, langsung kami datangi untuk cek. Kalau ada titik api, itu kami segera matikan,” kata Yusuf.
Fungsi tersebut terlihat dalam patroli pemantauan pada 25–27 Agustus 2026. Pengelola menemukan titik api di wilayah perbatasan barat UB Forest. Lokasinya berada di luar kawasan UB Forest, tepatnya di wilayah yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan.
Meski berada di luar kawasan, titik api tersebut tetap menjadi perhatian karena berpotensi merembet apabila tidak segera ditangani.
“Setelah titik tersebut terdeteksi, staf lapang kami langsung menuju ke daerah tersebut. Ada titik api, langsung kami padamkan,” ujar Yusuf.
Petugas kemudian melakukan pemadaman hingga api berhasil dikendalikan dan tidak meluas. Pemantauan kembali dilakukan setelah pemadaman untuk memastikan tidak terdapat titik api susulan.
“Alhamdulillah masih aman. Tidak ditemukan titik api. Teman-teman juga melakukan pengecekan lagi dengan menggunakan drone, tidak ada penemuan titik api,” kata Yusuf.
Matrice 30T Baca Suhu hingga Koordinat
Koordinator KJF Bidang Pendidikan, Pelatihan dan Pengembangan, Rifqi Rahmat Hidayatullah, S.Hut., M.Si., menjelaskan drone termal digunakan untuk memperluas jangkauan patroli. Teknologi ini melengkapi patroli konvensional yang dilakukan dengan berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan.
“Drone termal itu kami gunakan untuk patroli deteksi dini kebakaran. Kalau misalkan kita secara konvensional, patroli jalan kaki atau menggunakan motor itu kan jangkauannya terbatas. Kami juga menggunakan drone untuk menjangkau lebih luas dan lebih efektif dan efisien,” ujar Rifqi.
Matrice 30T dilengkapi sensor termal yang mampu mendeteksi suhu permukaan. Ketika terdapat area dengan suhu lebih tinggi dibandingkan kondisi di sekitarnya, petugas dapat mengarahkan drone ke titik tersebut untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Kamera pada drone juga memiliki kemampuan perbesaran sehingga kondisi lokasi dapat diamati dengan lebih jelas. Hasil pengamatan kemudian membantu petugas memastikan apakah sumber panas yang terdeteksi merupakan titik api atau sumber panas lainnya.
Selain membaca suhu, drone dapat memberikan informasi koordinat lokasi yang terdeteksi. Data tersebut menjadi acuan bagi staf lapangan untuk menentukan titik yang perlu segera diperiksa.
“Drone termal yang kami gunakan bisa mengetahui langsung koordinatnya di mana kalau terjadi kebakaran,” ujar Yulianto Muji Nugroho, S.Si., Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP) UB Forest.
Salah satu titik panas yang terdeteksi berada pada koordinat 7.824301° LS dan 112.572614° BT, dengan ketinggian lokasi sekitar 1.247 meter di atas permukaan laut.
Dalam satu kali penerbangan, Matrice 30T dapat digunakan untuk membantu memantau area sekitar 10 hektare dengan jarak pemantauan maksimal sekitar 500 meter. Jangkauan tersebut membantu petugas memperoleh gambaran awal kondisi kawasan dari udara tanpa harus langsung menyisir seluruh area secara manual.
Namun, penggunaan drone tetap memiliki keterbatasan. Durasi penerbangan bergantung pada daya baterai dan dalam sekali penerbangan dapat berlangsung sekitar 30 menit.
“Drone termal ini memang membantu dalam proses deteksi, tetapi durasi penerbangannya terbatas. Sekali terbang paling sekitar 30 menit, sehingga kalau ingin melakukan patroli dalam waktu yang lebih lama tentu membutuhkan baterai lebih banyak dan untuk pelaksanaan patroli 2 kali dalam seminggu. Selain itu, drone termal ini hanya membantu mendeteksi titik api dan tidak bisa langsung memadamkan api. Jadi, ketika ditemukan titik api, petugas tetap harus datang ke lokasi untuk melakukan pemadaman,” jelas Yulianto.
Karena itu, drone tetap ditempatkan sebagai alat pendukung deteksi dini, bukan pengganti patroli lapangan. Informasi dari udara menjadi dasar bagi petugas untuk menentukan lokasi prioritas sebelum melakukan pengecekan dan pemadaman secara langsung.
Edukasi Masyarakat Jadi Benteng Pencegahan
Pemanfaatan teknologi juga dibarengi edukasi kepada masyarakat dan petani yang beraktivitas di sekitar kawasan UB Forest. Langkah ini dinilai penting karena aktivitas manusia, termasuk pembukaan dan pembersihan lahan dengan cara membakar, dapat meningkatkan risiko kebakaran saat kondisi lingkungan kering.
Rifqi mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas yang berpotensi menimbulkan api. Ia juga mengingatkan agar api untuk pembersihan lahan tidak ditinggalkan sebelum benar-benar padam.
“Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai aktivitas yang berpotensi menimbulkan api. Kami juga mengimbau agar pembakaran tidak dilakukan secara sembarangan dan api tidak ditinggalkan sebelum benar-benar padam. Bara yang masih tersisa dapat kembali memicu api dan menyebar ke vegetasi kering di sekitarnya,” ujar Rifqi.
Pengelola UB Forest juga melibatkan petani penggarap melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS). Keterlibatan tersebut diharapkan memperkuat pengawasan karena masyarakat dan petani beraktivitas langsung di sekitar kawasan hutan.
Yusuf berharap keterlibatan masyarakat dapat membangun kewaspadaan bersama sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat ketika muncul titik api.
“Kalau ada insiden semacam titik api atau semacam kebakaran, harapannya juga bisa saling membantu,” ujar Yusuf.
Menurut Rifqi, mitigasi kebakaran tidak cukup hanya mengandalkan teknologi. Kesadaran masyarakat tetap menjadi bagian penting untuk mencegah api sejak awal.
“Harapannya masyarakat, terutama petani yang beraktivitas di sekitar kawasan hutan, semakin berhati-hati. Kalau melakukan pembakaran untuk pembersihan lahan, jangan sampai ditinggalkan dan harus dipastikan apinya benar-benar padam, karena kondisi musim kemarau seperti sekarang risikonya lebih besar untuk menyebar,” ujar Rifqi.
Dengan menggabungkan patroli lapangan, pemanfaatan drone termal, respons cepat terhadap titik panas, serta edukasi dan keterlibatan masyarakat, pengelola UB Forest memperkuat sistem deteksi dini kebakaran.
Drone menjadi mata dari udara untuk membantu menemukan lokasi yang perlu diperiksa, sementara petugas tetap menjadi ujung tombak dalam memastikan dan menangani titik api. Kolaborasi teknologi dan respons lapangan tersebut diharapkan mampu mencegah kebakaran berkembang hingga mengancam kawasan hutan yang lebih luas. (ern)













