Kanal24, Malang – Sebanyak 85 karya ilmiah masuk dalam rangkaian lomba ilmiah The 4th Brawijaya Medical Conference (BMC) International Tuberculosis Conference 2026. Puluhan karya tersebut mengangkat berbagai kajian terkait tuberkulosis (TBC) dan penyakit infeksi, sekaligus menjadi ruang bagi dokter, tenaga kesehatan, peneliti, hingga mahasiswa untuk mempresentasikan hasil penelitian mereka.
Koordinator Scientific Paper BMC 2026, dr. Dewi Indiastari, SpPD KPTI, mengatakan lomba ilmiah tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong budaya penelitian dan publikasi ilmiah, khususnya di bidang TBC dan penyakit infeksi lainnya.
Baca juga:
Akademisi Kyoto University Bekali Mahasiswa PWK UB Wawasan Kota Berkelanjutan

85 Karya Ikuti Seleksi Ilmiah
Dewi menjelaskan, dari 85 poster yang masuk, satu karya tidak dapat mengikuti proses selanjutnya karena tidak memenuhi kualifikasi yang telah ditetapkan. Sementara itu, karya lainnya melalui proses seleksi untuk menentukan poster yang dipresentasikan dan ditampilkan selama kegiatan BMC.
Dari keseluruhan karya tersebut, sebanyak 36 poster masuk dalam kategori poster presentation, sedangkan 38 lainnya ditampilkan dalam sesi displayed poster. Selain itu, terdapat 10 karya terbaik yang mendapatkan penilaian khusus dalam rangkaian kompetisi ilmiah.
Karya yang masuk berasal dari beragam bentuk penelitian, mulai dari original research, systematic review, meta-analysis, case report, hingga case series.
“Untuk acara lomba ilmiah kali ini mengusung tema tersebut dari beberapa aspek, baik update ilmu pengetahuan molekuler, penyuluhan, pengabdian masyarakat, maupun penelitian-penelitian terkini,” ujar Dewi saat ditemui dalam rangkaian BMC, Sabtu (12/9/2026).
Dorong Budaya Riset dan Presentasi Internasional
Menurut Dewi, lomba ilmiah tersebut tidak hanya ditujukan untuk menghasilkan kompetisi antarpeserta. BMC juga ingin menyediakan wadah bagi dokter, tenaga kesehatan, peneliti, dan mahasiswa untuk menyampaikan hasil penelitian maupun kegiatan ilmiah yang telah mereka lakukan.
Ia berharap ruang tersebut dapat meningkatkan budaya penelitian sekaligus mendorong kemampuan peserta dalam mempresentasikan hasil karya di tingkat internasional.
Peserta lomba pun tidak hanya berasal dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB). Sejumlah praktisi dan peneliti dari universitas, rumah sakit, serta fakultas kesehatan lain turut berpartisipasi.
Dewi menyebut peserta datang dari sejumlah daerah, di antaranya Bandung, Lampung, hingga Manado.
Sementara itu, proses penilaian dilakukan oleh juri internal FK UB yang dipilih berdasarkan pengalaman dan kompetensi di bidang tuberkulosis serta penyakit infeksi lainnya.

Karya Terpilih Berpeluang Masuk Jurnal Scopus
Tidak berhenti pada kompetisi, karya-karya terbaik yang dihasilkan dalam BMC juga diarahkan untuk memiliki keberlanjutan melalui publikasi ilmiah.
Dewi mengatakan, beberapa poster yang terpilih nantinya berpeluang dipublikasikan pada jurnal internasional terafiliasi Scopus. Namun, publikasi tersebut tidak berlaku untuk seluruh karya karena akan dilakukan seleksi kembali berdasarkan kualitas penelitian.
“Beberapa poster yang terpilih nanti akan ada publikasi ke jurnal Scopus yang terafiliasi. Tentu saja tidak semua, akan kita pilih mana yang berkualitas,” jelasnya.
Menurut Dewi, peluang tersebut diharapkan dapat membantu peneliti maupun penyaji poster mengembangkan hasil penelitian mereka hingga publikasi di jurnal internasional bereputasi.
Di sisi lain, kesempatan tersebut juga diharapkan mendorong peserta lain untuk terus memperbarui penelitian dan menghasilkan karya ilmiah yang dapat dipublikasikan.
Dengan demikian, rangkaian lomba ilmiah BMC tidak hanya menjadi ajang presentasi penelitian, tetapi juga bagian dari upaya FK UB memperkuat ekosistem riset, publikasi, dan pertukaran pengetahuan di bidang TBC serta penyakit infeksi. (nid)













