Kanal24, Malang – Dosen Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya (FKH UB) turut mengambil peran dalam penguatan kompetensi penanggulangan bencana nasional melalui keterlibatan sebagai asesor kompetensi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Keterlibatan tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi sivitas akademika UB dalam mendukung kesiapan tenaga profesional yang terlibat dalam penanganan bencana. Keahlian yang dimiliki dosen FKH juga dapat memperluas perspektif penanggulangan bencana, khususnya dalam melihat kebutuhan penanganan di lapangan secara lebih menyeluruh.
Salah satu dosen FKH UB yang terlibat sebagai asesor kompetensi BNPB adalah Dr. drh. Albiruni Haryo, M.Sc., AP.Vet. Ia mengatakan keterlibatannya dalam bidang kebencanaan telah dimulai sejak 2014, ketika dirinya mulai menekuni persoalan kebencanaan yang berkaitan dengan hewan.
Baca juga:
Wapres Undang Tim ADAPT-V UB ke Istana, Minta 100 Rompi Pintar

Kompetensi Jadi Bekal Utama di Lapangan
Menurut Albiruni, keterlibatan dalam penanggulangan bencana tidak cukup hanya bermodalkan keinginan untuk membantu. Setiap tenaga profesional maupun relawan yang turun ke lapangan perlu memiliki kompetensi yang sesuai dengan tugasnya.
Ia menjelaskan, banyak relawan memiliki kepedulian dan bergerak secara sukarela ketika bencana terjadi. Namun, tanpa kompetensi dan pembagian tugas yang jelas, niat membantu justru berpotensi menimbulkan persoalan baru di lapangan.
“Kompetensi ini perlu diukur, perlu dilatih untuk nantinya kita tahu bagaimana kemudian kita bisa bertugas di lapangan tidak tumpang tindih, tahu tugasnya dan sesuai dengan bidangnya,” ujar Albiruni dalam wawancara eksklusif, Kamis (17/9/2026).
Selain kemampuan teknis, menurutnya, tenaga kebencanaan juga membutuhkan kemampuan komunikasi dan kolaborasi. Kondisi lapangan yang dinamis membuat setiap pihak harus memahami posisi dan tugas masing-masing.
Ia juga menekankan pentingnya menurunkan ego ketika berada dalam situasi bencana. Setiap profesi memiliki keahlian masing-masing, tetapi penanganannya tetap harus berada dalam satu sistem koordinasi.
Pelatihan Harus Dilakukan Sebelum Bencana
Albiruni menilai kesiapan tenaga kebencanaan tidak bisa dibangun secara mendadak ketika bencana sudah terjadi. Pelatihan dan penguatan kompetensi perlu dilakukan jauh sebelum situasi darurat muncul.
Menurutnya, pengalaman di lapangan menunjukkan adanya kebutuhan untuk memperjelas standar kompetensi dan pihak yang dapat memberikan pelatihan bagi tenaga yang akan terlibat dalam penanganan bencana.
Ia menyebut sejumlah kebutuhan di lapangan, termasuk tenaga dengan kemampuan khusus seperti pencarian menggunakan anjing pelacak maupun tim yang memiliki pemahaman mengenai penanganan hewan dalam kondisi bencana.
Namun, keberadaan tim khusus tersebut tetap membutuhkan standar kompetensi yang jelas agar setiap personel memahami kemampuan dan tanggung jawabnya.
“Pelatihan bencana itu harus diadakan dahulu sebelum bencananya terjadi. Jangan terbalik. Jangan kemudian saat bencana datang berduyun-duyun untuk kemudian berlatih,” tegasnya.
Menurut Albiruni, pendekatan tersebut juga menjadi ruang bagi perguruan tinggi untuk berkontribusi. UB dengan sumber daya sivitas akademika yang beragam dinilai memiliki potensi untuk mengembangkan pelatihan dan penguatan kompetensi yang dapat mendukung kebutuhan kebencanaan.
Kolaborasi Perlu Diperkuat
Selain kompetensi individu, koordinasi antarpihak menjadi bagian penting dalam penanganan bencana. Albiruni mengatakan tenaga profesional yang turun ke lapangan harus memahami rantai komando dan mengikuti struktur koordinasi yang telah ditetapkan.
Pada tingkat nasional, penanganan bencana berada dalam koordinasi BNPB, sedangkan di daerah melibatkan BPBD serta berbagai instansi terkait.
Menurutnya, tenaga dengan keahlian tertentu tidak dapat bekerja sendiri hanya berdasarkan bidang masing-masing. Pembagian tugas harus disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan agar tidak terjadi tumpang tindih.
“Jangan sampai egonya muncul. Merasa dokter hewan terus semuanya hewan itu di-handle semua. Jelas salah itu. Jadi kita akan ikut komando koordinasi, bagi tugas siapa, ada dinas terkait juga, bagaimana strukturnya,” jelasnya.
Dalam konteks tersebut, keterlibatan dosen FKH UB sebagai asesor kompetensi BNPB tidak hanya berkaitan dengan keahlian kedokteran hewan. Peran tersebut juga menjadi bagian dari upaya memastikan tenaga yang terlibat dalam kebencanaan memiliki kompetensi, memahami tugas, serta mampu bekerja bersama pihak lain.
Albiruni berharap keterlibatan UB dalam bidang kebencanaan dapat terus dikembangkan. Menurutnya, sivitas akademika yang telah memiliki kompetensi dan mendapatkan pelatihan dapat dipersiapkan untuk memberikan kontribusi secara lebih terarah ketika dibutuhkan di lapangan.
Ia juga berharap penguatan kompetensi kebencanaan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dapat membangun kesiapsiagaan yang berkelanjutan.
“Setelah dilatih, sudah matang, sudah bisa terjun bersama-sama ke lapangan, kita bisa membantu tadi masyarakatnya,” pungkasnya. (nid)














