Kanal24, Malang – Sebuah gambar tidak pernah sekadar hadir untuk dilihat. Foto, iklan, film, hingga unggahan media sosial dapat ikut membentuk cara masyarakat memandang kecantikan, kemajuan, identitas, bahkan posisi seseorang di tengah lingkungan sosialnya. Ketika gambaran tertentu terus muncul dan dianggap sebagai sesuatu yang normal, nilai di baliknya sering kali luput dipertanyakan. Persoalan inilah yang dikaji Prof. Dr. Desi Dwi Prianti, S.Sos., M.Comn. melalui penelitian “Dekolonisasi Pengetahuan Subjek Terjajah Melalui Literasi Visual Dekolonial”.
Kajian tersebut berangkat dari kenyataan bahwa warisan kolonial tidak hanya dapat ditemukan dalam catatan sejarah, tetapi juga dalam cara pengetahuan dan representasi dibentuk. Bagi Desi, perkembangan media membuat persoalan ini semakin penting karena masyarakat kini lebih sering berhadapan dengan gambar dalam kehidupan sehari-hari. Visual dapat membawa narasi tertentu tentang siapa yang dianggap ideal, modern, menarik, atau layak ditampilkan. Karena itu, masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk membaca visual secara kritis, termasuk memahami konteks yang membentuknya.
Baca Juga:
Tim 7 TEP UB Uji Rawai Bersama Nelayan Segun Papua
Ketika Visual Membentuk Cara Pandang
Komunikasi selama ini kerap dipahami sebagai proses menyampaikan pesan dari satu pihak kepada pihak lain. Namun, Desi melihat komunikasi juga memiliki peran dalam membangun pengetahuan dan realitas sosial.

Gambaran tentang kecantikan, misalnya, tidak muncul begitu saja. Representasi yang berulang melalui media dapat membentuk standar tertentu hingga terlihat sebagai sesuatu yang wajar. Hal serupa dapat terjadi pada gambaran tentang kehidupan modern, keberhasilan, maupun identitas masyarakat tertentu.
Dalam konteks masyarakat yang memiliki pengalaman sebagai subjek terjajah, representasi visual menjadi persoalan yang lebih kompleks. Gambaran yang terus menempatkan standar tertentu sebagai ukuran dapat membuat masyarakat melihat dirinya melalui ukuran yang berasal dari luar pengalaman mereka sendiri.
Literasi visual dekolonial hadir untuk membuka kembali persoalan tersebut. Masyarakat tidak hanya diajak bertanya tentang apa yang terlihat dalam sebuah gambar, tetapi juga mengenai siapa yang membuat gambaran tersebut, nilai apa yang dibawanya, dan mengapa representasi tertentu dapat menjadi dominan.
Menyingkap, Melacak, dan Melawan
Untuk membaca visual secara dekolonial, Desi mengembangkan tiga strategi, yakni menyingkap, melacak, dan melawan.
Menyingkap berarti membuka hal-hal yang selama ini tersembunyi di balik sebuah representasi. Pembaca dapat mulai dengan melihat siapa yang ditampilkan, siapa yang tidak terlihat, serta bagaimana seseorang atau kelompok digambarkan.
Setelah itu, proses melacak dilakukan dengan mencari konteks yang membentuk representasi tersebut. Pembaca dapat mempertanyakan dari mana sebuah gambaran berasal, bagaimana standar tertentu terbentuk, serta pengetahuan siapa yang selama ini lebih banyak mendapatkan ruang.
Tahap berikutnya adalah melawan. Langkah ini bukan sekadar menolak sebuah gambar, melainkan mempertanyakan narasi dominan dan memberi ruang bagi perspektif lain. Dengan cara tersebut, masyarakat tidak hanya menjadi konsumen visual, tetapi memiliki posisi untuk menentukan bagaimana dirinya ingin dipahami dan direpresentasikan.
Tiga strategi tersebut membuat literasi visual bergerak lebih jauh dari sekadar kemampuan membaca unsur gambar. Visual diperlakukan sebagai bagian dari proses pembentukan pengetahuan yang berkaitan dengan sejarah, budaya, dan relasi kuasa.
Mendorong Pembaca Visual Lebih Berdaulat
Kebutuhan terhadap kemampuan tersebut semakin besar seiring meningkatnya konsumsi visual di ruang digital. Setiap hari masyarakat berhadapan dengan foto, video, iklan, meme, dan berbagai bentuk konten visual yang dapat membentuk persepsi dalam waktu singkat.
Desi mendorong pembaca untuk tidak berhenti pada pertanyaan apakah sebuah gambar menarik atau tidak. Ada pertanyaan lain yang lebih mendasar, seperti siapa yang berada dalam gambar, mengapa gambar tersebut dibuat dengan cara demikian, dan dari posisi mana seseorang melihatnya.
Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana sebuah visual bekerja. Pembaca juga dapat menyadari bahwa apa yang terlihat sebagai sesuatu yang biasa belum tentu bebas dari nilai dan kepentingan tertentu.
Bagi Desi, kemampuan membaca visual secara kritis menjadi bagian dari upaya membangun kedaulatan masyarakat dalam memahami dirinya sendiri. Masyarakat Indonesia tidak hanya menjadi objek yang digambarkan, tetapi juga memiliki ruang untuk menentukan narasi tentang dirinya.
Kajian literasi visual dekolonial tersebut sekaligus memperluas pembahasan dalam ilmu komunikasi. Komunikasi tidak hanya dilihat sebagai aktivitas menyampaikan pesan, tetapi sebagai proses yang ikut menentukan pengetahuan dan cara realitas dipahami.
Melalui pendekatan menyingkap, melacak, dan melawan, masyarakat diajak melihat kembali gambar yang selama ini dikonsumsi sehari-hari. Bukan hanya tentang apa yang tampak di permukaan, tetapi juga tentang pengetahuan, sejarah, dan cara pandang yang ikut bekerja di baliknya. (gal)














