Kanal24, Malang – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) memperkuat interaksi antar mahasiswa internasional melalui kegiatan Cultural Day bersama Nagoya University, Kamis (24/9/2026). Kegiatan tersebut mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara untuk mengenal budaya Indonesia sekaligus membuka ruang jejaring akademik lintas negara.
Kegiatan ini diikuti 32 mahasiswa internasional yang berasal dari 23 negara. Selain menjadi bagian dari orientasi mahasiswa asing, kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang pertukaran budaya dan pengalaman bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang.
Dekan FEB UB Prof. Abdul Ghofar, S.E., M.Si., M.Acc., DBA., Ak., CA., mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari inisiatif bidang akademik bersama International Office (IRO) FEB UB untuk membantu mahasiswa internasional beradaptasi dengan lingkungan kampus.
Baca juga:
Cakapolitika UB Buka Ruang Dialog Gen Z untuk Kebijakan Berbasis Data
Ruang Pertukaran Budaya Mahasiswa Internasional

Menurut Prof. Abdul Ghofar, kegiatan tidak hanya ditujukan untuk memperkenalkan lingkungan FEB kepada mahasiswa asing yang baru bergabung, tetapi juga mempertemukan mereka dengan mahasiswa internasional yang telah lebih dahulu berada di UB.
Pertemuan tersebut diharapkan membuat mahasiswa baru lebih mudah beradaptasi dan tidak merasa sendiri selama menjalani kehidupan akademik di Indonesia.
Selain itu, keberagaman asal mahasiswa menjadi peluang untuk membangun pertukaran budaya. Mahasiswa dapat saling mengenal tradisi, kebiasaan, serta perspektif dari negara masing-masing.
“Tak kenal maka tak sayang,” ujar Prof. Abdul Ghofar dalam menjelaskan pentingnya interaksi lintas budaya.
Ia menyebut, proses saling mengenal dapat berkembang menjadi pertukaran pikiran, ide, dan gagasan. Dengan demikian, kegiatan budaya juga dapat menjadi bagian dari pengembangan lingkungan akademik yang lebih terbuka.
Kegiatan tersebut menjadi kali kedua yang diinisiasi bidang akademik dan IRO FEB UB. Keberadaan mahasiswa dari berbagai negara dinilai menjadi salah satu modal FEB UB dalam memperkuat internasionalisasi lingkungan akademik.
Mahasiswa Asing Dapat Pengalaman Baru
Pengalaman mengikuti Cultural Day juga dirasakan Kay Zin Linn, mahasiswa asal Myanmar yang saat ini menempuh studi manajemen di FEB UB.
Kay mengatakan kegiatan tersebut merupakan kali kedua ia mengikuti acara serupa. Ia mengaku antusias melihat mahasiswa dari berbagai negara berkumpul dan menampilkan budaya masing-masing.

Menurutnya, penampilan budaya Indonesia menjadi salah satu pengalaman menarik karena memberikan kesempatan bagi mahasiswa internasional untuk mengenal budaya lokal secara langsung.
Ia juga menyoroti pertunjukan dan penggunaan alat musik bambu dalam kegiatan tersebut. Baginya, pengalaman tersebut membuat mahasiswa internasional dapat melihat lebih dekat keragaman budaya Indonesia.
Kay menilai kegiatan tersebut semakin memperkuat kesan positifnya terhadap Indonesia. Interaksi dengan mahasiswa dan masyarakat di Indonesia juga memberikan pengalaman tersendiri selama menjalani masa studi.
Mahasiswa asal Myanmar tersebut saat ini telah memasuki semester ketiga dan berencana melanjutkan studinya di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.
Dari Budaya Menuju Jejaring Akademik
Cultural Day juga diarahkan untuk membuka peluang interaksi akademik yang lebih luas. Prof. Ananda Sabil Hussein, S.E., M.Com., Ph.D., mengatakan jejaring yang terbentuk melalui kegiatan tersebut diharapkan dapat terus dilanjutkan melalui kerja sama di bidang pendidikan, riset, maupun kegiatan akademik lainnya.
Ia menyebut keberadaan International Office FEB UB menjadi salah satu penghubung dalam menjaga keberlanjutan jejaring mahasiswa internasional yang telah terbentuk.
Sementara itu, Dr. Ikhtiara Kaideni Isharina, S.E., M.M., mengatakan keberadaan mahasiswa dari 23 negara memberikan peluang bagi FEB UB untuk mengembangkan kolaborasi lintas negara.
Menurutnya, jejaring tersebut dapat diarahkan pada program learning, pertukaran mahasiswa, hingga kerja sama akademik lainnya.
FEB UB juga tengah membangun sejumlah kerja sama internasional, termasuk inisiasi program double degree, riset, serta guest lecture dengan sejumlah perguruan tinggi luar negeri.
Kehadiran mahasiswa dari Nagoya University juga menjadi bagian dari jejaring akademik tersebut. Muhammad Fakrza Hidayat, mahasiswa master di Graduate School of International Development Nagoya University, mengatakan dirinya saat ini berkesempatan melakukan riset kolaborasi bersama Universitas Brawijaya.
Ia menyebut riset tersebut dilakukan di salah satu desa wisata di Malang dengan dukungan profesor UB dan teaching assistant. Pengalaman tersebut menurutnya memberikan perspektif baru dalam menjalankan penelitian di Indonesia.

Selain pengalaman akademik, Fakrza juga melihat perbedaan budaya antara Indonesia dan Jepang. Ia menilai masyarakat Indonesia cenderung lebih komunal, sedangkan masyarakat Jepang menurut pengalamannya lebih individual.
Dari pengalaman belajar di Nagoya, ia juga melihat sejumlah kebiasaan yang dapat diterapkan di Indonesia. Salah satunya adalah komitmen terhadap waktu.
“Hal pertama yang paling gampang bisa kita aplikasikan adalah tepat waktu,” ujarnya.
Dari kegiatan tersebut, FEB UB berharap semakin banyak mahasiswa internasional yang dapat belajar maupun melakukan riset di lingkungan FEB UB. Keberadaan mahasiswa dari 23 negara menjadi bagian dari upaya FEB UB memperkuat posisi sebagai lingkungan akademik yang tidak hanya berjejaring secara nasional, tetapi juga internasional.
Melalui pertukaran budaya, interaksi mahasiswa, serta pengembangan kerja sama akademik, kegiatan Cultural Day menjadi ruang yang mempertemukan pengalaman lintas negara dengan peluang kolaborasi pendidikan dan riset. (nid)














