Kanal24, Malang – Narasi tentang Hamid Rusdi dihadirkan melalui cahaya dan karya visual dalam kegiatan Visual Bombing New Media Art. Teknologi digital menjadi medium untuk membawa kembali cerita tentang tokoh perjuangan Malang ke ruang publik.
Kegiatan tersebut berlangsung di Halaman Museum Brawijaya, Jalan Ijen Boulevard, Malang, Selasa (22/9/2026). Pengangkatan narasi Hamid Rusdi menjadi bagian dari karya visual yang memadukan konten sejarah dengan gaya desain digital untuk menjangkau masyarakat, khususnya generasi muda.
Baca Juga:
Cucu Hamid Rusdi: Bahasa Walikan Jadi Pengingat Perjuangan
Hamid Rusdi Hadir dalam Karya Digital
Visual Director DIPA, Danar Tri, mengatakan narasi Hamid Rusdi menjadi salah satu konten yang dibawa dalam Visual Bombing. Karya tersebut tidak hanya menampilkan informasi sejarah, tetapi dikemas melalui pendekatan visual yang lebih kekinian.

“Yang banyak dipakai teman-teman sebenarnya narasi-narasi untuk mengkampanyekan Hamid Rusdi,” ujar Danar.
Menurutnya, media art memberikan ruang untuk mempertemukan narasi sejarah dengan teknologi. Objek dan lingkungan Museum Brawijaya menjadi medium untuk menghadirkan konten tersebut dalam bentuk visual.
Danar mengatakan pendekatan ini juga dapat menjadi pemantik bagi masyarakat untuk mengenal sejarah lebih jauh. Teknologi digunakan sebagai pintu awal agar generasi muda tertarik terhadap benda dan tokoh sejarah yang ada di sekitarnya.
“Teknologi saat ini bisa menjadi pemantik untuk benda-benda peninggalan sehingga generasi muda saat terpancing ini mereka tumbuh rasa penasaran,” jelasnya.
Rasa penasaran tersebut diharapkan mendorong masyarakat mencari informasi lebih dalam mengenai sejarah dan peninggalan yang ada di Museum Brawijaya.
Menghidupkan Kembali Sejarah Malang
Kepala Panitia Visual Bombing New Media Art, Dr. Redy Eko Prasetyo, menjelaskan Hamid Rusdi menjadi salah satu tokoh yang ingin kembali diperkenalkan melalui kegiatan tersebut. Ia mengaitkan sosok Hamid Rusdi dengan sejarah perjuangan dan identitas kultural masyarakat Malang.

“Hamid Rusdi ini adalah tokoh penggagas dari bahasa sandi sebetulnya dengan kalau bahasa sekarang Walikan,” kata Redy.
Menurut Redy, narasi mengenai Hamid Rusdi terus dibangun melalui kolaborasi berbagai elemen. Kegiatan tersebut melibatkan komunitas, keluarga Hamid Rusdi, serta sejumlah perguruan tinggi yang memiliki perhatian terhadap sejarah dan kebudayaan Malang.
Redy menilai pengenalan kembali tokoh sejarah perlu dilakukan melalui berbagai medium. Media art menjadi salah satu pendekatan yang memungkinkan narasi sejarah hadir dalam bentuk yang lebih dekat dengan perkembangan teknologi.
Ia menyebut Hamid Rusdi sebagai salah satu tokoh yang memiliki nilai penting bagi masyarakat Malang. Karena itu, berbagai kegiatan yang mengangkat sosok tersebut diharapkan dapat memperkuat apresiasi masyarakat terhadap sejarah lokal.
Dorong Apresiasi terhadap Hamid Rusdi
Kasubdit Globalizing UB, Widhy Yahya, mengatakan Hamid Rusdi diangkat karena memiliki kontribusi terhadap Kota Malang pada masa perjuangan. Menurutnya, narasi tersebut perlu kembali disampaikan karena sosok Hamid Rusdi belum banyak dikenal oleh sebagian masyarakat saat ini.

“Dengan adanya media dan kita bisa menarasikan bagaimana kontribusi beliau terhadap Kota Malang dan bagaimana nilai-nilai positif yang beliau telah ajarkan itu bisa tersampaikan ke warga Kota Malang,” tuturnya.
Redy menambahkan, sejumlah elemen masyarakat juga berupaya mendorong pengusulan Hamid Rusdi sebagai pahlawan nasional. Proses tersebut, menurutnya, membutuhkan keterlibatan masyarakat dan koordinasi dengan pemerintah daerah.
Ia menjelaskan upaya tersebut dilakukan bersama sejumlah pihak, termasuk unsur pemerintah Kota Malang. Namun, proses pengusulan membutuhkan tahapan dan koordinasi yang panjang.
Dalam konteks tersebut, kegiatan Visual Bombing menjadi salah satu bentuk dokumentasi atas perhatian masyarakat terhadap sosok Hamid Rusdi.
“Kami berharap dari aktivitas semacam ini, ini bagian dari pendokumentasian bagaimana animo masyarakat hadir dan menempatkan sosok Hamid Rusdi sebagai ikon kepahlawanan,” ungkap Redy.
Dekatkan Sejarah dengan Generasi Muda
Penggunaan media art untuk membawa narasi Hamid Rusdi menunjukkan adanya pendekatan baru dalam mengenalkan sejarah. Teknologi visual menjadi medium untuk mempertemukan cerita masa lalu dengan cara penyampaian yang lebih dekat dengan generasi masa kini.
Danar mengatakan kegiatan tersebut juga diarahkan untuk mendorong munculnya talenta muda di bidang media art. Mahasiswa, komunitas, maupun masyarakat dapat mengambil bagian dalam proses eksplorasi karya berbasis teknologi.
Pendekatan tersebut membuat sejarah tidak hanya hadir melalui koleksi museum. Narasi tentang tokoh perjuangan juga dapat dikembangkan melalui karya visual yang mengundang perhatian masyarakat.
Melalui Visual Bombing New Media Art, Hamid Rusdi kembali dihadirkan dalam ruang publik dengan medium yang berbeda. Kegiatan ini sekaligus menjadi upaya mempertemukan sejarah lokal, kreativitas, dan teknologi untuk membuka ruang apresiasi bagi generasi muda. (ndr)














