Kanal24, Malang – Bagaimana jika rasa manis bisa dirasakan tanpa harus menambahkan gula? Pertanyaan tersebut coba dijawab mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) melalui inovasi Sendok Pintar yang memberikan rangsangan manis langsung kepada lidah.
Inovasi tersebut dikembangkan mahasiswa Fakultas Teknik Elektro dan Fakultas Kedokteran Gigi UB sebagai bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Sendok Pintar diperkenalkan dalam kegiatan UBTV di Lorong Studio UBTV, lantai 2 Gedung Rektorat Universitas Brawijaya, Senin (28/9/2026).
Baca juga:
MKN UB Jakarta Bekali Mahasiswa Strategi Tembus Jurnal Ilmiah

Berangkat dari Kebiasaan Konsumsi Gula
Mahasiswa Fakultas Teknik Elektro UB, Malfino Altara Satyaraka, mengatakan gagasan pengembangan Sendok Pintar berangkat dari perhatian tim terhadap tingginya kasus diabetes di Indonesia serta kebiasaan masyarakat mengonsumsi gula secara berlebihan.
Menurut Malfino, pola konsumsi sehari-hari menjadi salah satu hal yang diperhatikan tim. Ia mencontohkan kebiasaan mengonsumsi nasi dalam porsi berlebih yang kemudian dilanjutkan dengan minuman manis seperti es teh atau kopi.
“Contohnya ketika dia makan nasi, nasinya porsinya berlebih. Lalu setelah makan nasi biasanya minumnya es teh manis atau kopi manis dan sebagainya,” ujar Malfino.
Ia mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu alasan tim mengembangkan inovasi yang dapat memberikan sensasi manis tanpa perlu menambahkan gula.
Malfino menyebut tim juga mempertimbangkan batas aman konsumsi gula harian yang menjadi perhatian dalam pengembangan alat tersebut. Dalam prosesnya, teknologi kemudian digunakan untuk menghadirkan rangsangan rasa manis pada lidah.
Gunakan Mikroarus dan Suhu Termal
Mahasiswa Fakultas Kedokteran UB, Malikah Nurbaiti Balenzya, menjelaskan pengembangan Sendok Pintar dilakukan secara kolaboratif. Mahasiswa dari bidang elektro lebih banyak menangani pembuatan perangkat, sementara dirinya bersama anggota tim lain berfokus pada pencarian materi yang mendukung pengembangan alat.
“Untuk dari pelaksanaannya sendiri pembuatannya pun lebih banyak pada teman-teman yang dari elektro. Sedangkan untuk dari saya sebagai dari yang fokus dan juga teman saya itu kami lebih mengarah pada bagaimana kami mencari dari berbagai macam materi yang dibutuhkan untuk sebagai peningkatan dari pengembangan alatnya itu sendiri,” jelas Malikah.
Menurut Malikah, keunggulan utama Sendok Pintar terletak pada kemampuan alat memberikan rangsangan manis secara langsung kepada lidah.
“Untuk dari keunggulannya sendiri sesuai nama kami itu kita memberikan rangsangan manis langsung kepada lidah tanpa harus ada tambahan gula,” katanya.
Berbeda dari sendok konvensional yang tidak memberikan rangsangan tertentu, Sendok Pintar menggunakan dua jenis rangsangan. Keduanya berupa mikroarus dan suhu termal.
“Sedangkan untuk dari sendok pada biasanya pada umumnya itu tidak memberikan rangsangan apapun dikarenakan kami memiliki dua jenis rangsangan di mana tadi ada mikroarus dan juga suhu termal,” ujar Malikah.
Penggunaan dua jenis rangsangan tersebut menjadi bagian dari teknologi yang dikembangkan tim untuk menghadirkan sensasi manis ketika sendok digunakan.

Baterai Jadi Tantangan Pengembangan
Di balik inovasi tersebut, proses pengembangan Sendok Pintar tidak lepas dari kendala teknis. Malfino mengatakan tantangan terbesar berada pada penyusunan alat dan proses troubleshooting setelah perangkat selesai dibuat.
Salah satu persoalan yang cukup besar ditemukan pada komponen baterai. Tim harus menyesuaikan arus dan tegangan agar sesuai dengan kebutuhan perangkat. Namun, baterai yang digunakan sempat tidak mampu menahan kebutuhan tersebut.
“Jadi kami sudah menyesuaikan beberapa arus dan tegangannya, tetapi dari baterainya tidak kuat untuk menahannya. Jadi banyak dari baterainya mengalami kerusakan,” ungkap Malfino.
Ia mengatakan beberapa baterai bahkan sempat mengalami letupan kecil karena menerima tegangan dan arus yang berlebihan. Kondisi tersebut menjadi bagian dari proses evaluasi tim dalam menyusun perangkat.
Meski demikian, pengembangan Sendok Pintar masih akan dilanjutkan. Tim tidak hanya ingin mempertahankan fungsi yang sudah ada, tetapi juga memperbaiki bentuk dan tingkat akurasinya.
Malfino mengatakan riset lanjutan akan diarahkan untuk mencari bentuk Sendok Pintar yang lebih nyaman digunakan konsumen. Tim juga ingin memastikan tingkat akurasi rangsangan yang dihasilkan alat.
“Untuk target pengembangannya dari kami mau meriset lebih dalam lagi bagaimana bentuk yang lebih nyaman untuk digunakan oleh konsumen. Selain itu apakah akurasinya ini sudah benar-benar segitu dan kami niatnya ingin meningkatkan akurasinya lebih tajam lagi agar ketika digunakan ya sendoknya berfungsi dengan normal,” tutur Malfino.
Pengembangan tersebut menjadi langkah lanjutan mahasiswa UB untuk menyempurnakan Sendok Pintar. Dengan menggabungkan teknologi elektro dan perspektif kesehatan, tim masih akan menguji kenyamanan serta akurasi alat sebelum dikembangkan lebih jauh. (ern)














