Kanal24, Malang – Sampah yang berserakan di kawasan hutan tidak hanya menyisakan persoalan kebersihan. Jika tidak dikelola, limbah dapat menumpuk dan mencemari lingkungan. Namun, jika dipilah dan diolah dengan tepat, sampah justru dapat memiliki nilai guna bahkan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Upaya tersebut menjadi salah satu pesan dalam Global Care Week yang digelar UPT UB Green Campus Universitas Brawijaya bersama LyondellBasell Advanced Polyolefins (LYB), UB Forest, Desa Hijau, dan iLitterless di Pendopo UB Forest, Buntoro, Malang, Senin (5/10/2026). Kegiatan ini menggabungkan aksi bersih lingkungan, edukasi pengelolaan sampah, penanaman pohon, serta pengenalan pemanfaatan limbah plastik sebagai bagian dari upaya membangun ekonomi sirkular.
Baca juga:
UB Perkuat Budaya K3 melalui Komitmen Penerapan SMK3
Global Care Week Perkuat Kolaborasi Lingkungan
Kepala UPT UB Green Campus, Prof. Sri Suhartini, mengatakan Global Care Week merupakan kegiatan tahunan yang diinisiasi LYB. Tahun ini, agenda tersebut dikolaborasikan dengan Universitas Brawijaya dengan melibatkan berbagai unsur.

Selain UB Green Campus dan LYB, kegiatan juga melibatkan UB Forest, iLitterless, mahasiswa Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya, Impala, mahasiswa Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem, serta Fakultas Teknik.
“Karena kami sebagai mitra, jadi kami juga ingin melakukan pendekatan Global Care Week ini melibatkan multipihak berbagai stakeholder,” ujar Prof. Sri.
Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak menjadi peluang bagi UB untuk memperluas gerakan kepedulian terhadap lingkungan. Hal tersebut juga sejalan dengan visi UB Green Campus sebagai penggerak terciptanya lingkungan yang lestari. Selain itu, kegiatan ini untuk mendukung SDG 13 dan SDG 17.
Prof. Sri berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada aksi satu hari. Global Care Week diharapkan menjadi pemantik bagi lebih banyak pihak untuk terlibat dalam menjaga lingkungan melalui aksi nyata.
“Harapannya dengan kegiatan ini setidaknya menunjukkan bahwasanya Brawijaya ini sangat peduli ya untuk bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan,” katanya.
Dorong Sampah Plastik Jadi Bernilai
Sampah plastik menjadi salah satu fokus utama dalam Global Care Week. Prof. Sri menyebut persoalan sampah merupakan isu global yang membutuhkan solusi alternatif karena setiap aktivitas manusia pada dasarnya menghasilkan limbah.
“Fokus di kegiatan Global Care Week tahun ini adalah pemanfaatan limbah plastik menjadi produk yang bernilai ekonomi tinggi,” jelasnya.
Menurut Prof. Sri, pendekatan tersebut tidak hanya bertujuan mengurangi pencemaran lingkungan. Pemanfaatan kembali limbah juga diharapkan memberikan nilai tambah dan peluang pendapatan bagi masyarakat.
Gagasan tersebut berkaitan dengan konsep circular economy, yakni bagaimana sampah tidak langsung berakhir sebagai limbah, tetapi dapat diproses kembali menjadi produk yang memiliki nilai guna.
Sekretaris Universitas Brawijaya, Dr. Tri Wahyu Nugroho, mengatakan langkah sederhana seperti memilah sampah menjadi bagian penting dalam membangun kebiasaan baru di masyarakat.

“Bagaimana kita mampu, masyarakat mampu memilah sampah. Itu kebiasaan yang sangat sederhana, simpel tapi susah dilakukan,” ujarnya.
Ia menjelaskan sampah yang telah dipilah memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali. Sampah organik dapat diolah menjadi pupuk maupun dimanfaatkan untuk produksi maggot sebagai pakan ternak. Sementara itu, sampah anorganik dapat dikreasikan menjadi berbagai produk yang lebih bermanfaat.
Bukan Sekadar Event, Jadi Gerakan
Dr. Tri menegaskan Global Care Week tidak seharusnya berhenti sebagai kegiatan seremonial. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan langkah awal untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Kalau menjadi sebuah gerakan bukan hanya program atau proyek ini harusnya jadi sebuah gerakan maka ini akan sustain di masyarakat,” katanya.
Karena itu, UB Green Campus didorong menyiapkan berbagai skenario lanjutan untuk mengolah sampah organik maupun anorganik. Pengelolaan tersebut diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga membuka nilai ekonomi dari material yang sebelumnya dianggap sebagai limbah.
Prof. Sri menilai pendekatan tersebut penting karena persoalan sampah tidak cukup diselesaikan hanya dengan membersihkan lingkungan. Diperlukan edukasi, aksi nyata, serta sistem pengelolaan yang mampu berjalan dalam jangka panjang.
“Jadi tidak hanya mengolahnya menjadi produk yang bernilai guna, tapi juga bagaimana dari kegiatan tersebut bisa mendatangkan manfaat ekonomi juga manfaat sosial, dan yang tidak kalah penting adalah manfaat dari lingkungan itu sendiri,” tuturnya.
Melalui Global Care Week, UB bersama mitra mendorong agar kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti pada kegiatan bersih-bersih. Lebih jauh, gerakan tersebut diarahkan untuk membangun kebiasaan memilah, mengolah, dan memanfaatkan sampah sehingga memberi manfaat bagi lingkungan sekaligus masyarakat. (ern)














