Kanal24, Malang – Universitas Brawijaya (UB) kembali menjadikan seni pertunjukan sebagai ruang untuk mengenalkan nilai-nilai Karakter Brawijayan kepada sivitas akademika. Melalui wayang kulit kontemporer bertajuk Mutiara Kerang Kencana, pesan tentang kebajikan, keberagaman, tanggung jawab, hingga kepedulian terhadap kehidupan dan lingkungan dikemas dalam pertunjukan yang lebih dekat dengan generasi muda.
Pagelaran Karakter Brawijayan 2026 tersebut berlangsung di Gedung Samantha Krida UB, Sabtu (3/10/2026) malam. Kegiatan ini merupakan kolaborasi Karakter Brawijayan dan Globalizing Universitas Brawijaya (GUB) bersama Sanggar Seni Gumelaring Sasangka Aji.
Baca juga:
Sengketa Pilpres di MK Dibahas Akademisi FH UB, Ini Perspektif Hukumnya
Wayang Jadi Medium Penguatan Karakter Brawijayan
Ketua Pelaksana Pertunjukan Wayang Karakter Brawijayan 2026, Dr. Fuad, S.Pi., M.T., mengatakan pagelaran wayang tahun ini merupakan pelaksanaan yang ketiga. Meski menghadirkan lakon berbeda, pertunjukan tetap membawa misi untuk memperkenalkan nilai-nilai Karakter Brawijayan.

“Di tahun yang ketiga ini kita juga melaksanakan pagelaran wayang dengan lakon yang berbeda, tetapi intinya sama, yaitu memperkenalkan nilai-nilai Brawijaya,” ujar Fuad.
Konsep pertunjukan tahun ini dikembangkan dalam format wayang kontemporer. Pendekatan tersebut membuat pertunjukan lebih mudah diikuti oleh generasi muda, termasuk mahasiswa yang tidak terbiasa dengan pertunjukan wayang tradisional.
Penggunaan bahasa yang lebih mudah dipahami menjadi salah satu bagian dari pendekatan tersebut. Mahasiswa tidak hanya diajak menikmati pertunjukan, tetapi juga memahami pesan yang disampaikan melalui cerita.
Salah seorang mahasiswa baru Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UB, Febri, mengaku menikmati pertunjukan tersebut. Menurutnya, penggunaan bahasa yang lebih mudah dipahami membuat alur cerita dapat diikuti dengan baik.
“Bagus dan aku menikmati tampilan wayangnya juga. Kalau biasanya wayang pakai bahasa Jawa, ini tadi enggak, jadi aku bisa paham ceritanya,” ujarnya.
Mutiara Kerang Kencana Bawa Pesan Kebajikan dan Lingkungan
Lakon Mutiara Kerang Kencana membawa penonton mengikuti perjalanan Bima dalam pencarian jiwa suci, kebajikan, keberagaman, serta tanggung jawab menjaga kehidupan dan alam.
Cerita tersebut tidak hanya mengandalkan konflik antartokoh, tetapi juga menghadirkan refleksi mengenai berbagai persoalan manusia. Keserakahan, keberanian mengakui kesalahan, proses pemulihan, hingga kesadaran spiritual menjadi bagian dari pesan yang dibawa dalam pertunjukan.
Pilihan lakon tersebut memperlihatkan bagaimana cerita pewayangan dapat dikembangkan untuk menyampaikan nilai yang relevan dengan kehidupan masa kini.
Di lingkungan perguruan tinggi, pendekatan tersebut menjadi penting karena pendidikan karakter tidak hanya berlangsung melalui ruang kelas. Nilai tentang tanggung jawab, kepedulian, kerja sama, dan keberanian mengambil sikap juga dapat disampaikan melalui pengalaman budaya.
Karakter Brawijayan kemudian ditempatkan bukan sekadar sebagai konsep yang diperkenalkan kepada mahasiswa, tetapi sebagai nilai yang diharapkan hadir dalam kehidupan sivitas akademika.
Menjadi Global Tanpa Meninggalkan Indonesia
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Internasionalisasi UB, Prof. Andi Kurniawan, S.Pi., M.Eng., S.Sc., yang turut menjadi salah satu penggagas Karakter Brawijayan, mengatakan pengembangan pertunjukan wayang di UB dilakukan dalam berbagai format.

Pertunjukan tersebut dikembangkan mulai dari pementasan profesional, modifikasi yang melibatkan mahasiswa internasional, pertunjukan untuk anak-anak, hingga pementasan di Malaysia.
Menurut Andi, pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan nilai-nilai Karakter Brawijayan sekaligus budaya Indonesia kepada masyarakat yang lebih luas.
“Menjadi global bukan berarti meninggalkan Indonesia,” kata Andi.
Ia menilai mahasiswa internasional yang belajar di UB tidak hanya perlu mendapatkan pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengenal nilai serta budaya Indonesia.
Karena itu, seni dan budaya dapat menjadi salah satu jembatan dalam proses internasionalisasi kampus. Identitas lokal tidak harus ditinggalkan ketika perguruan tinggi bergerak menuju ruang akademik yang semakin global.
Keterlibatan FPIK dan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) dalam pagelaran juga memperkuat pesan tersebut. FPIK memiliki keterkaitan dengan identitas Indonesia sebagai negara kepulauan dan maritim, sementara FIB memiliki kedekatan dengan kajian serta pengembangan kebudayaan.
Melalui Mutiara Kerang Kencana, UB menunjukkan bahwa pewayangan dapat ditempatkan dalam ruang yang lebih luas, bukan hanya sebagai pertunjukan seni tradisional, tetapi juga sebagai medium pembelajaran nilai dan penguatan identitas.
Pagelaran Karakter Brawijayan 2026 akhirnya menjadi ruang pertemuan antara budaya, pendidikan karakter, dan semangat internasionalisasi. Wayang tetap membawa akar budaya Nusantara, sementara cara penyajiannya disesuaikan agar dapat menjangkau generasi muda dan masyarakat kampus yang semakin beragam. (nid)














