Kanal24, Malang – Penguasaan metodologi penelitian menjadi kemampuan krusial bagi mahasiswa pascasarjana, bukan hanya untuk menyelesaikan studi, tetapi juga menghadapi proses publikasi dan ujian akademik. Pemahaman yang lemah terhadap metodologi dapat menjadi persoalan ketika mahasiswa harus mempertanggungjawabkan penelitian di hadapan penguji.
Hal tersebut disampaikan Associate Prof. Dr. Azahar Bin Kasim dari School of Multimedia Technology and Communication, Universiti Utara Malaysia (UUM), dalam pre-conference workshop metode penelitian kualitatif dan kuantitatif yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB), Selasa (6/10/2026).
Workshop tersebut merupakan bagian dari rangkaian 2026 MAG Scholar Conference in Business, Marketing & Tourism yang diselenggarakan FEB UB bersama MAG Scholar pada 6–9 Oktober 2026.
Azahar secara khusus membahas metode penelitian kualitatif. Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya menguasai pendekatan kuantitatif karena dalam perjalanan akademiknya, terutama ketika menjadi dosen, mereka akan berhadapan dengan kedua metode penelitian tersebut.
Baca juga:
Sengketa Pilpres di MK Dibahas Akademisi FH UB, Ini Perspektif Hukumnya

“Meskipun mereka sudah menguasai metode kuantitatif, suatu hari ketika menjadi dosen mereka akan berhadapan dengan kedua metode penelitian, yaitu kualitatif dan kuantitatif,” ujar Azahar.
Menurutnya, kemampuan memahami kedua pendekatan semakin penting bagi mahasiswa yang menggunakan mixed method. Pendekatan tersebut menuntut peneliti memahami karakteristik metode kuantitatif dan kualitatif agar dapat menggunakannya secara tepat dalam satu penelitian.
Azahar menekankan mahasiswa program magister maupun doktor perlu memiliki pemahaman metodologi yang kuat. Khusus mahasiswa doktoral, penguasaan tersebut menjadi bagian penting dalam mempersiapkan diri menghadapi proses akademik hingga penyelesaian studi.
“Terutama bagi mahasiswa PhD, mereka perlu memahami kedua metode secara menyeluruh. Dengan begitu, mereka akan lebih mudah menyelesaikan studi dan memahami kehidupan akademik yang sebenarnya,” jelasnya.
Metodologi Lemah Bisa Jadi Titik Kritis Saat Viva
Azahar juga mengingatkan mahasiswa pascasarjana bahwa penguasaan metodologi memiliki hubungan erat dengan kemampuan menghasilkan artikel jurnal berkualitas.
Menurutnya, metodologi yang kuat akan membantu peneliti sejak proses pengumpulan data. Sebaliknya, pemahaman yang tidak memadai dapat menimbulkan persoalan ketika penelitian masuk pada tahap pemeriksaan dan pengujian.
“Untuk menulis jurnal, Anda harus kuat dalam metodologi,” katanya.
Ia menjelaskan, salah satu aspek yang berpotensi menjadi perhatian penguji adalah reliabilitas dan validitas penelitian. Kedua aspek tersebut dapat dipertanyakan oleh penguji internal maupun eksternal ketika mahasiswa mempertahankan penelitian dalam sesi viva.
“Ketika metodologi Anda tidak kuat, prosesnya tidak akan mudah. Sebagian besar penguji dan penguji eksternal akan terus mempertanyakan reliabilitas dan validitas penelitian,” ujar Azahar.
Menurutnya, mahasiswa pascasarjana tidak cukup hanya mengetahui tahapan metodologi secara prosedural. Mereka harus memahami alasan ilmiah di balik metode yang dipilih, termasuk bagaimana metode tersebut digunakan untuk memperoleh dan menganalisis data.
Pemahaman tersebut penting agar mahasiswa mampu menjawab pertanyaan penguji secara meyakinkan ketika mempertahankan hasil penelitian.
“Pastikan Anda benar-benar memahami metodologi yang digunakan,” tegasnya.
FEB UB Perluas Pengalaman Akademik Mahasiswa
Sementara itu, Ketua Pelaksana 2026 MAG Scholar Conference, Prof. Risna Wijayanti, S.E., M.M., Ph.D., mengatakan workshop tersebut dirancang untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa Program Studi Doktor Ilmu Manajemen dan Magister Manajemen FEB UB dalam menguasai metode riset kuantitatif dan kualitatif.
“Kegiatan hari ini merupakan workshop metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas kompetensi mahasiswa program doktor ilmu manajemen dan program magister manajemen agar mereka memiliki kompetensi yang mumpuni dalam metode riset kuantitatif dan kualitatif,” kata Prof. Risna.
Kegiatan tersebut tidak hanya diikuti mahasiswa S2 dan S3. Prof. Risna menyebut terdapat pula peserta dari kalangan mahasiswa internasional, international lecturer, dan alumni.
Keterlibatan peserta dengan latar belakang yang beragam menjadi bagian dari upaya memperluas perspektif akademik mahasiswa. Selain memperoleh penguatan metodologi penelitian, peserta juga mendapat kesempatan membangun interaksi dengan akademisi dari lingkungan internasional.
Prof. Risna mengatakan rangkaian kegiatan tersebut sekaligus menjadi bentuk perhatian Program Studi Doktor Ilmu Manajemen UB terhadap pengembangan keilmuan.
“Ini sekaligus bertujuan menunjukkan kepada publik bahwa Program Studi Doktor Ilmu Manajemen di Universitas Brawijaya memiliki kepedulian terhadap pengembangan keilmuan,” ungkapnya.
Berlanjut ke International Conference
Setelah workshop, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan international conference pada 7–8 Oktober 2026.
Prof. Risna menyebut konferensi tersebut menghadirkan sejumlah pembicara, di antaranya Prof. Dodi Irawan, Prof. Ramaya, serta Prof. Kim selaku Director of MAG Scholar.
Kehadiran pembicara dari berbagai lingkungan akademik tersebut diharapkan membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan sekaligus membangun jejaring dengan ilmuwan internasional.
“Targetnya adalah meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam penguasaan metode riset. Kemudian yang kedua adalah meningkatkan global awareness mahasiswa dan internasionalisasi terhadap hasil-hasil karya mahasiswa kita,” jelas Prof. Risna.
Rangkaian kegiatan juga dilengkapi gala dinner pada 8 Oktober. Agenda tersebut menjadi ruang pemberian penghargaan bagi peserta dengan predikat best presenter dan best paper.
Selain itu, gala dinner akan mempertemukan mahasiswa dengan alumni melalui sesi diskusi mengenai perkembangan dan pengembangan keilmuan Program Studi Doktor Ilmu Manajemen.
Bangun Kolaborasi dengan Alumni dan Industri
Prof. Risna menjelaskan penyelenggaraan tahun ini memiliki skala lebih besar dibandingkan kegiatan sebelumnya. Jika sebelumnya hanya dilaksanakan satu kegiatan, tahun ini rangkaian agenda mencakup tiga kegiatan utama, yakni pre-conference workshop, international conference, dan alumni gathering.
Perluasan agenda tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kompetensi penelitian mahasiswa, tetapi juga membangun jejaring akademik dan profesional yang lebih luas.
Menurut Prof. Risna, jejaring tersebut juga diarahkan kepada alumni dan dunia industri. Sebagian alumni Program Studi Doktor Ilmu Manajemen berkiprah sebagai pelaku industri sehingga memiliki potensi untuk menjadi mitra dalam pengembangan keilmuan.
“Kami ingin mahasiswa program doktor ilmu manajemen dapat meningkatkan networking mereka dengan ilmuwan-ilmuwan berskala internasional,” katanya.
Kolaborasi dengan alumni dan industri diharapkan dapat mempertemukan pengembangan ilmu secara teoritis dengan kebutuhan praktis di lapangan.
“Harapannya nanti Program Doktor Ilmu Manajemen dapat bekerja sama dan berkolaborasi serta terintegrasi dalam pengembangan keilmuannya, baik untuk pengembangan teoritis maupun pengembangan praktis,” pungkasnya. (nid/ffn)













