Kanal24, Malang – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan masyarakat menjadi perhatian serius pemerintah. Paparan kabut asap di sejumlah wilayah Indonesia meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang dapat menyerang anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus memperkuat penanganan kesehatan di wilayah terdampak karhutla melalui pengerahan tenaga kesehatan, distribusi perlengkapan medis, serta penyediaan layanan bagi masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan.
Berdasarkan laporan Kemenkes pada Agustus 2026, karhutla melanda tujuh provinsi, yakni Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Paparan asap di wilayah tersebut menjadi tantangan bagi pelayanan kesehatan, terutama ketika musim kemarau meningkatkan risiko kebakaran.
Baca juga:
UB Dorong Sampah Plastik Diolah Jadi Produk Bernilai Ekonomi

Asap Karhutla Tingkatkan Risiko Gangguan Pernapasan
Kabut asap akibat karhutla mengandung partikel pencemar yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Paparan tersebut berpotensi memicu batuk, iritasi tenggorokan, sesak napas, hingga memperburuk kondisi penderita asma dan penyakit paru lainnya.
Partikel halus seperti PM2,5 menjadi salah satu perhatian karena ukurannya memungkinkan partikel masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Risiko gangguan kesehatan dapat meningkat ketika masyarakat terpapar asap dalam waktu lama atau berada di wilayah dengan kualitas udara buruk.
Kelompok rentan, seperti bayi, balita, ibu hamil, lansia, serta orang dengan penyakit pernapasan dan jantung, memerlukan perhatian khusus. Karena itu, pemantauan kualitas udara dan pembatasan aktivitas di luar ruangan ketika polusi meningkat menjadi langkah penting untuk mengurangi paparan.
Masyarakat juga perlu segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas, nyeri dada, atau batuk yang tidak membaik, terutama jika keluhan muncul atau memburuk setelah terpapar asap.
Kemenkes Kerahkan Tenaga Kesehatan dan Bantuan Medis
Untuk merespons dampak kesehatan akibat karhutla, Kemenkes mengerahkan tenaga kesehatan dan menyalurkan bantuan logistik ke wilayah terdampak. Dalam laporan resmi pada 21 Agustus 2026, pemerintah menyebut lebih dari tiga juta warga di 37 kabupaten/kota terpapar langsung kabut asap.
Sebanyak 314 tenaga medis dan tenaga kesehatan dikerahkan, termasuk dokter, perawat, bidan, dan epidemiolog. Konsentrasi penanganan terutama diarahkan ke Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.
Bantuan yang disalurkan meliputi masker, konsentrator oksigen, alat pelindung diri, sarung tangan medis, obat-obatan, dan vitamin. Pemerintah juga menyiapkan pos kesehatan serta ruang oksigen di sejumlah titik rawan untuk membantu masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat layanan kesehatan di tengah kondisi darurat asap. Selain penanganan pasien, kesiapan fasilitas kesehatan diperlukan agar masyarakat terdampak dapat memperoleh pertolongan secara cepat.
Masyarakat Diimbau Kurangi Paparan Asap
Kemenkes mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Penggunaan masker yang sesuai, pemantauan indeks kualitas udara, serta menjaga kondisi lingkungan dalam ruangan dapat membantu mengurangi paparan polutan.
Masyarakat juga disarankan memperbanyak konsumsi air putih dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Namun, langkah tersebut bukan pengganti pemeriksaan medis apabila muncul gejala gangguan pernapasan.
Upaya perlindungan perlu dilakukan secara konsisten, terutama bagi keluarga yang memiliki bayi, balita, lansia, atau anggota keluarga dengan penyakit kronis. Apabila kondisi udara di luar rumah memburuk, aktivitas yang tidak mendesak sebaiknya ditunda.
Dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga menyangkut keselamatan dan kesehatan masyarakat. Karena itu, penanganan kebakaran, pengendalian pencemaran udara, dan kesiapan layanan kesehatan perlu berjalan beriringan agar risiko kesehatan akibat kabut asap dapat ditekan. (nid)














