Kanal24, Malang – Kelelahan akibat padatnya aktivitas dan tekanan akademik dapat menjadi persoalan yang perlu diperhatikan dalam lingkungan perguruan tinggi. Mahasiswa menghadapi berbagai tanggung jawab, mulai dari perkuliahan, praktikum, hingga organisasi. Kondisi tersebut menjadi salah satu konteks penting dalam pembahasan burnout melalui pendekatan keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
Universitas Brawijaya (UB) mengangkat persoalan tersebut dalam Bedah Buku Manajemen Risiko K3 Burnout dengan Metode HIRARC pada Rabu (14/10/2026). Kegiatan yang diselenggarakan UB Press bekerja sama dengan Divisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L) UB serta Perpustakaan UB ini berlangsung di Ruang Pertemuan 1, Gedung UPT Perpustakaan UB lantai 1. Pembahasan berfokus pada penggunaan metode Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control (HIRARC) untuk mengenali bahaya, menilai risiko, dan menentukan langkah pengendalian.
Baca Juga:
K3L Perkuat Kesadaran PLP Menjaga Keselamatan di Laboratorium
Burnout Menjadi Perhatian dalam Lingkungan Kampus
Kepala Divisi K3L UB, Prof. Dr. Ir. Qomariyatus Sholihah, Amd.Hyp., ST., M.Kes., IPU., ASEAN Eng., menjelaskan bahwa setiap aktivitas memiliki potensi bahaya dan risiko. Karena itu, pengelolaan risiko diperlukan untuk meminimalkan dampak yang dapat mengganggu kesehatan dan keselamatan.
Menurutnya, kelelahan dan stres juga perlu diperhatikan dalam kehidupan kampus. Persoalan tersebut dapat dialami mahasiswa, dosen, maupun tenaga kependidikan yang menjalankan berbagai aktivitas dan tanggung jawab.

“Setiap aktivitas pasti punya risiko dan bahaya sehingga bagaimana untuk meminimalkan itu semua,” jelas Prof. Qomariyatus.
Ia menjelaskan bahwa pendekatan manajemen risiko dapat membantu mengidentifikasi faktor yang berpotensi memicu burnout. Melalui proses tersebut, sumber persoalan dapat ditelaah sebelum langkah pengendalian ditentukan.
Metode HIRARC untuk Menilai Risiko
Buku ini membahas metode HIRARC yang mencakup identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan pengendalian risiko. Dalam penjelasannya, Prof. Qomariyatus menyebut proses analisis diawali dengan Job Safety Analysis (JSA), kemudian dilanjutkan dengan identifikasi bahaya dan penilaian tingkat risiko.
Pendekatan tersebut digunakan untuk memahami persoalan secara lebih terstruktur. Penilaian risiko membantu menentukan tingkat urgensi suatu masalah, sedangkan tahap pengendalian diarahkan untuk merumuskan langkah penanganan yang sesuai.
“Data ini tidak hanya narasi, tapi bagaimana adanya bukti dengan penghitungan angka untuk mengetahui nilai-nilai ini,” ungkapnya.
Mahasiswa Teknik Industri UB, Nabil Ramzi Rabbani, menjelaskan bahwa metode HIRARC dipilih karena memiliki tahapan yang sistematis untuk mengidentifikasi persoalan hingga ke akar penyebabnya.

“Metodenya terstruktur, jadinya kita juga bisa mengidentifikasi sampai root cause-nya, enggak cuma surface-nya aja,” kata Nabil.
Dengan pendekatan tersebut, risiko dapat dipetakan berdasarkan hasil identifikasi dan penilaian. Hasilnya menjadi dasar untuk menentukan persoalan yang perlu diprioritaskan dan bentuk pengendalian yang relevan.
Menghubungkan Konsep K3 dengan Kehidupan Mahasiswa
Mahasiswa Teknik Industri UB, Muhammad Fadhil, mencontohkan bahwa risiko dalam aktivitas akademik dapat dikenali melalui pengalaman sehari-hari. Tekanan saat mengerjakan tugas maupun konflik dalam kerja kelompok dapat menjadi sumber stres yang perlu diperhatikan.
“Stres yang berlebihan itu bisa masuk ke dalam risiko itu sendiri,” ujar Fadhil.
Buku Manajemen Risiko K3 Burnout dengan Metode HIRARC disusun sebagai referensi yang dapat dipahami pembaca dari berbagai latar belakang. Materinya tidak hanya ditujukan bagi mahasiswa Teknik Industri, tetapi juga dapat menjadi pengenalan mengenai manajemen risiko K3 bagi pembaca umum.
Melalui bedah buku ini, peserta diajak memahami pentingnya mengenali potensi bahaya, menilai tingkat risiko, dan menentukan langkah pengendalian secara sistematis. Pembahasan tersebut menempatkan burnout sebagai salah satu persoalan yang dapat dikaji melalui perspektif manajemen risiko, terutama dalam aktivitas akademik yang memiliki beragam tuntutan. (ndr)














