Kanal24, Malang – Divisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Lingkungan (K3L) Universitas Brawijaya (UB) menyerahkan lima jenis alat pelindung diri (APD) kepada pengelola UB Forest untuk mendukung keselamatan petugas dalam menghadapi risiko kebakaran hutan. Penyerahan tersebut dilakukan dalam kegiatan koordinasi di Gedung Rektorat UB, Rabu (21/10/2026).
Perlengkapan yang diserahkan meliputi helm, kacamata pelindung, masker respirator, rompi berwarna oranye terang, dan sepatu tahan api. Dukungan ini diharapkan membantu petugas menghadapi risiko di lapangan sekaligus memperkuat kesiapsiagaan pengelola UB Forest.
Baca Juga:
K3L UB Bedah Metode HIRARC untuk Memetakan Risiko Burnout
K3L UB Perkuat Perlindungan Petugas
Kepala Divisi K3L UB, Prof. Dr. Ir. Qomariyatus Sholihah, S.T., M.Kes., ASEAN Eng., IPU., menjelaskan bahwa alat pelindung diri merupakan lapisan perlindungan terakhir dalam penerapan keselamatan dan kesehatan kerja. Karena itu, penyediaan APD perlu disertai langkah pencegahan untuk meminimalkan risiko kecelakaan selama petugas menjalankan tugas.

Menurutnya, perlengkapan tersebut disiapkan sebagai bentuk antisipasi terhadap berbagai potensi bahaya di kawasan hutan. Namun, keberadaan APD tidak boleh membuat upaya pencegahan kebakaran diabaikan. Pencegahan tetap menjadi prioritas agar petugas tidak perlu menghadapi situasi berbahaya akibat munculnya titik api.
“Besar harapan APD untuk UB Forest itu jangan sampai dipakai. Artinya, sukses karena tidak ada terjadinya kebakaran,” ujarnya.
Qomariyatus menjelaskan bahwa musim kemarau panjang, kelembapan udara yang rendah, serta faktor angin dapat meningkatkan risiko kebakaran. Dengan kawasan UB Forest yang dimanfaatkan sebagai ruang pendidikan dan penelitian, upaya menjaga keselamatan lingkungan menjadi bagian penting dalam mempertahankan fungsi kawasan tersebut.
UB Forest dimanfaatkan oleh mahasiswa, dosen, peneliti, hingga pihak internasional untuk berbagai kegiatan akademik. Oleh karena itu, perlindungan kawasan membutuhkan langkah preventif yang berjalan beriringan dengan kesiapan petugas dan dukungan perlengkapan keselamatan.
Lima Jenis APD Dukung Keselamatan
Dalam kegiatan tersebut, pengelola UB Forest menerima lima jenis perlengkapan pelindung, yakni helm, kacamata pelindung, masker respirator, rompi berwarna oranye terang, serta sepatu tahan api.
Setiap perlengkapan memiliki fungsi berbeda sesuai dengan potensi bahaya yang dihadapi petugas. Helm membantu melindungi kepala dari risiko benturan atau ranting yang jatuh, sedangkan kacamata pelindung membantu mengurangi paparan partikel dan gangguan lingkungan yang dapat memengaruhi penglihatan selama proses pemadaman.
Masker respirator disiapkan untuk membantu mengurangi paparan partikel berbahaya dari asap, dengan tingkat perlindungan bergantung pada jenis dan spesifikasi alat yang digunakan. Rompi berwarna oranye terang membantu meningkatkan visibilitas petugas di kawasan hutan. Sementara itu, sepatu tahan api ditujukan untuk membantu melindungi kaki ketika petugas harus mendekati titik kebakaran yang masih menyimpan bara panas.
Kepala UPT Pengelola Kawasan Hutan UB atau UB Forest, Dr. Mochammad Roviq, S.P., M.P., mengatakan bahwa keterbatasan APD sebelumnya menjadi salah satu kendala dalam proses pemadaman kebakaran. Petugas harus menghadapi paparan asap pekat dan panas dengan perlengkapan yang belum sepenuhnya memadai.

Menurut Roviq, penggunaan masker biasa belum cukup efektif ketika petugas berhadapan dengan asap pekat. Kondisi tersebut bahkan menyebabkan beberapa staf mengalami sesak napas. Selain itu, bara api yang tertinggal di dalam tanah juga berpotensi membahayakan petugas ketika menggunakan alas kaki yang tidak dirancang untuk menghadapi panas.
“Alhamdulillah, hari ini kami dibantu oleh K3L dan difasilitasi alat pelindung diri,” kata Roviq.
Ia berharap perlengkapan yang diterima dapat membantu meningkatkan keamanan dan kenyamanan petugas selama melakukan pemadaman. Ketersediaan APD juga diharapkan mendukung konsentrasi petugas ketika menghadapi kondisi yang berisiko di lapangan.
Kolaborasi Wujudkan Zero Accident
Penyerahan APD menjadi bagian dari upaya memperkuat koordinasi antara K3L UB dan pengelola UB Forest dalam mengantisipasi risiko kebakaran. Menurut Qomariyatus, perlindungan kawasan hutan tidak dapat dilakukan oleh satu unit saja, tetapi membutuhkan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan di lingkungan universitas.
Kolaborasi tersebut melibatkan pengelola UB Forest, DTUK, Green Campus, K3L, serta fakultas terkait, terutama Fakultas Kehutanan. Sinergi diperlukan agar upaya pencegahan, kesiapsiagaan, dan penanganan potensi bahaya dapat direncanakan secara terpadu.
Qomariyatus menegaskan bahwa seluruh pihak perlu memiliki visi yang sama dalam menjaga kawasan hutan agar tetap memberikan manfaat sosial, ekonomi, pendidikan, dan penelitian. Koordinasi yang baik juga diperlukan untuk memastikan langkah perlindungan tidak berhenti pada penyediaan perlengkapan, tetapi dilanjutkan melalui pengawasan dan penerapan prosedur keselamatan.
“Jadi, kita benar-benar harus berkolaborasi sehingga terwujudnya zero accident atau nol kecelakaan di UB Forest,” ujarnya.
Melalui penyerahan APD dan penguatan koordinasi tersebut, K3L UB bersama UB Forest berupaya meningkatkan perlindungan bagi petugas di lapangan. Dukungan perlengkapan diharapkan berjalan seiring dengan penerapan prosedur kerja yang aman dan langkah pencegahan kebakaran. Dengan demikian, keselamatan petugas dapat lebih diperhatikan sekaligus menjaga keberlanjutan UB Forest sebagai kawasan pendidikan dan penelitian. (gal)













